Tampilkan postingan dengan label Templar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Templar. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 November 2013

SERI ERAMUSLIM DIGEST 8 ( TEMPLAR DAN KONSPIRASI TERHADAP EMAS )

TEMPLAR DAN  KONSPIRASI TERHADAP EMAS


Sejak berabad silam, emas telah mendapat tempat yang sangat istimewa dalam pergaulan hidup antar manusia. Logam mulia ini memiliki sejumlah keistimewaan yang tidak bisa diperoleh dari logam-logam lainnya yang ada di alam semesta. Sebab itu, sejak lama logam mulia ini telah menjadi patokan bagi perdagangan antar komunitas, antar wilayah, dan kemudian antar negara.

Keistimewaan emas menimbulkan sifat tamak dan serakah pada sebagian manusia. Sebab itu, manusia-manusia seperti ini menyusun satu strategi agar hanya mereka saja yang menguasai emas dan untuk manusia lainnya cukup dengan secarik kertas yang “dijamin” oleh cadangan emas mereka. Dan al-Qur’an telah berkali-kali menyatakan bahwa bangsa Yahudi-lah yang mula-mula dan selalu berbuat kerusakan di muka bumi hingga akhir zaman.

Sejarah mencatat, Usury merupakan lembaga keuangan pertama di dunia yang memiliki sistem yang secara esensi sama dan masih berlaku hingga hari ini, yang dijalankan oleh dunia perbankan konvensional. Usury sendiri memiliki arti sebagai “riba” alias “bunga”. Di depan, kita telah sedikit menyinggung peran Templar dalam mendirikan Usury. Secara singkat bisa dijabarkan sebagai berikut: Ketika Templar berkuasa di Yerusalem setelah jatuh di tahun 1099, para pangeran, bangsawan, dan tuan tanah dari Eropa kian banyak yang berziarah di tanah suci tersebut.

Awalnya, para peziarah ini membawa serta emas perhiasannya dalam perjalanan agar mereka tidak ditimpa kesulitan untuk membayar ini dan itu. Namun pada kenyataannya, seringkali mereka di tengah jalan dirampok para bandit atau kerepotan dalam membawa harta bendanya.

Templar yang memang dikenal sebagai kelompok yang rakus dan serakah, karena motivasi mereka mengobarkan perang salib pun sesungguhnya dengan niat untuk mencari harta karun King Solomon yang konon tersimpan di bawah Haikal di Yerusalem, melihat celah bisnis dari masalah para peziarah ini. Mereka kemudian berpikir keras dan menemukan jalan keluar yakni dengan membentuk lembaga simpan-pinjam pertama di dunia bernama Usury.
Mekanisme sederhananya adalah: para peziarah Eropa yang hendak menuju

Yerusalem diminta untuk menitipkan emasnya di Usury. Dengan wewenang Templar yang diakui Paus sebagai penjaga rute para peziarah dari Eropa hingga Yerusalem, maka Templar bisa melakukan ‘pemaksaan’ terhadap mereka. Sebagai tanda terima penitipan hartanya, para peziarah itu diberi secarik kertas bersandi yang menyatakan
bahwa sang peziarah memiliki cadangan emas dengan jumlah tertentu dan surat itu bias dipergunakan sebagai jaminan atas segala barang dan ongkos yang mungkin keluar dalam perjalanan ziarahnya. Di Yerusalem atau sekembalinya di Eropa, kertas bersandi itu bisa ditukarkan dengan cadangan emasnya lagi, tentunya setelah dikurangi segala ongkos yang timbul, termasuk biaya adminsitrasi Usury, sesuai catatan Templar.

Dalam sistem perbankan konvensional modern sekarang ini, surat bersandi Templar itu bisa disamakan dengan surat hutang atau Promis, yang sampai saat ini juga memiliki ‘sandi-sandi’ tertentu, antara lain berupa kode atau nomor. Dalam bentuk jamak, promis atau surat hutang inilah yang kemudian berkembang menjadi uang kertas (Paper Money atau Fiat Money).

Awalnya Usury hanya berupa lembaga penitipan emas. Namun lama-kelamaan, dari sifat rakus dan serakah para Templar timbul pemikiran untuk bisa menguasai emas yang dititipkan dan untuk para pemiliknya hanya diberi surat berharga yang dijamin oleh jumlah emas yang dititipkannya dan emas itu (katanya) bisa diambil sewaktu-waktu. Inilah uang kertas pertama yang tentu saja berproses dalam jangka waktu yang lama.

Dengan berjalannya waktu dan kian banyaknya surat berharga atau surat jaminan hutang beredar yang fungsinya sekarang bisa disamakan dengan uang kertas atau yang lebih praktis lagi bisa disamakan dengan kartu debet, masyarakat kian yakin jika mereka dapat melakukan jual beli hanya dengan menggunakan kertas tersebut. Hal tersebut bisa berjalan karena para pemilik kertas berharga dan pedagang telah percaya bahwa mereka dapat mengambil koin emas di tempat penitipan (Usury) atau yang sekarang disebut Bank sesuai jumlah yang tertera di kertas berharga tersebut.

Singkatnya, mereka percaya jika surat berharga itu memang diback-up oleh cadangan emas yang sesuai dan riil. Sampai dengan titik ini, mekanisme keuangan memang tidak ada masalah karena nilai yang tertera di surat hutang sesuai dengan jumlah nilai emas yang dititipkan.

Orang bijak berkata bahwa keserakahan itu bagai meminum air laut, yang bila diminum maka makin haus. Maka sang pemilik lembaga penitipan emas, pewaris Templar, pun berpikir bahwa untuk menambah laba dari usahanya, maka sebenarnya mereka bisa mencetak surat berharga banyak-banyak melebihi jumlah emas yang dititipkan,
karena tidak mungkin para pemilik emas akan menarik semua emasnya dalam waktu yang bersamaan. Faktor judi ada di sini.

Maka dimulailah upaya mencetak surat-surat berharga (nota kosong) yang sesungguhnya tidak lagi dudukung oleh emas, dan diberikan kepada pihak-pihak yang memerlukan modal untuk usahanya (kredit). Para pewaris Templar ini telah menciptakan uang dari udara kosong. Dari nota kosong atau kredit itu, selain menarik ongkos administrasi, mereka juga menarik bunga yang disebutnya biaya atas jasa kreditnya.

Mekanisme pasar pun bekerja. Karena jumlah surat hutang yang beredar melebihi jumlah emas yang sesungguhnya, maka timbul efek inflasi. Harga-harga komoditas pun merangkak naik secara tidak wajar. Masyarakat resah dan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mereka pun berlomba-lomba menarik simpanan emasnya di bank-bank
(Rush). Namun karena nota asli dengan nota kosong sama-sama sah, maka siapa yang cepat maka dia yang dapat menarik emasnya. Yang datang belakangan, dia tidak bias menarik emasnya dari bank, karena memang emasnya sudah habis. Inilah sebab kolapsnya bank (Bankrupt alias Bangkrut).

Dalam sistem kapitalisme, jatuh bangunnya bank merupakan hal yang sudah  semestinya terjadi. Hanya saja, kian lama proses ini kian gila dan sanggup menghancurkan suatu bangsa. Di sisi lain, Amerika yang mata uangnya dijadikan patokan mata uang negara-negara lain di dunia, bisa terus berjaya dan dengan rakus bisa terus menghisap kekayaan negeri-negeri lain. Inflasi? Amerika tidak pernah takut akan hal itu sebab negara-negara yang mematok mata uangnya dengan dollarnya-lah yang membayar inflasi atas Dollar AS.

Mengapa Dollar AS jadi patokan?

SUMBER:  Eramuslim Digest Edisi 8

SERI ERAMUSLIM DIGEST 8 ( TEMPLAR DAN KONSPIRASI TERHADAP EMAS )

TEMPLAR DAN  KONSPIRASI TERHADAP EMAS


Sejak berabad silam, emas telah mendapat tempat yang sangat istimewa dalam pergaulan hidup antar manusia. Logam mulia ini memiliki sejumlah keistimewaan yang tidak bisa diperoleh dari logam-logam lainnya yang ada di alam semesta. Sebab itu, sejak lama logam mulia ini telah menjadi patokan bagi perdagangan antar komunitas, antar wilayah, dan kemudian antar negara.

Keistimewaan emas menimbulkan sifat tamak dan serakah pada sebagian manusia. Sebab itu, manusia-manusia seperti ini menyusun satu strategi agar hanya mereka saja yang menguasai emas dan untuk manusia lainnya cukup dengan secarik kertas yang “dijamin” oleh cadangan emas mereka. Dan al-Qur’an telah berkali-kali menyatakan bahwa bangsa Yahudi-lah yang mula-mula dan selalu berbuat kerusakan di muka bumi hingga akhir zaman.

