Dirangkum dari buku :
AIDS - Biological Warfare
Penulis : Thomas E. Bearden
“ Wabah AIDS akan berdampak pada masyarakat dalam
bentuk yang tidak
pernah terbayangkan. AIDS
100% fatal, ilmuwan
dan ahli medis
pesimis mampu menemukan
obat atau vaksin
AIDS dalam dua
dekade mendatang. Bahkan
Pejabat kesehatan publik
telah memperkirakan
sebanyak-banyaknya 2.4 milyar manusia (setengah
populasi dunia) akan
meninggal akibat AIDS dalam
waktu 15-20 tahun
mendatang.”
“Pada sisi ekonomi,
asuransi dan sistem jaminan
kesehatan akan diruntuhkan
pada periode 1990-an.
Dijamin tidak akan ada ter obosan medis yang spektakuler dalam
waktu dekat dan
membuat peradaban Barat
tetap menderita dari
prahara terburuk dalam
sejarah dunia.” Don Rowe,
Wall Street Digest,
214 Carnegie Center, Princeton,
New Jersey 08540.
Kasus pertama AIDS
di Amerika yang
resmi terdiagnosa muncul di
San Francisco tahun
1981. Kasus ini
mengikuti teka-teki penjangkitan
AIDS sebelumnya di
negara Dunia Ketiga seperti Afrika dan Haiti tahun 1970. Kasus pertama
AIDS di AS sepertinya
masih terbatas pada
komunitas gay , seperti
yang terjadi di
San Francisco.
Tidak ada yang
berusaha menyambungkan faktafakta
di atas yang
seolah terpisah, bahwa
sebelum munculnya kasus AIDS pertama di kalangan gay Amerika,
beberapa peristiwa terjadi :
(1) WHO telah
menyelesaikan program vaksinasi cacar
di Haiti, dan
(2) Komunitas
gay dari
pesisir barat AS,
seperti San Fransisco
selalu menjadikan Haiti
sebagai tempat berkumpul
dan acara acara liburan
lainnya.
Kebanyakan ahli media
ortodoks tidak pernah
mencurigai mengapa “ledakan” virus AIDS terjadi begitu
cepat ? Ya, hal itu
terjadi karena AIDS disusupkan dalam vaksin cacar
yang digunakan WHO di Haiti.
Relasi tingkat tinggi dan tersembunyi antara kampanye vaksinasi WHO dengan
penjangkitan baru AIDS.
THE “ MONKEY – BITE “
THEORY
Hal yang telah
jadi sangat umum
difahami soal awal mula
AIDS, seekor monyet
yang telah bermutasi
secara alami dan mengandung virus AIDS maupun strain turunannya
dipersalahkan sebagai penyebab
wabah terburuk yang akan
merontokkan setengah populasi
manusia di bumi.
Monyet itu diduga
telah menggigit seorang
pria Afrika dan
sekaligus menularkan virus
AIDS melalui ludah
dan gigitannya. Virus
itu kemudian secara
alami mengkombinasikan material
genetiknya dengan gen
manusia dan menghasilkan
strain baru yang
lebih berbahaya, yaitu
AIDS.
Strain virus baru
ini kemudian dari
medium tunggal tubuh pria
Afrika malang tersebut,
menyebar The "Monkey-Bite" Theory cepat
ke seluruh Afrika dan
dunia. Bagi saya, ini
teori yang sangat
tidak masuk akal.
Di Afrika, sebagai
contoh, monyet sebagaimana
halnya hewan lain
telah memiliki virus penyakit
tersendiri selama ribuan tahun,
jika virus itu adalah biang keladinya,
maka manusia pasti telah musnah oleh wabah AIDS sejak ribuan
tahun lalu. Bahkan
primata itu pun
pasti turut musnah. Satu
hal yang harus
dipahami, gigitan monyet dan
modifikasi sel manusia
dapat dipastikan sangat
jarang terjadi dalam
ribuan tahun sekalipun.
Bagaimanapun,
jika hal itu
sebuah rekombinasi natural
virus AIDS monyet
dengan seorang individu,
kontak normal antara
pria yang terinfeksi
itu dengan manusia lainnya tidak
cukup untuk menghasilkan wabah sebesar
yang terjadi hari ini. Hal yang paling masuk akal adalah
adanya bantuan atau
percepatan melalui mekanisme
eksternal, seperti tangan-tangan
manusia yang bekerja
dibalik kampanye vaksinasi
massal.
