Senin, 11 November 2013

SERI ERAMUSLIM DIGEST EDISI 8 ( UANG DAN STRATEGI ZIONIS )

UANG DAN STRATEGI ZIONIS

Dalam perjalanan sejarah panjang Zionisme mengacaukan dunia, bermain di belakang tirai peperangan, dan menundukkan (baca: menjajah suatu negara), maka uang selalu mendapat tempat yang sangat penting bagi kelompok ini. Nenek moyang kaum Zionis yang merupakan pengikut setia dari doktrin Kabbalah seperti para Templar, merupakan organisasi pertama yang mendirikan lembaga simpan-pinjam uang yang dulu bernama Usury (Riba).
Usury ini berdiri disebabkan kekayaan Templar yang luar biasa, yang diperoleh dari
konsensi istimewa yang diberikan Paus yang membolehkan Templar memungut pajak
atas seluruh wilayah yang dikuasainya, dari wilayah sekitar Yerusalem, hingga ke seberang
lautan di Eropa.

Saat Yerusalem dikuasai Templar, para peziarah dari Eropa yang terdiri dari para ksatria, bangsawan, tuan tanah, dan sebagainya banyak yang melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem dengan membawa serta harta bendanya. Hal ini dianggap tidak praktis oleh para Templar, selain itu juga rawan perampokan di tengah jalan.

Dalam perjalanan sejarah panjang Zionisme mengacaukan dunia, bermain
di belakang tirai peperangan, dan menundukkan (baca: menjajah suatu
negara), maka uang selalu mendapat tempat yang sangat penting bagi
kelompok ini. Nenek moyang kaum Zionis yang merupakan pengikut
setia dari doktrin Kabbalah seperti para Templar, merupakan organisasi
pertama yang mendirikan lembaga simpan-pinjam uang yang dulu bernama
Usury (Riba).

Usury ini berdiri disebabkan kekayaan Templar yang luar biasa, yang diperoleh dari konsensi istimewa yang diberikan Paus yang membolehkan Templar memungut pajak atas seluruh wilayah yang dikuasainya, dari wilayah sekitar Yerusalem, hingga ke seberang lautan di Eropa.

Saat Yerusalem dikuasai Templar, para peziarah dari Eropa yang terdiri dari para ksatria, bangsawan, tuan tanah, dan sebagainya banyak yang melakukan perjalanan ziarah ke Yerusalem dengan membawa serta harta bendanya. Hal ini dianggap tidak praktis oleh para Templar, selain itu juga rawan perampokan di tengah jalan.

Sistem yang berlaku di lembaga simpan pinjam Usury ini dikemudian hari diadopsi menjadi sistem
perbankan konvensional modern, yang bisa bergerak dengan bermodalkan sistem ribawi (Usury).

Uang dalam strategi Zionis memiliki posisi yang amat vital. Sejarah dunia telah memaparkan kepada kita semua betapa kaum Yahudi sejak zaman dulu hingga sekarang telah mempergunakan “kekuatan” sebagai modal dasar
perjuangannya. Protokolat Zionis pun berbicara banyak soal ini dan dengan cerdas menyatakan jika emas merupakan kekuatan finansil yang sesungguhnya.

Di antara sekian banyak peristiwa dunia yang bisa kita jadikan gambaran betapa Konspirasi Yahudi menggunakan sektor finansil untuk menundukkan dunia adalah penguasaan Inggris dan Amerika Serikat, di mana sampai sekarang, kedua negara tersebut ditunggangi oleh kekuatan konspirasi untuk mendikte dunia dalam banyak hal.


Penguasaan Inggris

Upaya konspirasi Yahudi untuk menundukkan Inggris dilalui lewat dua strategi.

Pertama, menciptakan dinasti kerajaan Inggris yang berdarah Yahudi. Caranya lewat perkawinan antara Queen of Mary, anak dari Duke of York, dengan William II yang  terjadi di tahun 1674. Mary adalah puteri bangsawan Dinasti Stuart, dinasti bangsawan  kerajaan Inggris asli yang tidak ada satu tetes pun darah Yahudi. Sedangkan William IIadalah sang pangeran dari Dinasti Hannover, sebuah dinasti kerajaan Bavaria (Jerman)
yang Yahudi.

Dari keduanya, lahir seorang putera bernama William III, yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari King James II bernama Mary II. William III yang berdarah campuran antara Dinasti Stuart dengan Dinasti Hanover ternyata menurut kelaziman tidak bisa menjadi Raja Inggris disebabkan ia bukan berasal dari garis keturunan lakilaki Inggris, melainkan dari garis perempuan. Mary II, isterinyalah, yang lebih berhak menyandang gelar Queen.

Akhirnya, berkat tekanan dari Partai Whig yang melakukan kerjasama diam-diam dengan tokoh-tokoh Yahudi dan Partai Tory yang bersikap pragmatis, revolusi tanpa darah ini (The Glorious Revolution) berhasil menaikkan William III yang berdarah Yahudi sebagai Raja Inggris. Dari William III inilah kelak lahir Dinasti Windsor yang kita kenal
sebagai dinasti kerajaan Inggris sekarang ini.

Kedua, hampir bersamaan dengan strategi pertama, konspirasi Yahudi juga melancarkan strategi kedua yakni lewat tangan Oliver Cromwell, pihak konspirasi ‘menyikat’ King Charles I untuk menguasai lembaga-lembaga keuangan kerajaan itu.

Pada tahun 1689, King William III mendirikan Loyal Orange Order yang begitu fanatik mendukung gerakan pembaruan Gereja yang dipimpin Martin Luther. Ordo ini menyatakan dengan tegas akan menjadikan Inggris sebagai basis bagi gerakan Protestan.

Pernyataan ini memiliki pesan yang jelas terhadap Gereja Katolik: “Kami akan  melawanmu!” Sebuah tantangan yang keluar dari dendam para Templar terhadap Hegemoni Gereja yang pernah menindasnya di tahun 1307.

Loyal Orange Order sampai hari ini masih bertahan di Irlandia Utara dengan jumlah anggota tak kurang dari angka 100 ribuan. Kelompok inilah yang senantiasa mengobarkan api permusuhan terhadap kaum Katolik, hingga sampai detik ini kehidupan masyarakat di sana tidak pernah sepi dari konflik Protestan-Katolik.

Atas provokasi konspirasi, King William III menceburkan diri dalam peperangan melawan “Perancis Katolik”. Inggris menderita kerugian yang banyak. Utang pun menumpuk. Inilah awal berdirinya Bank of England sebagai bank sentral swasta pertama di dunia, sebuah pintu masuk yang begitu indah bagi kepentingan kaum konspirasi
Yahudi.

William G. Carr dalam “Yahudi Menggenggam Dunia” (Pustaka Alkautsar, 1991) mencatat kronologi perjalanan petualangan Oliver Cromwell menjadi kaki tangan kaum Yahudi Inggris setelah kematian King Charles I, 30 Januari 1649. Inilah kronologinya yang telah dipersingkat:

1649, Cromwell menyerbu Irlandia dengan dukungan dana dari lobi Yahudi internasional. Terjadi perang Inggris Protestan versus Irlandia Katolik.

1651, Charles II, putera King Charles I, memerangi Cromwell tapi gagal. Ia dibuang ke Perancis.

1652, Inggris melibatkan diri berperang melawan Belanda.

1653, Cromwell mengangkat dirinya sebagai The Lord Defender of Great Britain.

1654, Inggris terlibat perang Eropa lagi.

1656, Amerika yang masih menjadi jajahan Inggris bergolak dan akhirnya menjadi negara merdeka.

1657, Cromwell meninggal dunia. Puteranya, Richard, menjadi penguasa Inggris.

1659, Richard mengakhiri persekongkolan dengan Yahudi Internasional, ia mengundurkan diri dari kekuasaan.

1660, Jenderal Monk dari Inggris menduduki London. Charles II jadi Raja Inggris.

1661, Skandal persekongkolan antara Cromwell dengan kubu Yahudi Internasional terungkap. Warga London geger dan marah. Makam Cromwell dibongkar.

1662, Gereja resmi Inggris, Anglikan, menindas umat Protestan.

1664, Inggris kembali berperang melawan Belanda.

1665, Krisis ekonomi melanda Inggris dengan hebat yang disusul dengan krisis di banyak bidang.

1666, Inggris terlibat perang dengan Belanda dan Perancis.

1667, Konspirasi Yahudi melancarkan gerakan sabotase ke kalangan elit pemerintahan. Sejarah Inggris mengenalnya sebag ai gerakan Cabal (Komplotan atau juga “Cabbala”). Akibatnya muncul gelombang baru
penindasan agama dan politik di Inggris.

1674, Setelah menggelar pertemuan internal di Belanda, Kelompok Yahudi Internasional sepakat menguasai Kerajaan Inggris sepenuhnya dengan melengserkan King Charles II dan menaikkan seseorang yang bisa
dikendalikan, yakni King William III yang masih berdarah Dinasti
Hanover.

1683, Konspirasi berupaya membunuh King Charles II dan Duke of York tapi gagal.

1685, King Charles II meninggal dunia. Duke of York yang beragama  Katolik naik tahta dengan gelar King James II. Konspirasi menyebarka desas-desus untuk menentang raja baru itu. Rakyat banyak yang termakan isu ini. Akibatnya banyak rakyat yang ditangkap pihak kerajaan. Nama King James II menjadi tidak popular di mata rakyat.

1688, setelah King James II sudah tidak lagi mendapat dukungan rakyatnya, Konspirasi Yahudi Internasional memprovokasi pangeran William of Orange dari Belanda untuk menyerbu Ingg ris, dengan dukungan kapal-kapal perangnya menuju pantai Inggris. King James II akhirnya turun tahta dan kabur ke Perancis.

1689, William of Orange atau William III dan Queen of Mary –keduanya Protestan—mengukuhkan diri sebagai Raja dan Ratu Inggris. Sementara itu James II kabur lagi ke Irlandia, sebuah wilayah Katolik. Pasukan Inggris sendiri terpecah antara yang Protestan dengan yang Katolik. Yang Protestan mendukung William III sedang yang Katolik berupaya mengembalikan James II ke tahtanya. Perang saudara pun tak terelakkan pada 12 Juli 1689.


Sumber: ERAMUSLIM DIGEST EDISI 8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar