Tampilkan postingan dengan label new world order. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label new world order. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2013

SERI ERAMUSLIM DIGEST 8 ( SIMBOL 666 MATA UANG BARU )

SIMBOL 666 MATA UANG BARU

Pernah nonton film Mel Gibson berjudul “Conspiracy Theory”? Film menarik yang dirilis tahun 1997 ini dalam satu bagiannya memuat keistimewaan barcode atau yang juga dinamakan kode batangan. Seperti namanya, barcode lazimnya berupa garis-garis vertikal yang berbeda ketebalannya, di mana di bawahnya terdapat 13 angka dan juga simbol 666 secara tersembunyi.

Dalam film tersebut, Mel Gibson yang berperan sebagai Jerry Fletcher, mantan “kelinci percobaan dari program mind-control” yang menjalani profesi sebagai supir taksi, tengah diburu CIA dan FBI. Dalam pelariannya, Jerry masuk ke toko buku dan membeli sebuah buku berjudul The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger. Oleh kasir, barcode tersebut dipindai oleh mesin scanning (pemindai), suatu hal yang sangat lazim. Nah, saat barcode  tersebut dipindailah, di suatu tempat, agen-agen intelijen AS yang memburu Jerry berhasil menemukan lokasi Jerry saat itu. Ada apa dengan barcode?

Barcode memiliki beberapa variasi. Namun yang paling umum digunakan untuk mengidentifikasi produk di seluruh dunia adalah yang terdiri dari 13 angka. Hebatnya lagi, selain 13 angka tersebut, secara tersembunyi ada angka 666 yang diwakili oleh garis paling kanan, tengah, dan kiri, yang terdiri dari dua garis tipis dan lebih panjang disbanding garis lainnya.

Mary Stewart Relfe, Ph.D, seorang pilot dan juga penelaah Alkitab asal Amerika dengan serius menelusuri latar belakang, motif, dan tujuan dipergunakannya sebuah  barcode dalam identifikasi produk. Hasil penelitiannya sungguh mengejutkan dan dituangkan dalam sebuah buku berjudul 666 & The New Money System (1982).

Stewart menegaskan jika sedari dulu hingga kini, ada satu rezim yang anti Tuhan yang bergerak secara amat rapi dan rahasia yang di hari akhir nanti berambisi untuk bisa menjadi tuan atas umat manusia dalam suatu tatanan dunia baru (The New World Order). Mereka bergerak dalam banyak bidang, terutama perdagangan dan keuangan, dan mereka inilah yang dengan sekuat tenaga memanipulasi nilai emas dan menukarnya dengan penggunaan uang kertas (Money Paper) yang sesungguhnya sama sekali tak bernilai.

Stewart yang merupakan seorang janda dari mendiang Dr. CB. Relfe, seorang dokter dari Montgomery AS ini, bahkan menemukan kesesuaian ramalan ini dengan satu ayat dalam Injil (Wahyu 13: 16-18) yang berbunyi:

Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain daripada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: Barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya adalah enam ratus enam puluh enam, 666”.

Dari Uang Kertas Menuju Chip

Secara garis besar, kelompok—atau dalam bahasa Stewart disebutnya sebagai ‘rezim’ ini—mengawali dengan memanipulasi emas dan perak, dan akan mengakhirinya dengan penggunaan micro-chip yang ditanamkan di bawah kulit manusia. Micro chip ini selain berisi data pribadi seseorang yang lengkap, juga memuat data rekening bank yang bias dipergunakan sebagai ‘alat pembayaran yang sah” tanpa perlu lagi memakai kartu kredit.

Jadi, micro chip yang terdiri dari kode garis yang tadinya tersimpan secara rahasia di bawah lapisan kartu kredit atau kartu debet, maka di masa depan kode-kode itu akan ditanamkan di bawah kulit manusia. Ada yang menyatakan di tanam di sekitar kening, antara mata, ada pula yang menyatakan telapak tangan bagian atas.

Stewart menulis, “Awalnya, penggunaan barcode hanya memiliki tujuan sebagai suatu sistem pengidentifikasian. Dan kedua, penulisan angka-angka identifikasi dalam bentuk sandi tersebut adalah untuk mempermudah transaksi ‘pembelian dan penjualan’.

Namun yang sangat menggelisahkan, cara penyebarannya ternyata sangat jauh melampaui fungsi dasarnya dalam perdagangan. Saya dapat melihat bahwa penerapan teknologi barcode yang diterapkan pertama kali pada produk barang, disusul kemudian pada kartu-kartu, akan berubah menjadi sesuatu yang mengerikan dalam masyarakat yang tidak lagi menggunakan uang kontan. Cara-cara ini, lewat penggabungan antara system identifikasi dengan sistem pembelian dan penjualan dalam satu nadi elektronik, akan menyebabkan satu rezim mampu mengendalikan kehidupan setiap umat manusia secara total.

Amerika Sebagai Perintis

Standarisasi uang kertas seluruh dunia awalnya mengacu pada Dollar AS. Sampai sekarang pun Dollar AS masih menjadi patokan bagi nilai tukar mata uang banyak negara, juga dalam perdagangan internasional, semisal barang tambang dan lain-lain.

Awal dari pemberlakuan uang plastik yang terdiri dari kartu kredit, kartu debet, dan sebagainya pun berawal dari negara ini. Dan bukan suatu hal yang kebetulan belaka jika pemberlakuan barcode dan micro-chip pun berasal dari sini. Hal ini selaras dengan lambang negara AS yang banyak sekali mengandung falsafah dari cita-cita rezim rahasia tersebut, seperti selogan Novus Orde Seclorum (Tatanan Dunia Baru), simbol 13 dan 666, serta piramida Illuminati yang terdiri dari 13 tingkatan.

“Awalnya, sistem itu diperkenalkan pada dasawarsa 1970-an di Amerika Serikat, pada barang-barang buatan pabrik; pada dasawarsa 1980-an, hal tersebut telah dijalankan di seluruh dunia. Sesuatu yang aneh dan janggal pada mulanya sekarang telah menjadi satu hal yang lazim,” ujar Stewart. Jika nenek atau orangtua kita berbelanja barang di tahun 1960 atau awal 1970-an, maka biasanya kasir akan mencatat barang-barang apa saja yang dibeli secara manual, atau harga yang ada di setiap barang sudah ada di dalam kepala sang kasir tanpa harus dicatat lagi, maka sekarang, sudah menjadi kelaziman jika kita membeli sesuatu di toko-toko, maka si  kasir akan melihat barcode dan melakukan pemindaian dengan sinar laser.

Penggunaan barcode dikatakan mampu mengendalikan kehidupan setiap umat manusia secara total adalah benar. Karena dengan terkumpulnya segala inf ormasi pembelian dan penjualan di suatu negara di server pusat barcode di AS, maka AS mampu membaca dengan baik bahwa negara A sangat tergantung dengan komoditas X, atau negara B sangat tergantung dengan komoditas G. Dengan adanya informasi ini maka AS bisa dengan sangat mudah mengendalikan suatu negara lewat “supply and demand” suatu produk. Jadi, pengendalian suatu negara dapat
dilakukan AS secara mudah, tanpa perlu repot mengirimkan tentara dan sebagainya.

Sumber: Eramuslim Digest Edisi 8

SERI ERAMUSLIM DIGEST 8 ( MESIN UANG ZIONIS DARI PERMANEN HINGGA ROKET )

MESIN UANG ZIONIS DARI PERMANEN HINGGA ROKET

Bukan rahasia lagi jika sepanjang sejarahnya, Konspirasi Yahudi Internasional senantiasa berupaya menghimpun emas dan logam serta batu mulia lainnya ke dalam pundi-pundi mereka. Sebagian ada yang digunakan sebagai alat untuk mencapai ambisi politik dan ekonomis mereka, dan sebagian besar disimpan sebagai kekuatan riil mereka. Dalam menghimpun seluruh kekayaannya, Konspirasi selalu menggunakan dalil tujuan menghalalkan cara. Bahkan di dalam kitab Talmud yang disucikan mereka melebihi Taurat Nabi Musa as, berkali-kali para sesepuh Yahudi yang mereka sangat hormati menganjurkan agar dalam perjuangannya kaum Yahudi berbuat kerusakan, kezaliman, curang, tipu daya, dan jika perlu menghilangkan nyawa kaum non-Yahudi (Gentiles atau Ghoyim) demi mencapai kepentingan kaum Yahudi.

Sejak lama hingga detik ini, Konspirasi Yahudi Internasional telah berusaha dengan gigih untuk bisa menguasai banyak sektor kehidupan, terutama bidang-bidang yang dianggap vital bagi pencapaian mereka menuju The New World Order, menuju satu tatanan dunia yang sama sekali baru, di mana tiada lagi perbedaan antar agama, dan kaum Yahudi menjadi pemimpin atau raja bagi segenap umat manusia yang harus melayaninya.

Mereka mengumpulkan emas dari seluruh negeri dan memasukkannya ke dalam gudang-gudang mereka, dan di saat bersamaan mereka merayu bangsa-bangsa di luar mereka untuk mau percaya pada kesaktian selembar kertas biasa yang dicetak dan ditulisi deretan angka, yang sesungguhnya sama sekali tidak bernilai. Mereka menciptakan kondisi tersebut selama ratusan tahun dan hasilnya sudah bisa kita lihat di hari-hari ini betapa mereka telah menjadi adi daya dunia yang mampu menindas dan menekan negaranegara lainnya dengan kekuatan riil yang mereka miliki yaitu emas dunia.

Sebab itulah, negara-negara Utara bisa hidup dalam kemakmuran, kekayaan, dan sekaligus keserakahannya, sedang negara-negara selatan hidup dalam kepapaan, kemiskinan, dan kebodohan. Utara bisa hidup demikian karena selama ratusan tahun dia telah menghisap segenap kekayaan alam negeri-negeri Selatan. Inilah yang disebut sebagai imperialisme dan kolonialisme.

Untuk mampu menggerakkan operasi dan menjalankan strateginya, Konspirasi Yahudi Internasional bagaikan seekor gurita raksasa yang memiliki banyak sekali tentakel, yang panjang dan menjulur ke segala penjuru negeri. Tentakel-tentakel ini berupa korporasi-korporasi multi nasional yang menjadi induk bagi perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, bahkan sampai ke tingkat lokal.

Ketua Persatuan Ulama Internasional, Dr. Yusuf Qaradhawi sangat memahami realitas ini sehingga di tahun 2000 dari mimbar Masjid Al-Umar di Qatar mengeluarkan fatwa haram bagi seorang Muslim membelanjakan uangnya untuk membeli produk produk dari korporasi yang terbukti mengalirkan sebagian labanya kepada Zionis-Israel.

Gerakan ini dikenal sebagai gerakan boikot produk-produk Zionis dan mendapat respon dari banyak aktivis kemanusiaan dunia, tidak saja Muslim Dunia, tapi juga para aktivis yang non-Muslim bergerak memboikot produk-produk Zionis tersebut. Akibatnya, beberapa perusahaan Israel nyaris bangkrut tidak sampai dua tahun setelah gerakan tersebut dimulai. Bahkan Israeli Industri Military (IMI), pabrik pembuat senjata dan amunisi tentara Israel, terpaksa melakukan perampingan dengan mem-PHKribuan pekerjanya, dan melakukan merger sejumlah unit usahanya. Maskapai penerbangan Israel, El-Al, juga mengurangi layanan terbangnya karena jumlah turis yang merosot ke Yerusalem.

Melihat hal tersebut, pemerintah Amerika Serikat menggalang dana besar-besaran untuk membantu Israel yang hampir kolaps. Tokoh Yahudi Amerika, Paul Wolfowitz, memelopori gerakan Stand With Israel. Paparan detil tentang gerakan boikot produk Zionis tersebut bisa disimak dalambuku “Ketika Rupiah Jadi Peluru Zionis” (Ridyasmara, Alkautsar, 2005). Bagi yang ingin melihat secara detil produk-produk Zionis apa saja yang terbukti membantu eksistensi Zionis-Israel, berikut fakta-fakta keterkaitannya, bisa pula mengklik www.inminds.co.uk di bagian Boycott Israel.

Dari data-data yang ada, maka Zionis Israel dan juga para Zionis yang bergerak dari seluruh dunia—termasuk Zionis Melayu seperti halnya kaum liberal—sepenuhnya dapat beroperasi menjalankan agendanya karena di back-up oleh dana-dana yang mengalir dari korporasi-korporasi ini. Dari perusahaan permen, hingga perusahaan mobil, pesawat terbang, bahkan hingga perusahaan roket.

SUMBER: Eramuslim Digest Edisi 8