Sebagaimana yang ditunjukkan
oleh Dr. John
Seale, "Virus AIDS
(human immunodeficiency virus or
HIV) adalah sebuah lentivirus
sub famili dari retrovirus yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. Virus ini sangat patogenik
pada manusia, namun sangat
berbeda dari virus lain yang biasa menyerang
manusia...Sangat cepat menyebar
pada populasi di Afrika tengah, diantara kaum
gay dan pecandu
narkoba di Barat.
Ini adalah virus
pertama yang muncul pada manusia yang selama berabadabad sangatlah baru,
mematikan dan menyebar diam-diam dari
individu ke individu
di seluruh dunia.”
Dr. Seale dengan berani
menunjukkan beberapa fakta
yang dirasa mengganjal
:
(1) Retrovirus yang
berasal dari binatang,
jika berulangkali berpindah
dari kultur sel
manusia ke kultur
sel manusia lainnya,
kecenderungan dapat menginfeksi
sel manusia. Dan ia pun
mungkin mampu menginfeksi
binatang.
(2) Di tahun 1982,
Robert Weiss mengungkapkan
bahwa kode genetik
retrovirus biasanya berekombinasi
jika dua dari
mereka menginfeksi sel
yang sama terus
menerus.
(3) Di tahun
1984 sebuah artikel
dalam Journal of Virology
, David
Baltimore menunjukkan pengertian efektif dari
penanggulangan blokade sel
terhadap infeksi simultan
oleh dua atau
lebih retrovirus.
(4) Lebih lanjut,
Baltimore mengevaluasi dirinya
telah berhasil melakukan
terobosan besar seperti
yang dijelaskan pada
poin 3 di
atas.
(5) Di luar
laboratorium, rekombinasi multi
retrovirus simultan tidak
pernah terjadi secara
alami dalam tubuh manusia.
(6) Pada binatang,
terdapat beberapa bukti
kemungkinan retrovirus dapat
terjadi dengan frekuensi
yang secara ekstrim
jarang terjadi :
satu kali dalam
ribuan tahun.
(7) Pada awal
tahun 1970, sebuah
teknologi untuk membuat
rekombinasi retrovirus baru yang
berbahaya bagi manusia,
telah dikembangkan dan
dipublikasi secara luas.
Bagi orang awam,
infeksi dan reproduksi
oleh retrovirus adalah
sangat ganjil. Jika
retrovirus menginfeksi sebuah
sel, dari material
genetiknya sendiri (RNA)
ia membuat sebuah
“template” atau pola
(DNA) untuk mebentuk
retrovirus lain yang
serupa. Kemdian ia
menyisipkan “template DNA”
ke dalam DNA
sel target.
Sel target kemudian
dijadikan pusat produksi
retrovirusretrovirus
lainnya. Saat aktivasi,
template dalam sel
berubah jadi pabrik
produski retrovirus. Proses
aktivasi ini bervariasi,
saat sel tempat produksi tetap ‘tidur ,’
aktivasi bisa lambat
bertahun-tahun, atau berlangsung
seketika dan cepat
meningkatkan jumlah virus
berbahaya.
Secara genetik,
sel manusia yang terinfeksi AIDS
maupun virus rekombinasi
retrovirus lainnya telah mengalami transformasi
permanen. Secara harfiah,
telah memperoleh satu set
gen baru dan
mengkonversi dirinya Jadi sebu ah
“ pabrik ” untuk me mproduksi dan menyebarkan virus
tersebut.
Pusat Riset
Kanker
Memproduksi Agen Senjata
Biologi Ideal
T ahun 1971, Presiden
Nixon menandatangani undang-undang National Cancer Attack Act. Meski tidak diharapkan
oleh Presiden dan
Kongres, dampak negatif
dari UU ini yaitu
dana wajib banyak digunakan
untuk riset dan
pengembangan suatu obyek
yang paling mematikan
dari virus senjata
biologi.
Usaha
laboratorium riset medis berkesinambungan untuk mengubah virus
tumor binatang, termasuk retrovirus untuk mereplikasi dalam
sel manusia, mengalami percepatan
drastis. Sebagai bagian
dari program “perang
terhadap kanker,” dana
riset justru beralih
digunakan untuk mengembangkan
retrovirus berbahaya yang
potensial digunakan sebagai
senjata biologi.
Tidak hanya itu,
adanya partisipasi ilmuwan Komunis Soviet dalam proyek
tersebut turut berkontribusi
memperkuat proyek senjata
biologi kedua negara
(ASSoviet). Sangat mengejutkan, undangan
terbuka pada ilmuwan
Soviet dikeluarkan saat
prioritas utama KGB
adalah menginfiltrasi laboratorium riset genetik retrovirus AS.
Dalam
laboratorium riset kanker,
retrovirus binatang disuntikkan
ke dalam kultur sel manusia, hingga
virus rekombinasi itu
efektif, efisien dan
mematikan tumbuh dalam
sel manusia sebagai
mediumnya.
Pada poin itu,
infeksi satu atau
lebih individu dengan
retrovirus tersebut dapat
menyebabkan wabah mirip
AIDS secara massif
pada seluruh ras
manusia. Kini kita melihat
bahwa kedua negara
adi daya saat itu telah membuat virus AIDS di Fort Detrick, sebuah fasilitas riset AD
Amerika. Ini informasi
substansial yang menunjukkan bahwa
penyakit AIDS adalah produk tangan
manusia, yang dengan sengaja disebarkan oleh Soviet, AS
dan diperbesar oleh
peneliti Eropa lainnya. Unt uk memastikan
pelepasan global virus mematikan, mereka
mencemari vaksin cacar
yang Pusat Riset Kanker
Memproduksi Agen Senjata
Biologi Ideal dipersiapkan dalam
jumlah besar oleh
lab-lab negara Barat.
V aksin yang terkontaminasi ini
kemudian secar luas
digunakan untuk menyuntik rakyat Negara Dunia Ketiga, khususnya
Afrika, Amerika Selatan
dan Haiti, dalam
program internasional memerangi
wabah cacar .
Data – Data Awal
Penyebaran Aids
Sebuah indikasi kuat
bahwa vaksin cacar
sendiri adalah agen perintis
untuk memulai infeksi AIDS. Dalam
artikel yang mengejutkan
berjudul, "Smallpox vaccine
'triggered Aids virus',"
dalam harian London
Times 11 Mei
1987, seorang editor
sains Pearce Wright
mengumumkan bahwa epidemi
AIDS mungkin disebabkan oleh program
vaksinasi cacar World
Health Organization (WHO)
di Negara Dunia
Ketiga.
Artikel penting lain dalam koran
Easy Reader, 4 June ,
Jon Rappoport melaporkan
artikel dalam majalah
Times dan hasil
wawancara dengan Robert
Matthews, koresponden majalah
Times. Menurut Rappoport, Matthews menginformasikan bahwa
WHO sendiri bagaimanapun telah
dicurigai program vaksinasinya berhubungan dengan
AIDS. Konsultan eksternal
telah dipekerjakan untuk
melakukan kajian independen
dan hasilnya memastikan
vaksin WHO sebagai
penyebab wabah AIDS
yang tersebar dalam pasien
program vaksinasinya.
Sangat disayangkan, WHO
segera “mengubur” laporan
tim konsultan independen di atas.
Sikap WHO itu tidak lantas membuat
tim konsultan putus
asa, mereka memasukan
laporannya ke majalah
Times dan dimuat. Kisah
yang mengejutkan ini
berhasil menunjukkan sebuah alur hubungan : “T eori vaksin cacar
akan memulai cerita di
Afrika T engah sebagai
negara yang paling
dirugikan di Afrika, sebagaimana Brazil di Amerika Latin
dan bagaimana Haiti menjadi rute
penyebaran AIDS ke Amerika Serikat.
Brazil, satu-satunya negara
di Amerika selatan yang
memperoleh kampanye vaksinasi
cacar, menunjukkan angka
tertinggi kasus AIDS
diwilayahnya.”
Rappoport memastikan bahwa
"vaksin yang terbuat dari
bagian jaringan lunak
hewan, berisi ‘ekstra’ virus berbahaya."
Laporan kasus lainnya
diperoleh dari militer AS,
personel baru AD
AS secara rutin
diberikan vaksin anti berbagai penyakit.
Salah satunya vaksin
cacar, sebagai antisipasi
bilamana musuh menggunakan
virus cacar sebagai senjata
biologi dalam perang. Fakta mengejutkan lalu muncul, seorang kadet militer berusia 19 tahun yang sepenuhnya sehat,
dalam tubuhnya berkembang
virus AIDS setelah
mendapat vaksinasi. Kadet
malang itu dibawah ke Walter Reed
Army Medical Center, dan
wafat di
sana.
Dalam sebuah
artikel yang dimuat
New England Journal of
Medicine, tim medis
Walter Reed Army
Medical Center melaporkan
temuan adanya hubungan
antara vaksinasi dan
stimulasi penyakit AIDS.
Mereka pun memperingatkan rencana
WHO untuk menggunakan
vaksin cacar yang
telah dimodifikasi untuk
memerangi wabah penyakit
lainnya di negara-negara
berkembang.
Akhirnya program vaksinasi
WHO yang telah
berjalan hampir 13
tahun diakhiri pada
tahun 1980. Program tersebut dipuji karena telah menyelamatkan dua juta
jiwa setiap tahun
dan mencegah 15
juta lainnya terinfeksi. Jelas pujian ini tidak
mempertimbangkan kasus pencemaran vaksin cacar dengan virus AIDS seperti
yang terjadi di
Afrika T engah, Brazil
dan Haiti.
Dalam sebuah pertemuan
50 pakar dunia
di Genewa bulan
Mei 1987, diketahui
bahwa jutaan kasus
baru AIDS akan melanda
wilayah Afrika Tenggara. Pakar pakar
tersebut percaya, hingga 75 juta penduduk di
Afrika Tenggara - atau sekitar
sepertiga populasi, akan
terinfeksi AIDS dalam
lima tahun mendatang.
Virus Baru, Senjata
Baru
Virus AIDS yang
dilepaskan tim Special Virus
Program diketahui mampu hidup di
luar tubuh hingga 15 hari. Bahkan,
virus AIDS sangat
tidak stabil, selalu
bermutasi dan berubah bentuk. Dengan kata lain :
"highly adaptable ,
" ter us menye s ua ikan diri
deng an lingkungannya dengan rata-rata
jutaan kali lebih
cepat dari adaptasi virus biasa yang stabil. Sifat ini
berimplikasi pada kemampuan virus
mutan ini adaptasi dalam tubuh nyamuk
macan di Asia dan masuk ke dalam
tubuh manusia melalui gigitannya.
Nyamuk macan asia
tampaknya dimanfaatkan sebagai
salah satu pengangkut
virus untuk secepatnya
meningkatkan jumlah infeksi
AIDS dan memusnahkan
populasi penduduk Amerika
dan dunia.
Data terakhir dari
Alabama menunjukkan kasus penyakit ini terus berlipat ganda
setiap enam bulan, bukan per tahun.
T ermasuk interval waktu
penggandaan sendiri mengalami
pemendekan, seperti yang
terlihat sekarang. Jika
data ini merupakan
indikasi sesungguhnya, dunia
benar-benar akan menghadapi
ledakan wabah infeksi
AIDS tidak kurang
dari dua atau
tiga tahun lagi.
Sebagai tambahan, dikarenakan virus AIDS tidak stabil
dan selalu bermutasi
dengan cepat, menyebabkan
pengembangan vaksin yang
efektif jadi mustahil.
Para pakar biomedis akan
selalu menghadapi data-data
baru, tentang virus
yang selalu berubah,
mereka nyaris tidak memiliki apa-apa
sebagai bekal untuk
memproduksi vaksin AIDS. Intinya,
AIDS tidak dapat
dihentikan.
Bahkan,
baru-baru ini diketahui
bahwa virus AIDS
jauh lebih rumit
dari yang dibayangkan,
dan menyerang dalam
lebih banyak cara
dari yang dibayangkan.
Ia terus mengalami
per ubahan dalam tub uhnya
yang meningkatkan
keganasannya seiring perkembangan penyakit.
Macrophages ,
sel sistem immun yang Virus Baru,
Senjata Baru memakan bakteri dan
virus jahat pun
turut terinfeksi dan
mengangkut virus AIDS
kepada sel-sel tubuh
lainnya.
Tampaknya, macrophages telah membawa virus AIDS ke sel T
, memulai kondisi
penghancuran sistem kekebalan
tubuh. Macrophages yang
terinfeksi ditemukan materil
rektum pasien AIDS, cairan cervic, dan air mani. Dengan material-material itulah,
seseorang dapat menularkan
AIDS ke sesamanya.
Sel sistem kekebal an
lainnya seper ti sel Langerhans, turut
dicurigai menjadi pengangkut
virus AIDS bilamana ia terinfeksi.
Hasil akhirnya adalah, ketika
pasien AIDS semakin
sakit, keganasan virus
AIDS meningkat dan menyerang sejumlah
besar varian sel yang dengan mudah
diinfeksi olehnya.
Deadly Truth
Kebenaran yang mematikan,
karena National Cancer
Institute (NCI-Frederick) beserta
37 lembaga mitra bergabung di Fort Detrick,kira-kira 20 menit dari Bethesda,
Maryland. Fort Detrick
adalah markas bagi
United States Army
Medical Research and
Materiel Command ( I S A M R M C ) . Dimana missi
utamanya menc akup riset
da n p engembangan biomedis ,
dimana virus AI DS dikembangkan, bukan
berasal dari monyet
seperti yang selama
ini difahami.
Dalam artikel
di OnlineJournal.com tahun 2005
yang berjudul “
The AIDS virus:
Made in the
USA?”, Jerry Mazza melaporkan
bahwa "Dr . Robert
Strecker mengindikasikan bahwa
virus A I D S faktanya dikembangkan
oleh National Cancer
Institute, yang bekerja sama
dengan World Health Organization
(WHO), dalam sebuah
laboratorium diFt. Detrick,
Maryland. Sejak 1970-74, lab
ini adalah bagian
dari unit senjata
kuman militer AS,
dikenal dengan : the
Army Infectious Disease Unit,
atau Special Operations division , atau
the Army's Chemical
and Biological Warfare
Laboratory .
Pasca 1974, fasilitas
itu berganti nama
jadi National Cancer Institute
(NCI). Menurut peneliti William
Cooper (mantan pejabat
intelijen AL AS),
yang dikutip dalam
artikel Larry Jamison :
“Is The AIDS
Virus Man Made
?,” Proyek dalam NCI di
bawah pengawasan CIA dengan
sandi proyek MK-NAOMI.
Dr Boyd Grave menerangkan sandi
proyek CIA, “MK-NAOMI
adalah sandi bagi
pengembangan AIDS. Istilah
“MK” adalah sandi
bagi dua co-author
virus AIDS, yaitu
Robert Manaker dan
Paul Kotin. “NAOMI” sendiri
berarti “Negroes Are Only
Momentary Individuals.”
Dr Strecker pun telah
melacak beberapa identitas
peneliti dan proyek
risetnya di Ft.
Detrick/NCI hingga menemukan
adanya sekelompok ilmuwan
Jepang yang tertangkap
pada akhir Perang Dunia II, mereka diberikan amnesti
sebagai imbalan atas
informasi dan data
riset senjata biologis
yang mereka berikan
pada militer AS.
Termasuk adanya fakta dan data sejumlah ilmuwan
RusiaSoviet terlibat dalam
proyek ini.
Tim ilmuwan yang
menciptakan virus AIDS
ini dipimpin oleh
Dr. Robert Gallo,
yang kemudian mengklaim
telah menemukan virus tersebut. Dr.
Gallo dan timnya telah
menciptakan virus AI DS
dengan mengkombinasikan
virus leukemia sapi
dan virus visna yang
biasa menyerang kambing
di Jerman, kemudian
disuntikkan ke dalam
kultur jaringan lunak
manusia.
