Tampilkan postingan dengan label breton woods. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label breton woods. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2013

SERI ERAMUSLIM DIGEST ( DOLLAR RESITANCE MOVEMENT )

DOLLAR RESITANCE MOVEMENT



Apa yang Anda ingat ketika mendengar nama Charles de Gaulle? Ada yang teringat pada bandara internasional dekat Paris yang cantik, ada yang mengingatnya sebagai seorang pemimpin tentara Perancis yang geto lmenggunakan tank dan pesawat tempur, dan ada pula yang mengenangnya sebagai kepala negara Perancis kelima. Namun tahukah Anda jika tokoh yang bernama lengkap Charles André Joseph Marie de Gaulle (22 November 1890 – 9 November 1970) ini merupakan tokoh dunia yang pertama kali secara terang-terangan menyerang hegemoni Dollar AS?

Usia Perang Dunia II, Perancis termasuk negara Eropa yang terkena getah Bretton Woods System yang digagas Amerika Serikat. Awalnya, Federal Reserve Bank hanya mencetak dan mengedarkan dollar yang diback-up oleh emas. Namun disebabkan lama-lama juga mencetak dollar lebih banyak ketimbang cadangan emas yang ada. Akibatnya timbul inflasi yang menggerus nilai tukar mata uang negara-negara lain yang mematok kursnya dengan dollar.

Hal ini terjadi di tahun 1960-an. Peningkatan pencetakan dollar secara agresif tersebut dengan mengabaikan pokok-pokok Bretton Woods, diduga akibat pembiayaan invasi AS ke Vietnam dan juga belanja program sosial Presiden AS Johnson. Robert Triffin, Profesor Yale University dan ekonom asal Belgia, menyebut fenomena ini dengan sebutan “Dollar Over Hang”. Kian hari Dollar Over Hang kian parah dan menimbulkan keresahan negara-negara yang mematok kurs mata uangnya dalam dollar AS.

Adalah Perancis yang pertama kali menyerukan agar Eropa dan negara-negara dunia lainnya yang mematok kurs mata uangnya dengan dollar untuk melawan hegemoni mata uang AS ini. Charles de Gaulle, seorang jenderal perang Perancis yang tengahmenjadi Presiden Perancis dengan berani mendesak AS untuk mengembalikan cadangan emas milik Perancis yang disimpannya di otoritas keuangan AS. Tidak tanggung-tanggung, De Gaulle menarik uang kertas dollar dari seluruh Perancis sebanyak 150 juta dollar AS dan memasukkannya ke dalam sebuah kapal laut dan mengirimnya kembali ke AS untuk ditukar dengan emas. Dan ini baru gelombang pertama. De Gaulle dengan tegas menyatakan akan mengirimkan kapal kedua yang juga memuat dollar AS dalam jumlah yang sama. Spanyol dengan cepat mengikuti Perancis dengan menukarkan 60 juta dollar AS ke dalam emas.

Tindakan berani Perancis yang kemudian diikuti oleh Spanyol ini dengan cepat memukul AS. Simpanan emas AS di Fort Knox berkurang secara drastis dan hanya menyisakan 15,1 miliar dollar AS. Pemerintah AS pun memutar otak untuk mengantisipasi rush ini dan akhirnya AS menyetujui proposal Johnson untuk mengurangi 25% emas yang dijadikan back-up dollar. Kian tahun kian parah. The Fed diam-diam terus mencetak dollar tanpa mengindahkan persediaan emasnya yang tidak mencukupi. Inflasi menggila dan akhirnya Presiden Richard Nixon pada Agustus 1971 menyerah dan secara sepihak mengakhiri prinsip Bretton Woods. Ini berarti sejak saat itu dollar diserahkan sepenuhnya ke pasar dan tidak lagi diback-up oleh emas. Ini berarti AS tidak lagi menjamin mata uang dollarnya sebagai surat hutang yang setiap saat bisa ditukar dengan emas. Sebagai gantinya, AS menggunakan kekuatan militernya dan pengaruh politisnya untuk menekan negara-negara lain agar mau percaya kepada dollar AS dan tetap menggunakan dollar sebagai patokan kurs mata uangnya.

Negara-negara Eropa telah berlepas diri dari Dollar AS dan menggunakan Euro sebagai mata uang Eropa pada tahun 2002. Hanya negara-negara pengecutlah yang masih mau menggunakan dollar AS sebagai patokan kurs mata uangnya. Dalam buku “Mindset!: Reset Your Thinking and See Your Future” (2006), futurology John Naisbitt yang oleh Barat dianggap sebagai salah satu “Dewa Ekonomi”nya memprediksi bahwa monopoli terakhir yang akan segera ditinggalkan oleh manusia adalah monopoli uang kertas yang dikeluarkan oleh suatu negara. Masyarakat, demikian
Naisbitt, tidak akan lagi percaya pada uang kertas dan pindah ke ‘mata uang privat’. Apa yang dimaksud Naisbitt sebagai mata uang privat? Yakni benda-benda riil yang memiliki nilai intrinsik di dalamnya. Walau Naisbitt tidak menyebut emas, namun dunia sudah paham bahwa emas-lah yang dimaksudnya.

Setahun kemudian, Nathan Lewis, seorang Senior Economist pada perusahaan Asset Management di New York dan juga kolumnis rubrik ekonomi di Financial Times dan The Wall Street Journal menulis sebuah buku berjudul Gold: The Once and Future Money” (John  Willey & Son, 2007). Buku yang terdiri dari tiga bagian utama ini membahas masalah uang dalam berbagai bentuknya, kemudian membahas sejarah uang Amerika Serikat, dan terakhir membahas krisis mata uang kertas di seluruh dunia, termasuk krisis moneter serius yang menimpa Indonesia dan Asia di akhir 1990-an.

Uniknya, walau sang penulis seorang pengamat ekonomi kapitalistik, namun Lewis dengan jujur berkesimpulan bahwa era uang kertas (Fiat Money) akan segera berakhir dan dunia akan kembali mempergunakan koin emas dan perak sebagai mata uangnya. “…era uang kertas perlahan akan berakhir; Dunia tidak punya pilihan lain kecuali kembali ke hard currency. Manfaat dari hard currency sungguh dahsyat. Sistem ini di masa depan akan berdasarkan emas, sama persis dengan yang terjadi dulu kala”.

Di AS sendiri, perlawanan terhadap hegemoni uang kertas sudah lama dilakukan oleh komunitas-komunitas dan berbagai organisasi. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan Liberty Dollar, sebuah koin emas dengan gambar timbul kepala patung  Liberty. Untuk lebih lengkapnya silakan klik libertydollar.org. Mereka mengetahui tipu daya uang kertas dan berupaya mengembalikan uang sejati yakni emas dan perak di AS.

SUMBER: Eramuslim Digest Edisi 8