Sejarah mencatat, Usury merupakan lembaga keuangan pertama di dunia yang memiliki sistem yang secara esensi sama dan masih berlaku hingga hari ini, yang dijalankan oleh dunia perbankan konvensional. Usury sendiri memiliki arti sebagai “riba” alias “bunga”. Di depan, kita telah sedikit menyinggung peran Templar dalam mendirikan Usury. Secara singkat bisa dijabarkan sebagai berikut: Ketika Templar berkuasa di Yerusalem setelah jatuh di tahun 1099, para pangeran, bangsawan, dan tuan tanah dari Eropa kian banyak yang berziarah di tanah suci tersebut.

Awalnya, para peziarah ini membawa serta emas perhiasannya dalam perjalanan agar mereka tidak ditimpa kesulitan untuk membayar ini dan itu. Namun pada kenyataannya, seringkali mereka di tengah jalan dirampok para bandit atau kerepotan dalam membawa harta bendanya.

Templar yang memang dikenal sebagai kelompok yang rakus dan serakah, karena motivasi mereka mengobarkan perang salib pun sesungguhnya dengan niat untuk mencari harta karun King Solomon yang konon tersimpan di bawah Haikal di Yerusalem, melihat celah bisnis dari masalah para peziarah ini. Mereka kemudian berpikir keras dan menemukan jalan keluar yakni dengan membentuk lembaga simpan-pinjam pertama di dunia bernama Usury.
Mekanisme sederhananya adalah: para peziarah Eropa yang hendak menuju

Yerusalem diminta untuk menitipkan emasnya di Usury. Dengan wewenang Templar yang diakui Paus sebagai penjaga rute para peziarah dari Eropa hingga Yerusalem, maka Templar bisa melakukan ‘pemaksaan’ terhadap mereka. Sebagai tanda terima penitipan hartanya, para peziarah itu diberi secarik kertas bersandi yang menyatakan
bahwa sang peziarah memiliki cadangan emas dengan jumlah tertentu dan surat itu bias dipergunakan sebagai jaminan atas segala barang dan ongkos yang mungkin keluar dalam perjalanan ziarahnya. Di Yerusalem atau sekembalinya di Eropa, kertas bersandi itu bisa ditukarkan dengan cadangan emasnya lagi, tentunya setelah dikurangi segala ongkos yang timbul, termasuk biaya adminsitrasi Usury, sesuai catatan Templar.

Dalam sistem perbankan konvensional modern sekarang ini, surat bersandi Templar itu bisa disamakan dengan surat hutang atau Promis, yang sampai saat ini juga memiliki ‘sandi-sandi’ tertentu, antara lain berupa kode atau nomor. Dalam bentuk jamak, promis atau surat hutang inilah yang kemudian berkembang menjadi uang kertas (Paper Money atau Fiat Money).

Awalnya Usury hanya berupa lembaga penitipan emas. Namun lama-kelamaan, dari sifat rakus dan serakah para Templar timbul pemikiran untuk bisa menguasai emas yang dititipkan dan untuk para pemiliknya hanya diberi surat berharga yang dijamin oleh jumlah emas yang dititipkannya dan emas itu (katanya) bisa diambil sewaktu-waktu. Inilah uang kertas pertama yang tentu saja berproses dalam jangka waktu yang lama.

Dengan berjalannya waktu dan kian banyaknya surat berharga atau surat jaminan hutang beredar yang fungsinya sekarang bisa disamakan dengan uang kertas atau yang lebih praktis lagi bisa disamakan dengan kartu debet, masyarakat kian yakin jika mereka dapat melakukan jual beli hanya dengan menggunakan kertas tersebut. Hal tersebut bisa berjalan karena para pemilik kertas berharga dan pedagang telah percaya bahwa mereka dapat mengambil koin emas di tempat penitipan (Usury) atau yang sekarang disebut Bank sesuai jumlah yang tertera di kertas berharga tersebut.

Singkatnya, mereka percaya jika surat berharga itu memang diback-up oleh cadangan emas yang sesuai dan riil. Sampai dengan titik ini, mekanisme keuangan memang tidak ada masalah karena nilai yang tertera di surat hutang sesuai dengan jumlah nilai emas yang dititipkan.

Orang bijak berkata bahwa keserakahan itu bagai meminum air laut, yang bila diminum maka makin haus. Maka sang pemilik lembaga penitipan emas, pewaris Templar, pun berpikir bahwa untuk menambah laba dari usahanya, maka sebenarnya mereka bisa mencetak surat berharga banyak-banyak melebihi jumlah emas yang dititipkan,
karena tidak mungkin para pemilik emas akan menarik semua emasnya dalam waktu yang bersamaan. Faktor judi ada di sini.

Maka dimulailah upaya mencetak surat-surat berharga (nota kosong) yang sesungguhnya tidak lagi dudukung oleh emas, dan diberikan kepada pihak-pihak yang memerlukan modal untuk usahanya (kredit). Para pewaris Templar ini telah menciptakan uang dari udara kosong. Dari nota kosong atau kredit itu, selain menarik ongkos administrasi, mereka juga menarik bunga yang disebutnya biaya atas jasa kreditnya.

Mekanisme pasar pun bekerja. Karena jumlah surat hutang yang beredar melebihi jumlah emas yang sesungguhnya, maka timbul efek inflasi. Harga-harga komoditas pun merangkak naik secara tidak wajar. Masyarakat resah dan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Mereka pun berlomba-lomba menarik simpanan emasnya di bank-bank
(Rush). Namun karena nota asli dengan nota kosong sama-sama sah, maka siapa yang cepat maka dia yang dapat menarik emasnya. Yang datang belakangan, dia tidak bias menarik emasnya dari bank, karena memang emasnya sudah habis. Inilah sebab kolapsnya bank (Bankrupt alias Bangkrut).

Dalam sistem kapitalisme, jatuh bangunnya bank merupakan hal yang sudah  semestinya terjadi. Hanya saja, kian lama proses ini kian gila dan sanggup menghancurkan suatu bangsa. Di sisi lain, Amerika yang mata uangnya dijadikan patokan mata uang negara-negara lain di dunia, bisa terus berjaya dan dengan rakus bisa terus menghisap kekayaan negeri-negeri lain. Inflasi? Amerika tidak pernah takut akan hal itu sebab negara-negara yang mematok mata uangnya dengan dollarnya-lah yang membayar inflasi atas Dollar AS.

Mengapa Dollar AS jadi patokan?

SUMBER:  Eramuslim Digest Edisi 8

Senin, 11 November 2013

SERI ERAMUSLIM DIGEST EDISI 8 ( UANG DAN STRATEGI ZIONIS )

UANG DAN STRATEGI ZIONIS

Dalam perjalanan sejarah panjang Zionisme mengacaukan dunia, bermain di belakang tirai peperangan, dan menundukkan (baca: menjajah suatu negara), maka uang selalu mendapat tempat yang sangat penting bagi kelompok ini. Nenek moyang kaum Zionis yang merupakan pengikut setia dari doktrin Kabbalah seperti para Templar, merupakan organisasi pertama yang mendirikan lembaga simpan-pinjam uang yang dulu bernama Usury (Riba).
Usury ini berdiri disebabkan kekayaan Templar yang luar biasa, yang diperoleh dari
konsensi istimewa yang diberikan Paus yang membolehkan Templar memungut pajak
atas seluruh wilayah yang dikuasainya, dari wilayah sekitar Yerusalem, hingga ke seberang
lautan di Eropa.

Saat Yerusalem dikuasai Templar, para peziarah dari Eropa yang terdiri dari para ksatria, bangsawan, tuan tanah, dan sebagainya banyak yang melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem dengan membawa serta harta bendanya. Hal ini dianggap tidak praktis oleh para Templar, selain itu juga rawan perampokan di tengah jalan.

Dalam perjalanan sejarah panjang Zionisme mengacaukan dunia, bermain
di belakang tirai peperangan, dan menundukkan (baca: menjajah suatu
negara), maka uang selalu mendapat tempat yang sangat penting bagi
kelompok ini. Nenek moyang kaum Zionis yang merupakan pengikut
setia dari doktrin Kabbalah seperti para Templar, merupakan organisasi
pertama yang mendirikan lembaga simpan-pinjam uang yang dulu bernama
Usury (Riba).

Usury ini berdiri disebabkan kekayaan Templar yang luar biasa, yang diperoleh dari konsensi istimewa yang diberikan Paus yang membolehkan Templar memungut pajak atas seluruh wilayah yang dikuasainya, dari wilayah sekitar Yerusalem, hingga ke seberang lautan di Eropa.

Saat Yerusalem dikuasai Templar, para peziarah dari Eropa yang terdiri dari para ksatria, bangsawan, tuan tanah, dan sebagainya banyak yang melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem dengan membawa serta harta bendanya. Hal ini dianggap tidak praktis oleh para Templar, selain itu juga rawan perampokan di tengah jalan.

Sistem yang berlaku di lembaga simpan pinjam Usury ini dikemudian hari diadopsi menjadi sistem
perbankan konvensional modern, yang bisa bergerak dengan bermodalkan sistem ribawi (Usury).

Uang dalam strategi Zionis memiliki posisi yang amat vital. Sejarah dunia telah memaparkan kepada kita semua betapa kaum Yahudi sejak zaman dulu hingga sekarang telah mempergunakan “kekuatan” sebagai modal dasar
perjuangannya. Protokolat Zionis pun berbicara banyak soal ini dan dengan cerdas menyatakan jika emas merupakan kekuatan finansil yang sesungguhnya.

Di antara sekian banyak peristiwa dunia yang bisa kita jadikan gambaran betapa Konspirasi Yahudi menggunakan sektor finansil untuk menundukkan dunia adalah penguasaan Inggris dan Amerika Serikat, di mana sampai sekarang, kedua negara tersebut ditunggangi oleh kekuatan konspirasi untuk mendikte dunia dalam banyak hal.


Penguasaan Inggris

Upaya konspirasi Yahudi untuk menundukkan Inggris dilalui lewat dua strategi.

Pertama, menciptakan dinasti kerajaan Inggris yang berdarah Yahudi. Caranya lewat perkawinan antara Queen of Mary, anak dari Duke of York, dengan William II yang  terjadi di tahun 1674. Mary adalah puteri bangsawan Dinasti Stuart, dinasti bangsawan  kerajaan Inggris asli yang tidak ada satu tetes pun darah Yahudi. Sedangkan William IIadalah sang pangeran dari Dinasti Hannover, sebuah dinasti kerajaan Bavaria (Jerman)
yang Yahudi.

Dari keduanya, lahir seorang putera bernama William III, yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari King James II bernama Mary II. William III yang berdarah campuran antara Dinasti Stuart dengan Dinasti Hanover ternyata menurut kelaziman tidak bisa menjadi Raja Inggris disebabkan ia bukan berasal dari garis keturunan lakilaki Inggris, melainkan dari garis perempuan. Mary II, isterinyalah, yang lebih berhak menyandang gelar Queen.

Akhirnya, berkat tekanan dari Partai Whig yang melakukan kerjasama diam-diam dengan tokoh-tokoh Yahudi dan Partai Tory yang bersikap pragmatis, revolusi tanpa darah ini (The Glorious Revolution) berhasil menaikkan William III yang berdarah Yahudi sebagai Raja Inggris. Dari William III inilah kelak lahir Dinasti Windsor yang kita kenal
sebagai dinasti kerajaan Inggris sekarang ini.

Kedua, hampir bersamaan dengan strategi pertama, konspirasi Yahudi juga melancarkan strategi kedua yakni lewat tangan Oliver Cromwell, pihak konspirasi ‘menyikat’ King Charles I untuk menguasai lembaga-lembaga keuangan kerajaan itu.

Pada tahun 1689, King William III mendirikan Loyal Orange Order yang begitu fanatik mendukung gerakan pembaruan Gereja yang dipimpin Martin Luther. Ordo ini menyatakan dengan tegas akan menjadikan Inggris sebagai basis bagi gerakan Protestan.

Pernyataan ini memiliki pesan yang jelas terhadap Gereja Katolik: “Kami akan  melawanmu!” Sebuah tantangan yang keluar dari dendam para Templar terhadap Hegemoni Gereja yang pernah menindasnya di tahun 1307.

Loyal Orange Order sampai hari ini masih bertahan di Irlandia Utara dengan jumlah anggota tak kurang dari angka 100 ribuan. Kelompok inilah yang senantiasa mengobarkan api permusuhan terhadap kaum Katolik, hingga sampai detik ini kehidupan masyarakat di sana tidak pernah sepi dari konflik Protestan-Katolik.

Atas provokasi konspirasi, King William III menceburkan diri dalam peperangan melawan “Perancis Katolik”. Inggris menderita kerugian yang banyak. Utang pun menumpuk. Inilah awal berdirinya Bank of England sebagai bank sentral swasta pertama di dunia, sebuah pintu masuk yang begitu indah bagi kepentingan kaum konspirasi
Yahudi.

William G. Carr dalam “Yahudi Menggenggam Dunia” (Pustaka Alkautsar, 1991) mencatat kronologi perjalanan petualangan Oliver Cromwell menjadi kaki tangan kaum Yahudi Inggris setelah kematian King Charles I, 30 Januari 1649. Inilah kronologinya yang telah dipersingkat:

1649, Cromwell menyerbu Irlandia dengan dukungan dana dari lobi Yahudi internasional. Terjadi perang Inggris Protestan versus Irlandia Katolik.

1651, Charles II, putera King Charles I, memerangi Cromwell tapi gagal. Ia dibuang ke Perancis.

1652, Inggris melibatkan diri berperang melawan Belanda.

1653, Cromwell mengangkat dirinya sebagai The Lord Defender of Great Britain.

1654, Inggris terlibat perang Eropa lagi.

1656, Amerika yang masih menjadi jajahan Inggris bergolak dan akhirnya menjadi negara merdeka.

1657, Cromwell meninggal dunia. Puteranya, Richard, menjadi penguasa Inggris.

1659, Richard mengakhiri persekongkolan dengan Yahudi Internasional, ia mengundurkan diri dari kekuasaan.

1660, Jenderal Monk dari Inggris menduduki London. Charles II jadi Raja Inggris.

1661, Skandal persekongkolan antara Cromwell dengan kubu Yahudi Internasional terungkap. Warga London geger dan marah. Makam Cromwell dibongkar.

1662, Gereja resmi Inggris, Anglikan, menindas umat Protestan.

1664, Inggris kembali berperang melawan Belanda.

1665, Krisis ekonomi melanda Inggris dengan hebat yang disusul dengan krisis di banyak bidang.

1666, Inggris terlibat perang dengan Belanda dan Perancis.

1667, Konspirasi Yahudi melancarkan gerakan sabotase ke kalangan elit pemerintahan. Sejarah Inggris mengenalnya sebag ai gerakan Cabal (Komplotan atau juga “Cabbala”). Akibatnya muncul gelombang baru
penindasan agama dan politik di Inggris.

1674, Setelah menggelar pertemuan internal di Belanda, Kelompok Yahudi Internasional sepakat menguasai Kerajaan Inggris sepenuhnya dengan melengserkan King Charles II dan menaikkan seseorang yang bisa
dikendalikan, yakni King William III yang masih berdarah Dinasti
Hanover.

1683, Konspirasi berupaya membunuh King Charles II dan Duke of York tapi gagal.

1685, King Charles II meninggal dunia. Duke of York yang beragama  Katolik naik tahta dengan gelar King James II. Konspirasi menyebarka desas-desus untuk menentang raja baru itu. Rakyat banyak yang termakan isu ini. Akibatnya banyak rakyat yang ditangkap pihak kerajaan. Nama King James II menjadi tidak popular di mata rakyat.

1688, setelah King James II sudah tidak lagi mendapat dukungan rakyatnya, Konspirasi Yahudi Internasional memprovokasi pangeran William of Orange dari Belanda untuk menyerbu Ingg ris, dengan dukungan kapal-kapal perangnya menuju pantai Inggris. King James II akhirnya turun tahta dan kabur ke Perancis.

1689, William of Orange atau William III dan Queen of Mary –keduanya Protestan—mengukuhkan diri sebagai Raja dan Ratu Inggris. Sementara itu James II kabur lagi ke Irlandia, sebuah wilayah Katolik. Pasukan Inggris sendiri terpecah antara yang Protestan dengan yang Katolik. Yang Protestan mendukung William III sedang yang Katolik berupaya mengembalikan James II ke tahtanya. Perang saudara pun tak terelakkan pada 12 Juli 1689.


Sumber: ERAMUSLIM DIGEST EDISI 8

SERI ERAMUSLIM DIGEST EDISI 8 ( UANG DAN STRATEGI ZIONIS )

UANG DAN STRATEGI ZIONIS

Dalam perjalanan sejarah panjang Zionisme mengacaukan dunia, bermain di belakang tirai peperangan, dan menundukkan (baca: menjajah suatu negara), maka uang selalu mendapat tempat yang sangat penting bagi kelompok ini. Nenek moyang kaum Zionis yang merupakan pengikut setia dari doktrin Kabbalah seperti para Templar, merupakan organisasi pertama yang mendirikan lembaga simpan-pinjam uang yang dulu bernama Usury (Riba).
Usury ini berdiri disebabkan kekayaan Templar yang luar biasa, yang diperoleh dari
konsensi istimewa yang diberikan Paus yang membolehkan Templar memungut pajak
atas seluruh wilayah yang dikuasainya, dari wilayah sekitar Yerusalem, hingga ke seberang
lautan di Eropa.

Saat Yerusalem dikuasai Templar, para peziarah dari Eropa yang terdiri dari para ksatria, bangsawan, tuan tanah, dan sebagainya banyak yang melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem dengan membawa serta harta bendanya. Hal ini dianggap tidak praktis oleh para Templar, selain itu juga rawan perampokan di tengah jalan.