“Tim AIDS menemukan
bahwa virus leukemia
sapi sangat mematikan
pada hewan tersebut,
tetapi tidak pada
manusia. Begitupun virus
visna mematikan bagi
kambing, tetapi tidak
bagi manusia. Bagaimanapun,
ketika digabungkan, mereka
memproduksi sebuah retrovirus
yang mampu merubah
komposisi genetik sel
yang dimasuki. Bahkan,
uji coba lapangan
awal terhadap narapidana
menghasilkan sakit yang
parah dan berujung
kematian. Fakta itu
menginsipirasi Dr. Gallo dan tim
untuk menciptakan virus
yang lebih hebat
dan mengerikan, termasuk
mereka tega menginjeksi
saudara laki-laki dan
perempuannya sebagai kelinci
percobaan vaksin yang
tercemar , untuk melihat
siapa yang meninggal
duluan.
Sejumlah uji coba
dilakukan untuk mempelajari
HLA (human leukocyte antigen) dan
melihat bagaimana obyek tes bereaksi.
Menakutkan, seluruh keluarga
sakit seketika ! Dr.
Strecker menyatakan, “Cara
kerja retrovirus AIDS
dengan menghancurkan sistem
immun, yang fundamental diserang
adalah sel darah putih
(T -cells). AZT , obat
yang mirip junk
food dan membuat
virus AIDS semakin
lapar , beberapa kali
membunuh pasien.”
Informasi lain yang
cukup valid dinyatakan
oleh Dr. Alan
Cantwell dalam artikelnya
“The Man-Made Origin of AIDS,” yang dimuat dalam Rense.com
11 April 2004 : “Visna
virus dipindahkan ke dalam babi, lembu
dan sel manusia
menyebabkan infeksi produktif
sebelum munculnya HIV
dimana-mana.”
Alant Cantwell, dokter
yang telah menulis
dua buku menghebohkan tentang AIDS, yaitu
: “AIDS and
The Doctors of Death, an
Inquiry Into The
Origins of The AIDS
Epidemic” dan “Queer Blood, The Secret
AIDS Genocide Plot,” menyatakan
“Saya yakin, berdasarkan
16 tahun investigasi
bahwa HIV adalah
senjata strategis yang
didesain untuk membunuh
milyaran manusia dalam
kekejaman yang perlahan
dan tak terungkap.
Modus penyebarannya dilakuan
dengan dua proyek
vaksinasi berbeda ). Program
vaksinasi cacar di Afrika oleh WHO akhir 1960, b). Program vaksinasi
hepatitis-B di Amerika Serikat pada pertengahan
dan akhir 1970.
“Lebih dari
itu,” lanjut Cantwell, “jelaslah bahwa
kontaminasi vaksin bukanlah
kecelakaan. Itu dilakukan
dengan tujuan ‘menyusutkan gembala,’
cara berpikir yang mirip NAZI
yang secara rahasia
berperan dibalik kebijakan
pengaturan populasi sejak
1870. Kebijakan politik
yang sama meliputi WHO dan rata-rata
riset medis Barat abad 20. Dan sikap politik rasis ini masih tetap
mencengkram : etnis non kulit putih,
termasuk kaum gay kulit putih sudah
merugikan proses evolusi
ras manusia.
Bisnis Virus Dan
Persediaan Darah
Jauh sejak awal mula AIDS, ilmuwan pemerintah mengklaim virus HIV
benihnya dari virus
primata, baik simpanse
maupun monyet di hutan
Afrika. Dari primata
itulah dipercaya virus HIV mengkontaminasi populasi
kulit hitam Afrika.
Bertahun-tahun
kemudian, dipelajari adanya hubungan antara
eksperimen vaksin hepatitis
B di pusat penyimpanan darah
New Y ork (New Y ork Blood Center) dengan labroratorium
eksperimen primata di
Afrika. Tahun 1974,
Albert Prince, kepala virus
lab NY Blood
Center mendirikan lab riset
virus simpanse (VILAB)
di Afrika sekaligus duduk sebagai direkturnya.
Simpanse-simpanse ditangkap dari
berbagai daerah di Afrika Barat dan
dibawa ke VILAB.
Setelah mengalami
eksperimentasi, simpansesimpanse tersebut
dilepaskan kembali ke
habitatnya.
Monyet - mony t
yang telah tercemari
ini , besar memungkinan salah
satunya menggigit manusia
dan menularkan virus HIV . Disinilah lahirnya “Monkey
bites ntheory .”
Salah satu cabagnya, VILAB II di Liberian Institute for Biomedical Research
di Rebertsfield, Liberia, telah mengembangkan vaksin
hepatitis B dalam
simpanse. Beberapa tahun
kemudian, vaksin itu
disuntikkan ke relawan-relawan gay
di Blood Center.
