Tampilkan postingan dengan label konspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konspirasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2013

SERI ERAMUSLIM DIGEST 8 ( SIMBOL 666 MATA UANG BARU )

SIMBOL 666 MATA UANG BARU

Pernah nonton film Mel Gibson berjudul “Conspiracy Theory”? Film menarik yang dirilis tahun 1997 ini dalam satu bagiannya memuat keistimewaan barcode atau yang juga dinamakan kode batangan. Seperti namanya, barcode lazimnya berupa garis-garis vertikal yang berbeda ketebalannya, di mana di bawahnya terdapat 13 angka dan juga simbol 666 secara tersembunyi.

Dalam film tersebut, Mel Gibson yang berperan sebagai Jerry Fletcher, mantan “kelinci percobaan dari program mind-control” yang menjalani profesi sebagai supir taksi, tengah diburu CIA dan FBI. Dalam pelariannya, Jerry masuk ke toko buku dan membeli sebuah buku berjudul The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger. Oleh kasir, barcode tersebut dipindai oleh mesin scanning (pemindai), suatu hal yang sangat lazim. Nah, saat barcode  tersebut dipindailah, di suatu tempat, agen-agen intelijen AS yang memburu Jerry berhasil menemukan lokasi Jerry saat itu. Ada apa dengan barcode?

Barcode memiliki beberapa variasi. Namun yang paling umum digunakan untuk mengidentifikasi produk di seluruh dunia adalah yang terdiri dari 13 angka. Hebatnya lagi, selain 13 angka tersebut, secara tersembunyi ada angka 666 yang diwakili oleh garis paling kanan, tengah, dan kiri, yang terdiri dari dua garis tipis dan lebih panjang disbanding garis lainnya.

Mary Stewart Relfe, Ph.D, seorang pilot dan juga penelaah Alkitab asal Amerika dengan serius menelusuri latar belakang, motif, dan tujuan dipergunakannya sebuah  barcode dalam identifikasi produk. Hasil penelitiannya sungguh mengejutkan dan dituangkan dalam sebuah buku berjudul 666 & The New Money System (1982).

Stewart menegaskan jika sedari dulu hingga kini, ada satu rezim yang anti Tuhan yang bergerak secara amat rapi dan rahasia yang di hari akhir nanti berambisi untuk bisa menjadi tuan atas umat manusia dalam suatu tatanan dunia baru (The New World Order). Mereka bergerak dalam banyak bidang, terutama perdagangan dan keuangan, dan mereka inilah yang dengan sekuat tenaga memanipulasi nilai emas dan menukarnya dengan penggunaan uang kertas (Money Paper) yang sesungguhnya sama sekali tak bernilai.

Stewart yang merupakan seorang janda dari mendiang Dr. CB. Relfe, seorang dokter dari Montgomery AS ini, bahkan menemukan kesesuaian ramalan ini dengan satu ayat dalam Injil (Wahyu 13: 16-18) yang berbunyi:

Dan ia menyebabkan, sehingga kepada semua orang, kecil atau besar, kaya atau miskin, merdeka atau hamba, diberi tanda pada tangan kanannya atau pada dahinya, dan tidak seorang pun yang dapat membeli atau menjual selain daripada mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang itu atau bilangan namanya. Yang penting di sini ialah hikmat: Barangsiapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya adalah enam ratus enam puluh enam, 666”.

Dari Uang Kertas Menuju Chip

Secara garis besar, kelompok—atau dalam bahasa Stewart disebutnya sebagai ‘rezim’ ini—mengawali dengan memanipulasi emas dan perak, dan akan mengakhirinya dengan penggunaan micro-chip yang ditanamkan di bawah kulit manusia. Micro chip ini selain berisi data pribadi seseorang yang lengkap, juga memuat data rekening bank yang bias dipergunakan sebagai ‘alat pembayaran yang sah” tanpa perlu lagi memakai kartu kredit.

Jadi, micro chip yang terdiri dari kode garis yang tadinya tersimpan secara rahasia di bawah lapisan kartu kredit atau kartu debet, maka di masa depan kode-kode itu akan ditanamkan di bawah kulit manusia. Ada yang menyatakan di tanam di sekitar kening, antara mata, ada pula yang menyatakan telapak tangan bagian atas.

Stewart menulis, “Awalnya, penggunaan barcode hanya memiliki tujuan sebagai suatu sistem pengidentifikasian. Dan kedua, penulisan angka-angka identifikasi dalam bentuk sandi tersebut adalah untuk mempermudah transaksi ‘pembelian dan penjualan’.

Namun yang sangat menggelisahkan, cara penyebarannya ternyata sangat jauh melampaui fungsi dasarnya dalam perdagangan. Saya dapat melihat bahwa penerapan teknologi barcode yang diterapkan pertama kali pada produk barang, disusul kemudian pada kartu-kartu, akan berubah menjadi sesuatu yang mengerikan dalam masyarakat yang tidak lagi menggunakan uang kontan. Cara-cara ini, lewat penggabungan antara system identifikasi dengan sistem pembelian dan penjualan dalam satu nadi elektronik, akan menyebabkan satu rezim mampu mengendalikan kehidupan setiap umat manusia secara total.

Amerika Sebagai Perintis

Standarisasi uang kertas seluruh dunia awalnya mengacu pada Dollar AS. Sampai sekarang pun Dollar AS masih menjadi patokan bagi nilai tukar mata uang banyak negara, juga dalam perdagangan internasional, semisal barang tambang dan lain-lain.

Awal dari pemberlakuan uang plastik yang terdiri dari kartu kredit, kartu debet, dan sebagainya pun berawal dari negara ini. Dan bukan suatu hal yang kebetulan belaka jika pemberlakuan barcode dan micro-chip pun berasal dari sini. Hal ini selaras dengan lambang negara AS yang banyak sekali mengandung falsafah dari cita-cita rezim rahasia tersebut, seperti selogan Novus Orde Seclorum (Tatanan Dunia Baru), simbol 13 dan 666, serta piramida Illuminati yang terdiri dari 13 tingkatan.

“Awalnya, sistem itu diperkenalkan pada dasawarsa 1970-an di Amerika Serikat, pada barang-barang buatan pabrik; pada dasawarsa 1980-an, hal tersebut telah dijalankan di seluruh dunia. Sesuatu yang aneh dan janggal pada mulanya sekarang telah menjadi satu hal yang lazim,” ujar Stewart. Jika nenek atau orangtua kita berbelanja barang di tahun 1960 atau awal 1970-an, maka biasanya kasir akan mencatat barang-barang apa saja yang dibeli secara manual, atau harga yang ada di setiap barang sudah ada di dalam kepala sang kasir tanpa harus dicatat lagi, maka sekarang, sudah menjadi kelaziman jika kita membeli sesuatu di toko-toko, maka si  kasir akan melihat barcode dan melakukan pemindaian dengan sinar laser.

Penggunaan barcode dikatakan mampu mengendalikan kehidupan setiap umat manusia secara total adalah benar. Karena dengan terkumpulnya segala inf ormasi pembelian dan penjualan di suatu negara di server pusat barcode di AS, maka AS mampu membaca dengan baik bahwa negara A sangat tergantung dengan komoditas X, atau negara B sangat tergantung dengan komoditas G. Dengan adanya informasi ini maka AS bisa dengan sangat mudah mengendalikan suatu negara lewat “supply and demand” suatu produk. Jadi, pengendalian suatu negara dapat
dilakukan AS secara mudah, tanpa perlu repot mengirimkan tentara dan sebagainya.

Sumber: Eramuslim Digest Edisi 8

SERI ERAMUSLIM DIGEST 8 ( DARI DINAR KE UANG KERTAS )

DARI DINAR KE UANG  KERTAS

Dinar-Dirham telah digunakan masyarakat Muslim sejak zaman Rasulullah SAW hingga tumbangnya kekhalifahan Turki Utsmaniyah (1924). Setelah itu tiap negara menerbitkan uang kertasnya masing-masing, menandai terpecah-belahnya kekhalifahan Islam.

Sebelum Islam datang, emas-perak telah digunakan bangsa Persia, Romawi, Israel, Yunani, Mesir kuno, Nabataens dan Tubba (Yaman), dan dilanjutkan di berbagai kekhalifahan seperti Ummayah di Suriah dan Spanyol, Abbasiyah, ‘Alawiyah di Tabaristan, Maghrib, Mesir, Suriah dan Yaman, Dinasti Turki Saljuq, pemerintahan Daylam, Mongolia, Dinasti Kurdi di Mesir, Syria, dan Diyr Bakr, pemerintahan Turki di Mesir.

- Di masa Rasulullah SAW digunakan koin emas dan perak yang telah dibuat bangsa Romawi dan Persia dan telah digunakan sejak sebelum Islam
.
- Di masa Umar bin Khattab ra (634-644 M), ditetapkan perbandingan standar bobot dirham perak dengan dinar emas yakni 10 : 7 (1 mithqal). Di masa awal Islam, perbandingan nilai tukar emas dengan perak adalah sekitar 1 : 20.

- Di masa Usman bin Affan ra (644-656 M), dicetak koin yang meniru dirham perak Sassanian Yezdigird III. Dalam koin itu telah tertera tulisan “Bismillah”.

- Tahun 683-684 M, pertama kali berkurangnya nilai dirham oleh ‘Ubayd Alih ibn Ziyad dengan dicampurnya logam lain.

- Masa kekhalifahan Khalifah Abdalmalik, 74 H, dicetak koin emas berbobot 4,4 gr dengan tulisan “Dinar” tertera di atasnya.

- Tahun 77 H, dicetak lagi dinar yang bobotnya berubah menjadi 4,25 gr, mengikuti standar Khalifah Umar bin Khattab ra.

- Tahun 698 M, masih masa kekhalifahan Abdalmalik, dicetak koin perak dengan tulisan “Dirham” tertera di atasnya, berbobot 2.975 gr dan berdiameter 25-28 mm.

- Mesir, masa Sultan al-Kamil, fulus (koin tembaga) dicetak pertama kali di Mesir.

- Abad 11, Italia. Uang-kertas mulai diedarkan dengan sangat terbatas di kalangan pedagang dan bankir Yahudi Italia.

- Tahun 1294 M, uang-kertas coba diterbitkan menteri Ilkhan Gaikhatu dengan mencontoh uang-kertas Cina, untuk mendanai tekornya pengeluaran.

- Tahun 694-696 H/ 1295-1297 M, Mesir. terjadi pemotongan nilai fulus , dengan cara dicetaknya fulus baru yang bobotnya lebih ringan, karena ketamakan vizir Fakhr al-Din ‘Umar ibn ‘Abd al-’Aziz al-Khalil dan anggota sultan yang lain. Namun karena itu pula, sejak itu fulus dinilai berdasarkan  bobotnya dan bobot 1 ratl fulus setara dengan bobot 2 dirham perak.

- Abad 13, perubahan pasar menyebabkan spekulasi perbandingan nilai tukar emas dengan perak menjadi 1:10 meski nilai tukar resmi tetap 1:20.

- Akhir abad 14, nilai perak meningkat, karena permintaan perak meningkat di Italia, sedangkan stok perak di percetakan menurun secara bertahap (1380 M).

- Tahun 784-801 H/ 1382-1399 M, Mesir. Selama pemerintahan Sultan Barq, peredaran fulus makin meluas karena kelangkaan perak. Saat beliau wafat, nilai tukar dinar terhadap dirham menguat dari 1:23 menjadi 1:30.

- Tahun 1408 M. Genoa, Italia. Sekelompok bankir dan ahli keuangan Yahudi membentuk bank bersama, yakni the Casa di San Giorgio . Genoalah yang pertama membangun sistem bill of exchange sebagai mekanisme monopoli kredit dan menyamarkan riba. Sistem ini lalu ditularkan ke seluruh Eropa. Awal abad 15, ketenaran dirham perak berkurang. Abad 15, akibat perang salib suku bunga meningkat menjadi 18-25%.

- Tahun 1425 M, Mesir. Sultan Barsbay memotong nilai dinar, dari 4.25 gr menjadi 3.45 gr (bobot mata uang emas Eropa), dan tetap menjadi uang emas di Mesir hingga akhir pemerintahan Mamluk. Dengan demikian standar uang mulai berubah dari Muslim ke Eropa.

- Abad 15, uang-kertas beredar meluas ke Napel, Swedia, Köln, Wina, dan Granada.

- Tahun 1694 M, bank sentral pertama yakni Bank of England didirikan William Paterson. Ia lalu meminjamkan kekayaan banknya dengan bunga kepada William of Orange, raja Inggris, untuk membiayai perang melawan Prancis. Ketika meruak kabar yang menyatakan bahwa sebenarnya jumlah emas yang dimiliki bank tersebut tak cukup bagi seluruh kerajaan, pemerintah lalu mengeluarkan undang-undang yang mengesahkan kuitansi sebagai uang yang nilainya setara dengan emas yang diwakilinya. Sejak itu kuitansi utang menjadi alat tukar sah.

- Tahun 1720 M, uang-kertas kembali dicoba diedarkan di Perancis.

- Tahun 1760-an M, Amsterdam. Krisis uang-kertas diikuti kebangkrutan setelah perang 7 tahun di Belanda (1756-1763). Seperti halnya di Genoa, di Amsterdam kebangkrutan terjadi karena diciptakannya kredit dari nihil dan tak disokong uang nyata (emas-perak), dan kredit tumbuh dengan proporsi tak teratur, serta pinjaman yang buruk.

- Tahun 1773 M, Inggris bangkrut dengan utang 5 juta florin (mata uang logam Inggris-red.). Pasar saham berhenti dan perusahaan lain tutup. Yang bisa bertahan adalah yang memiliki uang nyata/emas.

- Tahun 1816 M. Inggris kembali ke standar emas, namun saat itu uangkertas telah diterbitkan bank. Emas dan perak tak lagi menjadi mata uang utama. Untuk membiayai perang melawan Prancis, Pitt membujuk parlemen Inggris mengesahkan Bank Restriction Act , yakni untuk sementara uangkertas tak bisa ditukar ke emas-perak, dan ini tetap berlangsung selama 24 tahun!

- Tahun 1835, Joel putra Schutzjude Moses Hirsch (Yahudi yang dilindungi penguasa), mendirikan bank hipotek pertama dengan Rothschilds sebagai pemegang saham utama.

- Tahun 1840 dan 1842, Turki. Uang-kertas (Kaime-I Mutebere) mulai diterbitkan di Turki.

- Tahun 1845 M, Turki. Pemerintahan Usmaniya bersama Mm. Alléon dan Théodore Baltazzi mendirikan Bank of Constantinople , yang ternyata untuk memberikan pinjaman kepada pemerintah! Perang Semenanjung Krim (Uni Soviet) menjadi alasan masuknya perbankan ke dalam Daulat Usmaniya dan bankir Eropa memainkan tipuan dan kejahatan terbesarnya yakni investasi. Investor ‘Perancis’ pertama yang masuk adalah Rothschilds, namun pemerintah telah mengizinkan dibangunnya Ottoman Bank dengan modal dasar 500 ribu poundsterling.

- Tahun 1856 M, Turki. Berdirinya Ottoman Bank (Osmanli Bankasi) dengan misterius.

- Tahun 1861 M, Turki. Crédit Mobilier (organisasi Péreire bersaudara) mendirikan Imperial Ottoman Bank .

- Mayor Evelyn Baring, putra Lord Revelstoke dan anggota Baring’s Bank (Yahudi Lithuania), dikirim ke Mesir sebagai perwakilan dan Konsul Jendral Inggris. Evelyn Baring lalu dikenal juga sebagai Lord Cromer.

- Tahun 1898 M, Mesir. University of Al-Azhar mengharamkan perbankan.

- Tahun 1899 M, Mesir. Muhammad Abduh ditunjuk sebagai mufti besar dan direktur University of Al-Azhar oleh Lord Cromer untuk mengesahkan perbankan. Ernest Cassel mendirikan National Bank of Egypt dengan modal awal £1 juta, direkturnya terdiri dari bankir Yahudi setempat dan Carl Meyer (Rothschilds), Vincent Caillard (saudara D’Israeli, komisionaris Ottoman Public Debt Administration), dan Victor Harari.

- Tahun 1900, Kairo-Mesir. Post Office Savings Bank berdiri.

- Tahun 1902, Kairo-Mesir. Agricultural Bank berdiri, berkat bantuan National Bank di bawah Cromer. Setelah 3 tahun saham nominal £5 telah meningkat menjadi £800.

- 5 Desember 1903, Mesir. Fatwa Muhammad Abduh dalam “Al-Manar”, vol. VI, bab 18, hal. 717, sebagai berikut: “The stipulated usury is not permissible in any case; whereas the Post Office invests monies taken from the people, which are not taken as loans based on need, it would be possible to apply the investment of such monies on the rules of a partnership in commendan.”

- National Bank of Morocco berdiri. Atas prestasinya Cassel dianugerahi Legion of Honour dan sebidang tanah 100.000 acre di Maroko. Dolar AS, uang-kertas (fiat money), diterbitkan Federal Reserve Bank (yang dikuasai Yahudi) di Amerika Serikat.

- Tahun 1930. Amerika Serikat menghisap Eropa dengan menginginkan dibayarnya utang perang, dan baru berakhir Desember 1933 (The Hoover Moratorium). Sejak itu emas mengalir ke Amerika Serikat.

- 1944 Perjanjian Bretton Wood yang melahirkan IMF dan World Bank. Dengan perjanjian ini mata uang dunia dikaitkan satu sama lain dan terikat dengan dolar AS yang nilainya secara tetap dijamin dalam emas.

- 1971, Richard Nixon (Presiden AS) menghentikan secara sepihak Perjanjian Bretton Wood. Dengan berakhirnya perjanjian ini dimana setiap troy ounce emas setara dengan US$ 35, berarti dolar AS dan mata uang dunia lainnya tak lagi dijamin dengan emas.

- 1991. Lahir Fatwa atas Uang-Kertasyang melarang digunakannya uang kertas sebagai alat tukar.

- 1992, Spanyol. Dinar-dirham ,mengikuti standar ‘Umar ibn al- Khattab, kembali dicetak.

- 2000. Koin Dinar dan Dirham di Cetak Kembali oleh Murabitun Nusantara dan terus bergulir ke berbagai kaum Muslim hingga hari ini.

- 2001. Per ons emas kira-kira US$ 274. Berarti dalam kurun 30 tahun, sejak 1971, depresiasi dolar AS terhadap emas hampir 800%!

- 2003. Nilai tukar dinar-dirham kini berkisar 1:36, selama lebih dari 1400 tahun kenaikan nilai emas terhadap perak tak lebih dari 200%.

- 2004, Islamic Gold Dinar (IGD) akan digunakan sebagai alat pembayaran dalam perdagan

EDISI ERAMUSLIM DIGEST ( MESIN UANG BAWAH TANAH )

Mesin Uang Bawah Tanah

Selain memliki jaringan mesin uang yang terlihat legal, Zionis atau Konspirasi Yahudi Internasional ini juga didanai oleh sumber finansil yang berasal dari dunia hitam alias dunia bawah tanah seperti dari jaringan MAFIA yang memang dalam sejarahnya didirikan oleh tokoh-tokoh Yahudi Italia, salah satunya bernama Guiseppe Mazzini, jaringan perdagangan obat bius, jaringan perjudian, jaringan prostitusi, jaringan PMC (Privat Military Company) alias perusahaan tentara swasta (Soldier of Fortune), jaringan perdagangan gelap, dan lain sebagainya.

Nominal uang yang beredar dari jaringan gelap ini sungguh luar biasa besarnya. Dan bukan hal yang kebetulan jika dalam banyak hal, jaringan-jaringan gelap ini diwarisi dari masa Templar di abad pertengahan, seperti jaringan MAFIA, tentara swasta, perjudian, obat-obat bius, prostitusi, dan lain-lain.

Dalam artikel Jewish Professor Says Porn Industry is a Weapon used by Jews Against Gentiles (Profesor Yahudi Mengatakan Industri Pornografi Yahudi merupakan Senjata untuk Menghancurkan Non-Yahudi) yang dimuat dalam situs davidduke.com, Profesor Nathan Abrams menyatakan bahwa kaum Yahudi merupakan dalang atau raja bisnis prostitusi seluruh dunia.

“Bangsa Yahudi menggunakan senjata prostitusi dan juga pornografi untuk mengubah nilai-nilai moral Eropa yang awalnya ketat dalam tradisi kristianitinya menjadi begitu bebas. Apa yang dilakukan di Eropa juga dilakukan di hampir seluruh dunia,” demikian artikel tersebut.

Bisnis prostitusi di sini merupakan bisnis yang terentang dalam bidang yang luas, dari usaha prostitusi jalanan, prostitusi antara negara, hingga prostitusi kalangan elit dunia, seperti jasa penyediaan pelacur-pelacur kelas atas bagi tamu negara maupun bagi pemimpin-pemimpin suatu negara. Dan biasanya, jenis pelacur kelas atas yang disediakan untuk para tokoh suatu negara, bukan sembarangan orang, melainkan kebanyakan terdiri dari agen-agen dinas rahasia MOSSAD dan sebagainya yang berupaya mengorek keterangan rahasia dari sang lawan dari tempat tidur.

Bukan tokoh-tokoh negara yang dianggap lawan oleh Israel saja yang dijadikan sasaran, namun juga para presiden dan politisi AS sendiri. Sehingga di Amerika dikenal adanya istilah “Swallow” dan “Romeo”. Swallow merupakan sebutan para pelacur sekaligus agen rahasia perempuan, sedangkan “Romeo” untuk menyebut para spionase-pelacur laki-laki. Presiden Bill Clinton merupakan salah satu tokoh AS yang kerap terlibat affair dengan  orang-orang seperti ini.

Mesin uang Konspirasi Yahudi Internasional memang dahsyat. Dan satu hal yang paling mereka takuti adalah ketika umat manusia sudah tidak lagi percaya kepada uang kertas dan menukarkan uang kertasnya dengan emas yang sesungguhnya. Ini sesuatu yang paling mereka cemaskan. Sebab itu, untuk melawan hegemoni mereka, sudah saatnya kita semua mengakhiri penggunaan uang kertas dalam jumlah besar dan memilih  berinvestasi dalam bentuk dinar-dirham. Sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW.

SUMBER: Eramuslim Digest Edisi 8

SERI ERAMUSLIM DIGEST 8 ( MESIN UANG ZIONIS DARI PERMANEN HINGGA ROKET )

MESIN UANG ZIONIS DARI PERMANEN HINGGA ROKET

Bukan rahasia lagi jika sepanjang sejarahnya, Konspirasi Yahudi Internasional senantiasa berupaya menghimpun emas dan logam serta batu mulia lainnya ke dalam pundi-pundi mereka. Sebagian ada yang digunakan sebagai alat untuk mencapai ambisi politik dan ekonomis mereka, dan sebagian besar disimpan sebagai kekuatan riil mereka. Dalam menghimpun seluruh kekayaannya, Konspirasi selalu menggunakan dalil tujuan menghalalkan cara. Bahkan di dalam kitab Talmud yang disucikan mereka melebihi Taurat Nabi Musa as, berkali-kali para sesepuh Yahudi yang mereka sangat hormati menganjurkan agar dalam perjuangannya kaum Yahudi berbuat kerusakan, kezaliman, curang, tipu daya, dan jika perlu menghilangkan nyawa kaum non-Yahudi (Gentiles atau Ghoyim) demi mencapai kepentingan kaum Yahudi.

Sejak lama hingga detik ini, Konspirasi Yahudi Internasional telah berusaha dengan gigih untuk bisa menguasai banyak sektor kehidupan, terutama bidang-bidang yang dianggap vital bagi pencapaian mereka menuju The New World Order, menuju satu tatanan dunia yang sama sekali baru, di mana tiada lagi perbedaan antar agama, dan kaum Yahudi menjadi pemimpin atau raja bagi segenap umat manusia yang harus melayaninya.

Mereka mengumpulkan emas dari seluruh negeri dan memasukkannya ke dalam gudang-gudang mereka, dan di saat bersamaan mereka merayu bangsa-bangsa di luar mereka untuk mau percaya pada kesaktian selembar kertas biasa yang dicetak dan ditulisi deretan angka, yang sesungguhnya sama sekali tidak bernilai. Mereka menciptakan kondisi tersebut selama ratusan tahun dan hasilnya sudah bisa kita lihat di hari-hari ini betapa mereka telah menjadi adi daya dunia yang mampu menindas dan menekan negaranegara lainnya dengan kekuatan riil yang mereka miliki yaitu emas dunia.

Sebab itulah, negara-negara Utara bisa hidup dalam kemakmuran, kekayaan, dan sekaligus keserakahannya, sedang negara-negara selatan hidup dalam kepapaan, kemiskinan, dan kebodohan. Utara bisa hidup demikian karena selama ratusan tahun dia telah menghisap segenap kekayaan alam negeri-negeri Selatan. Inilah yang disebut sebagai imperialisme dan kolonialisme.

Untuk mampu menggerakkan operasi dan menjalankan strateginya, Konspirasi Yahudi Internasional bagaikan seekor gurita raksasa yang memiliki banyak sekali tentakel, yang panjang dan menjulur ke segala penjuru negeri. Tentakel-tentakel ini berupa korporasi-korporasi multi nasional yang menjadi induk bagi perusahaan-perusahaan yang lebih kecil, bahkan sampai ke tingkat lokal.

Ketua Persatuan Ulama Internasional, Dr. Yusuf Qaradhawi sangat memahami realitas ini sehingga di tahun 2000 dari mimbar Masjid Al-Umar di Qatar mengeluarkan fatwa haram bagi seorang Muslim membelanjakan uangnya untuk membeli produk produk dari korporasi yang terbukti mengalirkan sebagian labanya kepada Zionis-Israel.

Gerakan ini dikenal sebagai gerakan boikot produk-produk Zionis dan mendapat respon dari banyak aktivis kemanusiaan dunia, tidak saja Muslim Dunia, tapi juga para aktivis yang non-Muslim bergerak memboikot produk-produk Zionis tersebut. Akibatnya, beberapa perusahaan Israel nyaris bangkrut tidak sampai dua tahun setelah gerakan tersebut dimulai. Bahkan Israeli Industri Military (IMI), pabrik pembuat senjata dan amunisi tentara Israel, terpaksa melakukan perampingan dengan mem-PHKribuan pekerjanya, dan melakukan merger sejumlah unit usahanya. Maskapai penerbangan Israel, El-Al, juga mengurangi layanan terbangnya karena jumlah turis yang merosot ke Yerusalem.

Melihat hal tersebut, pemerintah Amerika Serikat menggalang dana besar-besaran untuk membantu Israel yang hampir kolaps. Tokoh Yahudi Amerika, Paul Wolfowitz, memelopori gerakan Stand With Israel. Paparan detil tentang gerakan boikot produk Zionis tersebut bisa disimak dalambuku “Ketika Rupiah Jadi Peluru Zionis” (Ridyasmara, Alkautsar, 2005). Bagi yang ingin melihat secara detil produk-produk Zionis apa saja yang terbukti membantu eksistensi Zionis-Israel, berikut fakta-fakta keterkaitannya, bisa pula mengklik www.inminds.co.uk di bagian Boycott Israel.

Dari data-data yang ada, maka Zionis Israel dan juga para Zionis yang bergerak dari seluruh dunia—termasuk Zionis Melayu seperti halnya kaum liberal—sepenuhnya dapat beroperasi menjalankan agendanya karena di back-up oleh dana-dana yang mengalir dari korporasi-korporasi ini. Dari perusahaan permen, hingga perusahaan mobil, pesawat terbang, bahkan hingga perusahaan roket.

SUMBER: Eramuslim Digest Edisi 8

SERI ERAMUSLIM DIGEST 8 ( TEMPLAR DAN KONSPIRASI TERHADAP EMAS )

TEMPLAR DAN  KONSPIRASI TERHADAP EMAS


Sejak berabad silam, emas telah mendapat tempat yang sangat istimewa dalam pergaulan hidup antar manusia. Logam mulia ini memiliki sejumlah keistimewaan yang tidak bisa diperoleh dari logam-logam lainnya yang ada di alam semesta. Sebab itu, sejak lama logam mulia ini telah menjadi patokan bagi perdagangan antar komunitas, antar wilayah, dan kemudian antar negara.

Keistimewaan emas menimbulkan sifat tamak dan serakah pada sebagian manusia. Sebab itu, manusia-manusia seperti ini menyusun satu strategi agar hanya mereka saja yang menguasai emas dan untuk manusia lainnya cukup dengan secarik kertas yang “dijamin” oleh cadangan emas mereka. Dan al-Qur’an telah berkali-kali menyatakan bahwa bangsa Yahudi-lah yang mula-mula dan selalu berbuat kerusakan di muka bumi hingga akhir zaman.

Sejarah mencatat, Usury merupakan lembaga keuangan pertama di dunia yang memiliki sistem yang secara esensi sama dan masih berlaku hingga hari ini, yang dijalankan oleh dunia perbankan konvensional. Usury sendiri memiliki arti sebagai “riba” alias “bunga”. Di depan, kita telah sedikit menyinggung peran Templar dalam mendirikan Usury. Secara singkat bisa dijabarkan sebagai berikut: Ketika Templar berkuasa di Yerusalem setelah jatuh di tahun 1099, para pangeran, bangsawan, dan tuan tanah dari Eropa kian banyak yang berziarah di tanah suci tersebut.

Awalnya, para peziarah ini membawa serta emas perhiasannya dalam perjalanan agar mereka tidak ditimpa kesulitan untuk membayar ini dan itu. Namun pada kenyataannya, seringkali mereka di tengah jalan dirampok para bandit atau kerepotan dalam membawa harta bendanya.

Templar yang memang dikenal sebagai kelompok yang rakus dan serakah, karena motivasi mereka mengobarkan perang salib pun sesungguhnya dengan niat untuk mencari harta karun King Solomon yang konon tersimpan di bawah Haikal di Yerusalem, melihat celah bisnis dari masalah para peziarah ini. Mereka kemudian berpikir keras dan menemukan jalan keluar yakni dengan membentuk lembaga simpan-pinjam pertama di dunia bernama Usury.
Mekanisme sederhananya adalah: para peziarah Eropa yang hendak menuju

Yerusalem diminta untuk menitipkan emasnya di Usury. Dengan wewenang Templar yang diakui Paus sebagai penjaga rute para peziarah dari Eropa hingga Yerusalem, maka Templar bisa melakukan ‘pemaksaan’ terhadap mereka. Sebagai tanda terima penitipan hartanya, para peziarah itu diberi secarik kertas bersandi yang menyatakan
bahwa sang peziarah memiliki cadangan emas dengan jumlah tertentu dan surat itu bias dipergunakan sebagai jaminan atas segala barang dan ongkos yang mungkin keluar dalam perjalanan ziarahnya. Di Yerusalem atau sekembalinya di Eropa, kertas bersandi itu bisa ditukarkan dengan cadangan emasnya lagi, tentunya setelah dikurangi segala ongkos yang timbul, termasuk biaya adminsitrasi Usury, sesuai catatan Templar.

Dalam sistem perbankan konvensional modern sekarang ini, surat bersandi Templar itu bisa disamakan dengan surat hutang atau Promis, yang sampai saat ini juga memiliki ‘sandi-sandi’ tertentu, antara lain berupa kode atau nomor. Dalam bentuk jamak, promis atau surat hutang inilah yang kemudian berkembang menjadi uang kertas (Paper Money atau Fiat Money).

Awalnya Usury hanya berupa lembaga penitipan emas. Namun lama-kelamaan, dari sifat rakus dan serakah para Templar timbul pemikiran untuk bisa menguasai emas yang dititipkan dan untuk para pemiliknya hanya diberi surat berharga yang dijamin oleh jumlah emas yang dititipkannya dan emas itu (katanya) bisa diambil sewaktu-waktu. Inilah uang kertas pertama yang tentu saja berproses dalam jangka waktu yang lama.

Dengan berjalannya waktu dan kian banyaknya surat berharga atau surat jaminan hutang beredar yang fungsinya sekarang bisa disamakan dengan uang kertas atau yang lebih praktis lagi bisa disamakan dengan kartu debet, masyarakat kian yakin jika mereka dapat melakukan jual beli hanya dengan menggunakan kertas tersebut. Hal tersebut bisa berjalan karena para pemilik kertas berharga dan pedagang telah percaya bahwa mereka dapat mengambil koin emas di tempat penitipan (Usury) atau yang sekarang disebut Bank sesuai jumlah yang tertera di kertas berharga tersebut.

Singkatnya, mereka percaya jika surat berharga itu memang diback-up oleh cadangan emas yang sesuai dan riil. Sampai dengan titik ini, mekanisme keuangan memang tidak ada masalah karena nilai yang tertera di surat hutang sesuai dengan jumlah nilai emas yang dititipkan.

Orang bijak berkata bahwa keserakahan itu bagai meminum air laut, yang bila diminum maka makin haus. Maka sang pemilik lembaga penitipan emas, pewaris Templar, pun berpikir bahwa untuk menambah laba dari usahanya, maka sebenarnya mereka bisa mencetak surat berharga banyak-banyak melebihi jumlah emas yang dititipkan,
karena tidak mungkin para pemilik emas akan menarik semua emasnya dalam waktu yang bersamaan. Faktor judi ada di sini.

Maka dimulailah upaya mencetak surat-surat berharga (nota kosong) yang sesungguhnya tidak lagi dudukung oleh emas, dan diberikan kepada pihak-pihak yang memerlukan modal untuk usahanya (kredit). Para pewaris Templar ini telah menciptakan uang dari udara kosong. Dari nota kosong atau kredit itu, selain menarik ongkos administrasi, mereka juga menarik bunga yang disebutnya biaya atas jasa kreditnya.

Mekanisme pasar pun bekerja. Karena jumlah surat hutang yang beredar melebihi jumlah emas yang sesungguhnya, maka timbul efek inflasi. Harga-harga komoditas pun merangkak naik secara tidak wajar. Masyarakat resah dan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mereka pun berlomba-lomba menarik simpanan emasnya di bank-bank
(Rush). Namun karena nota asli dengan nota kosong sama-sama sah, maka siapa yang cepat maka dia yang dapat menarik emasnya. Yang datang belakangan, dia tidak bias menarik emasnya dari bank, karena memang emasnya sudah habis. Inilah sebab kolapsnya bank (Bankrupt alias Bangkrut).

Dalam sistem kapitalisme, jatuh bangunnya bank merupakan hal yang sudah  semestinya terjadi. Hanya saja, kian lama proses ini kian gila dan sanggup menghancurkan suatu bangsa. Di sisi lain, Amerika yang mata uangnya dijadikan patokan mata uang negara-negara lain di dunia, bisa terus berjaya dan dengan rakus bisa terus menghisap kekayaan negeri-negeri lain. Inflasi? Amerika tidak pernah takut akan hal itu sebab negara-negara yang mematok mata uangnya dengan dollarnya-lah yang membayar inflasi atas Dollar AS.

Mengapa Dollar AS jadi patokan?

SUMBER:  Eramuslim Digest Edisi 8

SERI ERAMUSLIM DIGEST 8 ( TEMPLAR DAN KONSPIRASI TERHADAP EMAS )

TEMPLAR DAN  KONSPIRASI TERHADAP EMAS


Sejak berabad silam, emas telah mendapat tempat yang sangat istimewa dalam pergaulan hidup antar manusia. Logam mulia ini memiliki sejumlah keistimewaan yang tidak bisa diperoleh dari logam-logam lainnya yang ada di alam semesta. Sebab itu, sejak lama logam mulia ini telah menjadi patokan bagi perdagangan antar komunitas, antar wilayah, dan kemudian antar negara.

Keistimewaan emas menimbulkan sifat tamak dan serakah pada sebagian manusia. Sebab itu, manusia-manusia seperti ini menyusun satu strategi agar hanya mereka saja yang menguasai emas dan untuk manusia lainnya cukup dengan secarik kertas yang “dijamin” oleh cadangan emas mereka. Dan al-Qur’an telah berkali-kali menyatakan bahwa bangsa Yahudi-lah yang mula-mula dan selalu berbuat kerusakan di muka bumi hingga akhir zaman.

Sejarah mencatat, Usury merupakan lembaga keuangan pertama di dunia yang memiliki sistem yang secara esensi sama dan masih berlaku hingga hari ini, yang dijalankan oleh dunia perbankan konvensional. Usury sendiri memiliki arti sebagai “riba” alias “bunga”. Di depan, kita telah sedikit menyinggung peran Templar dalam mendirikan Usury. Secara singkat bisa dijabarkan sebagai berikut: Ketika Templar berkuasa di Yerusalem setelah jatuh di tahun 1099, para pangeran, bangsawan, dan tuan tanah dari Eropa kian banyak yang berziarah di tanah suci tersebut.

Awalnya, para peziarah ini membawa serta emas perhiasannya dalam perjalanan agar mereka tidak ditimpa kesulitan untuk membayar ini dan itu. Namun pada kenyataannya, seringkali mereka di tengah jalan dirampok para bandit atau kerepotan dalam membawa harta bendanya.

Templar yang memang dikenal sebagai kelompok yang rakus dan serakah, karena motivasi mereka mengobarkan perang salib pun sesungguhnya dengan niat untuk mencari harta karun King Solomon yang konon tersimpan di bawah Haikal di Yerusalem, melihat celah bisnis dari masalah para peziarah ini. Mereka kemudian berpikir keras dan menemukan jalan keluar yakni dengan membentuk lembaga simpan-pinjam pertama di dunia bernama Usury.
Mekanisme sederhananya adalah: para peziarah Eropa yang hendak menuju

Yerusalem diminta untuk menitipkan emasnya di Usury. Dengan wewenang Templar yang diakui Paus sebagai penjaga rute para peziarah dari Eropa hingga Yerusalem, maka Templar bisa melakukan ‘pemaksaan’ terhadap mereka. Sebagai tanda terima penitipan hartanya, para peziarah itu diberi secarik kertas bersandi yang menyatakan
bahwa sang peziarah memiliki cadangan emas dengan jumlah tertentu dan surat itu bias dipergunakan sebagai jaminan atas segala barang dan ongkos yang mungkin keluar dalam perjalanan ziarahnya. Di Yerusalem atau sekembalinya di Eropa, kertas bersandi itu bisa ditukarkan dengan cadangan emasnya lagi, tentunya setelah dikurangi segala ongkos yang timbul, termasuk biaya adminsitrasi Usury, sesuai catatan Templar.

Dalam sistem perbankan konvensional modern sekarang ini, surat bersandi Templar itu bisa disamakan dengan surat hutang atau Promis, yang sampai saat ini juga memiliki ‘sandi-sandi’ tertentu, antara lain berupa kode atau nomor. Dalam bentuk jamak, promis atau surat hutang inilah yang kemudian berkembang menjadi uang kertas (Paper Money atau Fiat Money).

Awalnya Usury hanya berupa lembaga penitipan emas. Namun lama-kelamaan, dari sifat rakus dan serakah para Templar timbul pemikiran untuk bisa menguasai emas yang dititipkan dan untuk para pemiliknya hanya diberi surat berharga yang dijamin oleh jumlah emas yang dititipkannya dan emas itu (katanya) bisa diambil sewaktu-waktu. Inilah uang kertas pertama yang tentu saja berproses dalam jangka waktu yang lama.

Dengan berjalannya waktu dan kian banyaknya surat berharga atau surat jaminan hutang beredar yang fungsinya sekarang bisa disamakan dengan uang kertas atau yang lebih praktis lagi bisa disamakan dengan kartu debet, masyarakat kian yakin jika mereka dapat melakukan jual beli hanya dengan menggunakan kertas tersebut. Hal tersebut bisa berjalan karena para pemilik kertas berharga dan pedagang telah percaya bahwa mereka dapat mengambil koin emas di tempat penitipan (Usury) atau yang sekarang disebut Bank sesuai jumlah yang tertera di kertas berharga tersebut.

Singkatnya, mereka percaya jika surat berharga itu memang diback-up oleh cadangan emas yang sesuai dan riil. Sampai dengan titik ini, mekanisme keuangan memang tidak ada masalah karena nilai yang tertera di surat hutang sesuai dengan jumlah nilai emas yang dititipkan.

Orang bijak berkata bahwa keserakahan itu bagai meminum air laut, yang bila diminum maka makin haus. Maka sang pemilik lembaga penitipan emas, pewaris Templar, pun berpikir bahwa untuk menambah laba dari usahanya, maka sebenarnya mereka bisa mencetak surat berharga banyak-banyak melebihi jumlah emas yang dititipkan,
karena tidak mungkin para pemilik emas akan menarik semua emasnya dalam waktu yang bersamaan. Faktor judi ada di sini.

Maka dimulailah upaya mencetak surat-surat berharga (nota kosong) yang sesungguhnya tidak lagi dudukung oleh emas, dan diberikan kepada pihak-pihak yang memerlukan modal untuk usahanya (kredit). Para pewaris Templar ini telah menciptakan uang dari udara kosong. Dari nota kosong atau kredit itu, selain menarik ongkos administrasi, mereka juga menarik bunga yang disebutnya biaya atas jasa kreditnya.

Mekanisme pasar pun bekerja. Karena jumlah surat hutang yang beredar melebihi jumlah emas yang sesungguhnya, maka timbul efek inflasi. Harga-harga komoditas pun merangkak naik secara tidak wajar. Masyarakat resah dan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mereka pun berlomba-lomba menarik simpanan emasnya di bank-bank
(Rush). Namun karena nota asli dengan nota kosong sama-sama sah, maka siapa yang cepat maka dia yang dapat menarik emasnya. Yang datang belakangan, dia tidak bias menarik emasnya dari bank, karena memang emasnya sudah habis. Inilah sebab kolapsnya bank (Bankrupt alias Bangkrut).

Dalam sistem kapitalisme, jatuh bangunnya bank merupakan hal yang sudah  semestinya terjadi. Hanya saja, kian lama proses ini kian gila dan sanggup menghancurkan suatu bangsa. Di sisi lain, Amerika yang mata uangnya dijadikan patokan mata uang negara-negara lain di dunia, bisa terus berjaya dan dengan rakus bisa terus menghisap kekayaan negeri-negeri lain. Inflasi? Amerika tidak pernah takut akan hal itu sebab negara-negara yang mematok mata uangnya dengan dollarnya-lah yang membayar inflasi atas Dollar AS.

Mengapa Dollar AS jadi patokan?

SUMBER:  Eramuslim Digest Edisi 8