Dalam perjalanan sejarah panjang Zionisme mengacaukan dunia, bermain
di belakang tirai peperangan, dan menundukkan (baca: menjajah suatu
negara), maka uang selalu mendapat tempat yang sangat penting bagi
kelompok ini. Nenek moyang kaum Zionis yang merupakan pengikut
setia dari doktrin Kabbalah seperti para Templar, merupakan organisasi
pertama yang mendirikan lembaga simpan-pinjam uang yang dulu bernama
Usury (Riba).

Usury ini berdiri disebabkan kekayaan Templar yang luar biasa, yang diperoleh dari konsensi istimewa yang diberikan Paus yang membolehkan Templar memungut pajak atas seluruh wilayah yang dikuasainya, dari wilayah sekitar Yerusalem, hingga ke seberang lautan di Eropa.

Saat Yerusalem dikuasai Templar, para peziarah dari Eropa yang terdiri dari para ksatria, bangsawan, tuan tanah, dan sebagainya banyak yang melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem dengan membawa serta harta bendanya. Hal ini dianggap tidak praktis oleh para Templar, selain itu juga rawan perampokan di tengah jalan.

Sistem yang berlaku di lembaga simpan pinjam Usury ini dikemudian hari diadopsi menjadi sistem
perbankan konvensional modern, yang bisa bergerak dengan bermodalkan sistem ribawi (Usury).

Uang dalam strategi Zionis memiliki posisi yang amat vital. Sejarah dunia telah memaparkan kepada kita semua betapa kaum Yahudi sejak zaman dulu hingga sekarang telah mempergunakan “kekuatan” sebagai modal dasar
perjuangannya. Protokolat Zionis pun berbicara banyak soal ini dan dengan cerdas menyatakan jika emas merupakan kekuatan finansil yang sesungguhnya.

Di antara sekian banyak peristiwa dunia yang bisa kita jadikan gambaran betapa Konspirasi Yahudi menggunakan sektor finansil untuk menundukkan dunia adalah penguasaan Inggris dan Amerika Serikat, di mana sampai sekarang, kedua negara tersebut ditunggangi oleh kekuatan konspirasi untuk mendikte dunia dalam banyak hal.


Penguasaan Inggris

Upaya konspirasi Yahudi untuk menundukkan Inggris dilalui lewat dua strategi.

Pertama, menciptakan dinasti kerajaan Inggris yang berdarah Yahudi. Caranya lewat perkawinan antara Queen of Mary, anak dari Duke of York, dengan William II yang  terjadi di tahun 1674. Mary adalah puteri bangsawan Dinasti Stuart, dinasti bangsawan  kerajaan Inggris asli yang tidak ada satu tetes pun darah Yahudi. Sedangkan William IIadalah sang pangeran dari Dinasti Hannover, sebuah dinasti kerajaan Bavaria (Jerman)
yang Yahudi.

Dari keduanya, lahir seorang putera bernama William III, yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari King James II bernama Mary II. William III yang berdarah campuran antara Dinasti Stuart dengan Dinasti Hanover ternyata menurut kelaziman tidak bisa menjadi Raja Inggris disebabkan ia bukan berasal dari garis keturunan lakilaki Inggris, melainkan dari garis perempuan. Mary II, isterinyalah, yang lebih berhak menyandang gelar Queen.

Akhirnya, berkat tekanan dari Partai Whig yang melakukan kerjasama diam-diam dengan tokoh-tokoh Yahudi dan Partai Tory yang bersikap pragmatis, revolusi tanpa darah ini (The Glorious Revolution) berhasil menaikkan William III yang berdarah Yahudi sebagai Raja Inggris. Dari William III inilah kelak lahir Dinasti Windsor yang kita kenal
sebagai dinasti kerajaan Inggris sekarang ini.

Kedua, hampir bersamaan dengan strategi pertama, konspirasi Yahudi juga melancarkan strategi kedua yakni lewat tangan Oliver Cromwell, pihak konspirasi ‘menyikat’ King Charles I untuk menguasai lembaga-lembaga keuangan kerajaan itu.

Pada tahun 1689, King William III mendirikan Loyal Orange Order yang begitu fanatik mendukung gerakan pembaruan Gereja yang dipimpin Martin Luther. Ordo ini menyatakan dengan tegas akan menjadikan Inggris sebagai basis bagi gerakan Protestan.

Pernyataan ini memiliki pesan yang jelas terhadap Gereja Katolik: “Kami akan  melawanmu!” Sebuah tantangan yang keluar dari dendam para Templar terhadap Hegemoni Gereja yang pernah menindasnya di tahun 1307.

Loyal Orange Order sampai hari ini masih bertahan di Irlandia Utara dengan jumlah anggota tak kurang dari angka 100 ribuan. Kelompok inilah yang senantiasa mengobarkan api permusuhan terhadap kaum Katolik, hingga sampai detik ini kehidupan masyarakat di sana tidak pernah sepi dari konflik Protestan-Katolik.

Atas provokasi konspirasi, King William III menceburkan diri dalam peperangan melawan “Perancis Katolik”. Inggris menderita kerugian yang banyak. Utang pun menumpuk. Inilah awal berdirinya Bank of England sebagai bank sentral swasta pertama di dunia, sebuah pintu masuk yang begitu indah bagi kepentingan kaum konspirasi
Yahudi.

William G. Carr dalam “Yahudi Menggenggam Dunia” (Pustaka Alkautsar, 1991) mencatat kronologi perjalanan petualangan Oliver Cromwell menjadi kaki tangan kaum Yahudi Inggris setelah kematian King Charles I, 30 Januari 1649. Inilah kronologinya yang telah dipersingkat:

1649, Cromwell menyerbu Irlandia dengan dukungan dana dari lobi Yahudi internasional. Terjadi perang Inggris Protestan versus Irlandia Katolik.

1651, Charles II, putera King Charles I, memerangi Cromwell tapi gagal. Ia dibuang ke Perancis.

1652, Inggris melibatkan diri berperang melawan Belanda.

1653, Cromwell mengangkat dirinya sebagai The Lord Defender of Great Britain.

1654, Inggris terlibat perang Eropa lagi.

1656, Amerika yang masih menjadi jajahan Inggris bergolak dan akhirnya menjadi negara merdeka.

1657, Cromwell meninggal dunia. Puteranya, Richard, menjadi penguasa Inggris.

1659, Richard mengakhiri persekongkolan dengan Yahudi Internasional, ia mengundurkan diri dari kekuasaan.

1660, Jenderal Monk dari Inggris menduduki London. Charles II jadi Raja Inggris.

1661, Skandal persekongkolan antara Cromwell dengan kubu Yahudi Internasional terungkap. Warga London geger dan marah. Makam Cromwell dibongkar.

1662, Gereja resmi Inggris, Anglikan, menindas umat Protestan.

1664, Inggris kembali berperang melawan Belanda.

1665, Krisis ekonomi melanda Inggris dengan hebat yang disusul dengan krisis di banyak bidang.

1666, Inggris terlibat perang dengan Belanda dan Perancis.

1667, Konspirasi Yahudi melancarkan gerakan sabotase ke kalangan elit pemerintahan. Sejarah Inggris mengenalnya sebag ai gerakan Cabal (Komplotan atau juga “Cabbala”). Akibatnya muncul gelombang baru
penindasan agama dan politik di Inggris.

1674, Setelah menggelar pertemuan internal di Belanda, Kelompok Yahudi Internasional sepakat menguasai Kerajaan Inggris sepenuhnya dengan melengserkan King Charles II dan menaikkan seseorang yang bisa
dikendalikan, yakni King William III yang masih berdarah Dinasti
Hanover.

1683, Konspirasi berupaya membunuh King Charles II dan Duke of York tapi gagal.

1685, King Charles II meninggal dunia. Duke of York yang beragama  Katolik naik tahta dengan gelar King James II. Konspirasi menyebarka desas-desus untuk menentang raja baru itu. Rakyat banyak yang termakan isu ini. Akibatnya banyak rakyat yang ditangkap pihak kerajaan. Nama King James II menjadi tidak popular di mata rakyat.

1688, setelah King James II sudah tidak lagi mendapat dukungan rakyatnya, Konspirasi Yahudi Internasional memprovokasi pangeran William of Orange dari Belanda untuk menyerbu Ingg ris, dengan dukungan kapal-kapal perangnya menuju pantai Inggris. King James II akhirnya turun tahta dan kabur ke Perancis.

1689, William of Orange atau William III dan Queen of Mary –keduanya Protestan—mengukuhkan diri sebagai Raja dan Ratu Inggris. Sementara itu James II kabur lagi ke Irlandia, sebuah wilayah Katolik. Pasukan Inggris sendiri terpecah antara yang Protestan dengan yang Katolik. Yang Protestan mendukung William III sedang yang Katolik berupaya mengembalikan James II ke tahtanya. Perang saudara pun tak terelakkan pada 12 Juli 1689.


Sumber: ERAMUSLIM DIGEST EDISI 8