Sangat berhubungan dengan
pengembangan vaksin
hepatitis B, yaitu
koloni primata diluar
kota New Y ork yang disebut LEMSIP (Laboratory for
Experimental Medicine and
Surgery). Hingga dibubarkan
pada tahun 1997,
LEMSIP mensuplai
ilmuwan-ilmuwan di wilayah
New York dengan primata dan organ tubuhnya untuk riset transplantasi
dan virus.
Didirikan tahun 1965, LEMSIP berafiliasi dengan New Y
ork University Medical
Center, dimana kasus pertama
AIDS ditemukan tahun
1979. menurut Leonar
Horowitz penulis buku
“Emerging Viruses :
AIDS and Ebola,” peneliti di NYU Medical Center juga
terlibat jauh proyek pengembangan vaksin
hepatitis B yang digunakan komunitas gay
, lembaga itu
pun menerima bantuan dana dan kontrak
dengan riset senjata
biologis sejak tahun
1969.
Genocide Plot
Mengejutkan, ada selebriti kulit hitam seperti Bill Cosby,
Grace Jones dan Will
Smith yang menyatakan
bahwa AIDS adalah
penyakit buatan manusia.
Meski kemudian media
segera berganti topik
wawancaranya.
Seorang pembuat film
Rolling Stone, Spike
Lee (kulit hitam)
memprediksi bahwa akan
ada banyak manusia yang
menginginkan penjelasan soal AIDS
suatu hari nanti. Bagaimana bisa suatu
penyakit misterius dan tak tersembuhkan muncul dan
membidik sasaran spesifik :
gay dan minoritas
? Lee berpikir penyakit misterius itu adalah agenda genocide
tersembunyi. Dia meyakinkan
bahwa AIDS adalah
penyakit ciptaan pemerintah.
Apakah Lee seorang
paranoid ? Dia
berteriak : “Anda
mungkin berpikir saya gila
tentang hal ini. T
etapi saya yakin
tidak !”
Berdasarkan statistik
terakhir
yang diposting di internet, sekitar
20 juta jiwa
di seluruh dunia
telah meninggal karena AIDS; 40
juta lainnya terinfeksi
HIV , rata-rata dari
wilayah sub Sahara
Afrika; dan 600.000
warga Amerika telah
wafat.
Mayoritas angka korban
HIV -AIDS diderita kalangan kulit hitam,
memunc ulkan pandangan pembersihan
etnis negro di dunia. Sebuah
editorial New Y ork
Times berjudul “The ‘AIDS
Plot’ Against Blacks” 12 Mei
1992, menekankan bahwa
“ganjil bagi mayoritas
orang, banyak warga kulit hitam Amerika percaya bahwa AIDS
dan seluruh perangkat
kesehatan digunakan melawan mereka
sebagai bagian dari
persekongkolan untuk membersihkan
ras kulit hitam.”
Dalam komuniats gay , sebuah laporan tahun 1986 menunjukkan 20% pria
yang menjalani eksperimen vaksin
hepatitis B terinfeksi
HIV pada akhir
tahun 1981 dan
1984. Lebih dari
40% dari pria
positif HIV itu
kemudian tewas. Studi berikutnya
menunjukkan sekitar 8.906 pria homoseks yang
mendonorkan darahnya dalam eksperimen
hepatitis di Manhattan, menunjukkan
statistik bahwa tingkat
kematian pria homoseks
usia 25-44 mulai meningkat pada
era 1980-an dengan
AIDS sebagai penyebabnya. Menakjubkan, tingkat kematian
pada tahun 1988, 24
kali lebih tinggi
dari angka kematian
saat permulaan epidemi AIDS.
Takdir 120 pria
gay yang mengikuti
tes vaksin hepatitis
B di Manhattan berada
ditangan para dokter .
Jelaslah, 58 pemuda
gay telah tewas,
93% karena AIDS.
Kontaminasi HIV
melalui ujicoba vaksin hepatitis B di
Manhattan era 1970-an,
adalah sebuah upaya
sadar untuk melikuidasi
komunitas gay lalu
menyalahkan perilaku homoseks
sebagai sebab penyebaran
penyakit AIDS pada
populasi penduduk.
Gugatan lainnya berkenaan
dengan AIDS terjadi pada 14 Maret 2008, dimana warga Amerika dibuat geram oleh
video klip membakar
dari berbagai ceramah Reverrend Jeremiah
Wright.
Pemirsa TV melihat
sang pendeta berkata “Pemerintah AS
menciptakan AIDS demi
program pembersihan etnis kaum
kulit hitam.” Wright
pun berteriak “God
damn Amerikca!” Sebagai penasehat
spiritual Barack Obama, retorika Wright
berpotensi membahayakan kampanye
pencalonan Obama dalam
pilpres 2008 lalu.
Wright, melayani sebagai pastor
di Trinity United Church
Chicago, dimana Obama
sebagai salah satu
jemaahnya. Kali itu,
dengan cepat Obama
menjaga jarak dari
Wright, meski menolak
mengadukannya.
Media-media
Amerika, seperti biasa,
menuduh Wright sebagai
seorang pengkhayal yang
berlebihan. Ini mengabaikan
fakta adanya hasil polling yang menunjukkan ras
Afro-Amerika percaya AIDS
adalah buatan manusia dan
upaya membersihkan etnis non
kulit putih dan
kalangan tak normal
(gay/lesbi).
Meski, acara-acara ceramahnya diblokade media media
Amerika, banyak ilmuwan
dan peneliti kulit
putih yang mendukung serta setuju dengan pandangan Wright. Termasuk
diantaranya Alan Cantwell,
Jerry Mazza (onlinejurnal.com), Dr.
Strecker dan banyak
lagi, yang telah
banyak meneliti dan
menulis tentang AIDS
selama lebih dari
dua dekade.
Dalam sebuah berita
di Reuters 18
Desember 2004, partai
berkuasa di Afrika
Selatan menuduh para pejabat
tinggi di AS memperlakukan orang Afrika
seperti “tikus-tikus” di
tengah berbagai pertanyaan
tentang eksperimen vaksin
AIDS yang dilakukan
AS di Afrika.
Kongres Nasional Masyarakat
Afrika (ANC) menyebutkan
dalam web resminya
bahwa pejabat kesehatan AS
telah “berkonspirasi” dengan
perusahaan obat Jerman
Boehr inger Ingelhei m untuk menyembunyikan efek
merugikan dari nevirapine
ketika diujicobakan pada
populasi Afrika sebagai
vaksin AIDS untuk
mencegah penularan dari
ibu pada anak.
Efek keras nevirapine
yang diujicoba pada perempuan hamil
Uganda mengakibatkan cacat
dan konsumsi dosis tunggal
nevi rapine menyebabkan kekebalan terhadap
obat yang sama
dimasa akan datang.
HIV -AIDS telah
membunuh hingga 2.2 juta
orang di Afrika tahun 2003 atau
2/3 dari 38 juta orang penderita AIDS di
dunia hidup di sub Sahara
Afrika, demikian menurut PBB.
Afrika Selatan adalah negara
dengan kasus HIV -AIDS tertinggi
di dunia.
Jelaslah , AI DS tidak
lain adalah upaya mengurangi populasi dunia. Pada awalnya sasaran AIDS sangat
spesifik, yaitu kaum
gay dan negro.
T etapi kini, seiring
merebaknya free sex,
narkoba dan perilaku
menyimpang lainnya, AIDS
menyebar tanpa batas
etnis, geografi, agama
dan bahasa. Siapapun
bisa terkena, termasuk
bayi yang tak
berdosa.
Secara tidak sadar,
para pemuja kebebasan
perilaku - termasuk
seks dan pecandu
telah menjadi pemulus jalan
terwujudnya New World Order/One
World Goverment yang
dikendalikan sekte Freemason
dan Illuminati.
Sejauh ini tidak
ada obat yang
efekti f menyembuhkan AIDS, tetapi
kita masih punya
benteng kokoh, yaitu : Agama.
Berhentilah jadi pecandu narkoba, tidak
melakukan seks bebas,
praktek homoseksual dan
lesbian. Itu satu-satunya
menghentikan AIDS dan secret
agenda dibelakangnya.
Sumber: Majalah Online Suara Bawah Tanah
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar