Jumat, 26 September 2014

AIDS a Biological Warfare





Dirangkum dari buku  : AIDS - Biological Warfare
Penulis : Thomas E. Bearden

“ Wabah    AIDS akan berdampak pada masyarakat  dalam  bentuk  yang  tidak  pernah  terbayangkan.  AIDS  100%  fatal,  ilmuwan  dan  ahli  medis  pesimis  mampu  menemukan  obat  atau  vaksin  AIDS  dalam  dua  dekade  mendatang.  Bahkan  Pejabat  kesehatan  publik  telah  memperkirakan sebanyak-banyaknya  2.4  milyar manusia   (setengah  populasi  dunia)  akan  meninggal  akibat  AIDS dalam  waktu  15-20  tahun  mendatang.”
“Pada sisi ekonomi, asuransi dan sistem jaminan  kesehatan  akan  diruntuhkan  pada  periode  1990-an.  Dijamin tidak akan ada ter obosan medis yang spektakuler  dalam  waktu  dekat  dan  membuat  peradaban  Barat  tetap  menderita  dari  prahara  terburuk  dalam  sejarah  dunia.” Don  Rowe,  Wall  Street  Digest,  214  Carnegie  Center,  Princeton,  New  Jersey  08540.

Kasus  pertama  AIDS  di  Amerika  yang  resmi  terdiagnosa  muncul di  San  Francisco  tahun  1981.  Kasus  ini  mengikuti  teka-teki  penjangkitan  AIDS  sebelumnya  di  negara Dunia Ketiga seperti Afrika dan Haiti tahun 1970.  Kasus pertama  AIDS   di  AS sepertinya  masih terbatas  pada komunitas  gay ,  seperti  yang  terjadi  di   San  Francisco.
Tidak  ada yang berusaha menyambungkan faktafakta  di  atas  yang  seolah  terpisah,  bahwa  sebelum  munculnya kasus  AIDS pertama di kalangan gay  Amerika,  beberapa peristiwa terjadi : 

(1)  WHO telah menyelesaikan program  vaksinasi  cacar  di  Haiti, dan 

(2)  Komunitas gay  dari  pesisir  barat  AS,  seperti  San  Fransisco  selalu  menjadikan  Haiti  sebagai  tempat  berkumpul  dan  acara acara  liburan  lainnya.

Kebanyakan  ahli  media  ortodoks    tidak  pernah  mencurigai mengapa “ledakan” virus AIDS terjadi  begitu  cepat ?  Ya, hal    itu  terjadi  karena    AIDS disusupkan dalam  vaksin cacar  yang digunakan  WHO di Haiti. Relasi tingkat  tinggi  dan tersembunyi  antara kampanye vaksinasi WHO   dengan  penjangkitan  baru  AIDS.




THE “ MONKEY – BITE “ THEORY





Hal  yang  telah  jadi  sangat  umum  difahami  soal awal  mula  AIDS,  seekor  monyet  yang  telah  bermutasi  secara  alami  dan mengandung virus AIDS maupun strain  turunannya  dipersalahkan  sebagai  penyebab  wabah terburuk  yang  akan  merontokkan  setengah  populasi  manusia  di  bumi.
Monyet  itu  diduga  telah  menggigit  seorang  pria  Afrika  dan  sekaligus  menularkan  virus  AIDS  melalui  ludah  dan  gigitannya.    Virus  itu  kemudian  secara  alami  mengkombinasikan  material  genetiknya  dengan  gen  manusia  dan  menghasilkan  strain  baru  yang  lebih  berbahaya,  yaitu  AIDS.

Strain  virus  baru  ini  kemudian  dari  medium tunggal  tubuh  pria  Afrika  malang  tersebut,  menyebar  The  "Monkey-Bite"  Theory cepat  ke  seluruh  Afrika dan  dunia.  Bagi saya,  ini  teori  yang  sangat  tidak  masuk  akal.

Di  Afrika,  sebagai  contoh,  monyet  sebagaimana  halnya  hewan  lain  telah  memiliki virus   penyakit  tersendiri  selama ribuan tahun, jika virus itu adalah biang keladinya,  maka manusia pasti telah musnah oleh wabah AIDS sejak  ribuan  tahun  lalu.  Bahkan  primata  itu  pun  pasti  turut  musnah. Satu  hal  yang  harus  dipahami,  gigitan  monyet dan  modifikasi  sel  manusia  dapat  dipastikan  sangat  jarang  terjadi  dalam  ribuan  tahun  sekalipun.

Bagaimanapun,  jika  hal  itu  sebuah  rekombinasi  natural  virus  AIDS  monyet  dengan  seorang  individu,  kontak  normal  antara  pria  yang  terinfeksi  itu  dengan  manusia lainnya  tidak  cukup  untuk  menghasilkan wabah  sebesar  yang terjadi  hari ini.  Hal yang paling masuk akal  adalah  adanya  bantuan  atau  percepatan  melalui  mekanisme  eksternal,  seperti  tangan-tangan  manusia  yang  bekerja  dibalik  kampanye  vaksinasi  massal.

Sebagaimana  yang  ditunjukkan  oleh    Dr.  John  Seale,   "Virus    AIDS   (human immunodeficiency virus or  HIV) adalah sebuah   lentivirus sub famili dari   retrovirus  yang tidak pernah dipelajari sebelumnya.    Virus ini sangat  patogenik    pada manusia, namun sangat  berbeda dari virus  lain  yang  biasa  menyerang  manusia...Sangat  cepat menyebar pada  populasi  di Afrika tengah,  diantara  kaum  gay  dan  pecandu  narkoba  di  Barat.    Ini  adalah  virus  pertama yang muncul pada manusia yang selama berabadabad sangatlah baru, mematikan dan menyebar diam-diam dari  individu  ke  individu  di  seluruh  dunia.”

Dr.  Seale  dengan  berani  menunjukkan  beberapa  fakta  yang  dirasa  mengganjal  :

(1)  Retrovirus  yang  berasal  dari  binatang,  jika  berulangkali  berpindah  dari  kultur  sel  manusia  ke  kultur  sel  manusia  lainnya,  kecenderungan  dapat  menginfeksi  sel  manusia.  Dan   ia  pun  mungkin  mampu  menginfeksi  binatang.

(2)  Di tahun  1982,  Robert Weiss  mengungkapkan bahwa  kode  genetik  retrovirus  biasanya  berekombinasi  jika  dua  dari  mereka  menginfeksi  sel  yang  sama  terus  menerus.

(3)  Di  tahun    1984  sebuah  artikel  dalam  Journal  of  Virology ,  David  Baltimore  menunjukkan  pengertian efektif  dari  penanggulangan  blokade  sel  terhadap  infeksi  simultan  oleh  dua  atau  lebih   retrovirus.

(4)  Lebih  lanjut,  Baltimore  mengevaluasi  dirinya  telah  berhasil  melakukan  terobosan  besar  seperti  yang  dijelaskan  pada  poin  3  di  atas.

(5)  Di  luar  laboratorium,  rekombinasi  multi  retrovirus  simultan  tidak  pernah  terjadi  secara  alami  dalam  tubuh  manusia.

(6)  Pada  binatang,  terdapat  beberapa  bukti  kemungkinan  retrovirus  dapat  terjadi  dengan  frekuensi  yang  secara  ekstrim  jarang  terjadi  :  satu  kali  dalam  ribuan  tahun.

(7)  Pada  awal  tahun  1970,  sebuah  teknologi  untuk  membuat  rekombinasi  retrovirus  baru  yang  berbahaya  bagi  manusia,  telah  dikembangkan  dan  dipublikasi  secara  luas.

Bagi  orang  awam,  infeksi  dan  reproduksi  oleh  retrovirus  adalah  sangat  ganjil.  Jika  retrovirus  menginfeksi  sebuah  sel,  dari  material  genetiknya  sendiri  (RNA)  ia  membuat  sebuah  “template”  atau  pola  (DNA)  untuk  mebentuk  retrovirus  lain  yang  serupa.  Kemdian  ia  menyisipkan  “template  DNA”  ke  dalam  DNA  sel  target.

Sel  target  kemudian  dijadikan  pusat  produksi  retrovirusretrovirus   lainnya.  Saat  aktivasi,  template  dalam  sel  berubah  jadi  pabrik  produski  retrovirus.  Proses  aktivasi  ini  bervariasi,  saat sel tempat produksi tetap ‘tidur ,’  aktivasi bisa lambat  bertahun-tahun,  atau  berlangsung  seketika  dan  cepat  meningkatkan  jumlah  virus  berbahaya.

Secara genetik,    sel  manusia yang terinfeksi  AIDS  maupun  virus  rekombinasi  retrovirus  lainnya  telah mengalami  transformasi  permanen.  Secara  harfiah,  telah  memperoleh satu  set  gen  baru  dan  mengkonversi dirinya  Jadi   sebu ah   “ pabrik ”   untuk   me mproduksi   dan menyebarkan  virus  tersebut.



 Pusat  Riset  Kanker  Memproduksi  Agen  Senjata  Biologi  Ideal





T ahun  1971,  Presiden  Nixon  menandatangani  undang-undang   National Cancer Attack Act. Meski tidak  diharapkan    oleh  Presiden  dan  Kongres,  dampak  negatif  dari  UU ini    yaitu  dana  wajib banyak  digunakan  untuk  riset  dan  pengembangan  suatu  obyek  yang  paling  mematikan  dari  virus  senjata  biologi.

Usaha   laboratorium   riset   medis berkesinambungan untuk mengubah virus tumor  binatang,  termasuk retrovirus untuk mereplikasi dalam sel manusia,  mengalami  percepatan  drastis.    Sebagai  bagian  dari  program  “perang  terhadap  kanker,”  dana  riset  justru  beralih  digunakan  untuk  mengembangkan  retrovirus  berbahaya  yang  potensial  digunakan  sebagai  senjata  biologi.

Tidak  hanya  itu,  adanya  partisipasi  ilmuwan Komunis Soviet dalam proyek tersebut  turut  berkontribusi  memperkuat  proyek  senjata  biologi  kedua  negara  (ASSoviet).  Sangat  mengejutkan,    undangan  terbuka  pada  ilmuwan  Soviet  dikeluarkan  saat  prioritas  utama  KGB  adalah menginfiltrasi laboratorium riset genetik retrovirus AS.

Dalam  laboratorium  riset  kanker,  retrovirus  binatang disuntikkan ke dalam kultur sel manusia, hingga  virus  rekombinasi  itu  efektif,  efisien  dan  mematikan  tumbuh  dalam  sel  manusia  sebagai  mediumnya.
Pada  poin  itu,  infeksi  satu  atau  lebih  individu  dengan  retrovirus  tersebut  dapat  menyebabkan  wabah  mirip  AIDS  secara  massif  pada  seluruh  ras  manusia. Kini  kita  melihat    bahwa  kedua  negara  adi  daya  saat itu telah membuat virus  AIDS di Fort Detrick, sebuah  fasilitas riset  AD  Amerika.   Ini informasi substansial yang  menunjukkan bahwa penyakit  AIDS adalah produk tangan manusia, yang dengan sengaja disebarkan oleh Soviet,  AS  dan  diperbesar  oleh  peneliti  Eropa  lainnya. Unt uk  memastikan  pelepasan  global   virus mematikan,  mereka  mencemari  vaksin  cacar  yang Pusat  Riset  Kanker  Memproduksi  Agen  Senjata  Biologi  Ideal dipersiapkan  dalam  jumlah  besar  oleh  lab-lab  negara  Barat.

V aksin  yang  terkontaminasi  ini  kemudian  secar  luas  digunakan untuk menyuntik rakyat Negara Dunia Ketiga,  khususnya  Afrika,  Amerika  Selatan  dan  Haiti,  dalam  program  internasional  memerangi  wabah  cacar .



Data – Data Awal Penyebaran Aids






Sebuah  indikasi  kuat  bahwa  vaksin  cacar  sendiri  adalah agen perintis untuk memulai infeksi AIDS. Dalam  artikel  yang  mengejutkan  berjudul,  "Smallpox  vaccine  'triggered  Aids  virus',"  dalam  harian   London  Times  11  Mei  1987,   seorang  editor  sains    Pearce  Wright  mengumumkan  bahwa    epidemi    AIDS mungkin disebabkan oleh program  vaksinasi  cacar  World  Health  Organization  (WHO)  di  Negara  Dunia  Ketiga.

Artikel  penting  lain  dalam  koran  Easy  Reader,  4  June  ,  Jon  Rappoport  melaporkan  artikel  dalam  majalah  Times  dan  hasil  wawancara  dengan  Robert  Matthews,  koresponden  majalah    Times.  Menurut  Rappoport, Matthews  menginformasikan  bahwa  WHO  sendiri bagaimanapun  telah  dicurigai  program  vaksinasinya berhubungan  dengan  AIDS.  Konsultan  eksternal  telah  dipekerjakan  untuk  melakukan  kajian  independen  dan  hasilnya  memastikan  vaksin  WHO  sebagai  penyebab  wabah  AIDS  yang  tersebar  dalam  pasien  program  vaksinasinya.

Sangat  disayangkan,  WHO  segera  “mengubur”  laporan  tim  konsultan independen  di atas.    Sikap WHO itu tidak  lantas  membuat  tim  konsultan  putus  asa,  mereka  memasukan  laporannya  ke  majalah  Times  dan  dimuat. Kisah  yang  mengejutkan  ini  berhasil  menunjukkan  sebuah alur hubungan : “T eori vaksin cacar akan memulai  cerita  di  Afrika  T engah  sebagai  negara  yang  paling  dirugikan di Afrika, sebagaimana Brazil di  Amerika Latin  dan  bagaimana  Haiti  menjadi  rute  penyebaran  AIDS  ke  Amerika  Serikat.  Brazil,  satu-satunya  negara  di Amerika  selatan  yang  memperoleh  kampanye  vaksinasi  cacar,  menunjukkan  angka  tertinggi  kasus  AIDS  diwilayahnya.”
Rappoport  memastikan  bahwa  "vaksin  yang terbuat  dari  bagian  jaringan  lunak  hewan,  berisi    ‘ekstra’ virus  berbahaya." 

Laporan  kasus  lainnya  diperoleh  dari  militer AS,  personel  baru  AD  AS  secara  rutin  diberikan  vaksin  anti  berbagai  penyakit.  Salah  satunya  vaksin  cacar,  sebagai  antisipasi  bilamana  musuh  menggunakan  virus  cacar sebagai senjata biologi dalam perang. Fakta mengejutkan  lalu  muncul, seorang  kadet militer berusia 19 tahun  yang  sepenuhnya  sehat,  dalam  tubuhnya  berkembang  virus  AIDS  setelah  mendapat  vaksinasi.  Kadet  malang  itu dibawah ke    Walter Reed  Army Medical Center,  dan wafat  di  sana.

Dalam sebuah  artikel  yang  dimuat  New England  Journal  of  Medicine,    tim  medis  Walter  Reed  Army  Medical  Center  melaporkan  temuan  adanya  hubungan  antara  vaksinasi  dan  stimulasi  penyakit   AIDS.  Mereka pun  memperingatkan    rencana    WHO  untuk  menggunakan  vaksin  cacar  yang  telah  dimodifikasi  untuk  memerangi  wabah  penyakit  lainnya  di  negara-negara  berkembang.

Akhirnya  program  vaksinasi  WHO  yang  telah  berjalan  hampir  13  tahun  diakhiri  pada  tahun  1980.  Program tersebut  dipuji karena telah  menyelamatkan dua  juta  jiwa  setiap  tahun  dan  mencegah  15  juta  lainnya  terinfeksi. Jelas pujian ini tidak mempertimbangkan kasus pencemaran vaksin cacar dengan virus AIDS seperti yang  terjadi  di  Afrika  T engah,  Brazil  dan  Haiti.

Dalam  sebuah  pertemuan  50  pakar  dunia  di  Genewa  bulan  Mei    1987,  diketahui  bahwa  jutaan  kasus  baru  AIDS akan melanda wilayah  Afrika Tenggara. Pakar pakar tersebut percaya, hingga 75 juta penduduk di  Afrika  Tenggara - atau sekitar sepertiga populasi,    akan terinfeksi  AIDS  dalam  lima  tahun  mendatang.



Virus Baru, Senjata Baru


Virus   AIDS    yang  dilepaskan  tim  Special Virus  Program diketahui mampu hidup   di luar tubuh hingga 15  hari.  Bahkan,  virus  AIDS  sangat  tidak  stabil,  selalu  bermutasi dan berubah bentuk. Dengan kata lain  :  "highly  adaptable , "   ter us   menye s ua ikan   diri   deng an lingkungannya  dengan  rata-rata  jutaan  kali  lebih  cepat  dari adaptasi  virus biasa yang stabil.  Sifat ini  berimplikasi pada  kemampuan virus mutan ini  adaptasi dalam tubuh  nyamuk  macan di  Asia dan masuk ke dalam tubuh  manusia melalui  gigitannya.
Nyamuk  macan  asia  tampaknya  dimanfaatkan  sebagai  salah  satu  pengangkut  virus  untuk  secepatnya  meningkatkan  jumlah  infeksi  AIDS  dan  memusnahkan  populasi  penduduk  Amerika  dan  dunia.

Data  terakhir  dari  Alabama  menunjukkan  kasus penyakit ini terus berlipat ganda setiap enam bulan, bukan  per  tahun.  T ermasuk  interval  waktu  penggandaan  sendiri  mengalami  pemendekan,  seperti  yang  terlihat  sekarang.  Jika  data  ini  merupakan  indikasi  sesungguhnya,  dunia  benar-benar  akan  menghadapi  ledakan  wabah  infeksi  AIDS   tidak  kurang  dari  dua  atau  tiga  tahun  lagi.

Sebagai tambahan, dikarenakan virus AIDS tidak  stabil  dan  selalu  bermutasi  dengan  cepat,  menyebabkan  pengembangan  vaksin  yang  efektif  jadi  mustahil.  Para pakar  biomedis  akan  selalu  menghadapi  data-data  baru,  tentang  virus  yang  selalu  berubah,  mereka  nyaris  tidak memiliki  apa-apa  sebagai  bekal  untuk  memproduksi  vaksin  AIDS.  Intinya,  AIDS  tidak  dapat  dihentikan.
Bahkan,  baru-baru  ini  diketahui  bahwa  virus  AIDS  jauh  lebih  rumit  dari  yang  dibayangkan,  dan  menyerang  dalam  lebih  banyak  cara  dari  yang  dibayangkan.  Ia  terus  mengalami   per ubahan   dalam   tub uhnya   yang meningkatkan  keganasannya  seiring  perkembangan penyakit.

Macrophages ,  sel   sistem   immun yang Virus  Baru,  Senjata  Baru memakan bakteri  dan  virus  jahat  pun  turut  terinfeksi  dan  mengangkut  virus  AIDS  kepada  sel-sel  tubuh  lainnya.

Tampaknya, macrophages telah  membawa virus AIDS ke  sel  T ,  memulai  kondisi  penghancuran  sistem  kekebalan  tubuh.  Macrophages  yang  terinfeksi  ditemukan  materil  rektum pasien AIDS, cairan cervic, dan air mani. Dengan  material-material  itulah,  seseorang  dapat  menularkan  AIDS  ke  sesamanya.
Sel   sistem  kekebal an  lainnya  seper ti  sel Langerhans,  turut  dicurigai  menjadi  pengangkut  virus  AIDS bilamana ia  terinfeksi.  Hasil akhirnya adalah, ketika  pasien  AIDS  semakin  sakit,  keganasan  virus  AIDS  meningkat dan menyerang sejumlah besar varian sel yang  dengan  mudah  diinfeksi  olehnya.




 Deadly Truth






Kebenaran  yang  mematikan,  karena  National  Cancer  Institute  (NCI-Frederick)  beserta    37  lembaga  mitra bergabung di  Fort Detrick,kira-kira   20 menit dari  Bethesda,  Maryland.  Fort  Detrick  adalah  markas  bagi  United  States  Army  Medical  Research  and  Materiel  Command   ( I S A M R M C ) . Dimana   missi   utamanya   menc akup   riset  da n  p engembangan   biomedis ,   dimana   virus  AI DS dikembangkan,  bukan  berasal  dari  monyet  seperti  yang  selama  ini  difahami.

Dalam artikel    di  OnlineJournal.com tahun  2005  yang  berjudul  “  The  AIDS  virus:  Made  in  the  USA?”, Jerry  Mazza    melaporkan  bahwa  "Dr .  Robert  Strecker  mengindikasikan   bahwa   virus     A I D S faktanya  dikembangkan  oleh    National  Cancer  Institute, yang   bekerja   sama   dengan World  Health  Organization  (WHO),  dalam  sebuah  laboratorium   diFt.  Detrick,  Maryland. Sejak  1970-74,  lab  ini  adalah  bagian  dari  unit  senjata  kuman  militer  AS,  dikenal  dengan  : the  Army Infectious  Disease Unit, atau Special Operations  division ,  atau    the  Army's  Chemical  and  Biological  Warfare  Laboratory .

Pasca  1974,  fasilitas  itu  berganti  nama  jadi  National Cancer  Institute  (NCI).  Menurut peneliti  William  Cooper  (mantan  pejabat  intelijen  AL  AS),  yang  dikutip  dalam  artikel  Larry  Jamison  :  “Is  The  AIDS  Virus  Man  Made  ?,”  Proyek  dalam  NCI  di  bawah  pengawasan  CIA dengan  sandi  proyek  MK-NAOMI.  Dr  Boyd  Grave  menerangkan  sandi  proyek  CIA,  “MK-NAOMI  adalah  sandi  bagi  pengembangan  AIDS.  Istilah  “MK”  adalah  sandi  bagi  dua  co-author  virus  AIDS,  yaitu  Robert  Manaker  dan  Paul Kotin.    “NAOMI”  sendiri  berarti  “Negroes Are  Only  Momentary  Individuals.”
Dr  Strecker pun  telah  melacak beberapa identitas  peneliti  dan  proyek  risetnya  di  Ft.  Detrick/NCI  hingga  menemukan  adanya  sekelompok  ilmuwan  Jepang  yang  tertangkap  pada  akhir  Perang Dunia II,  mereka diberikan  amnesti  sebagai  imbalan  atas  informasi  dan  data  riset  senjata  biologis  yang  mereka  berikan  pada  militer  AS.  Termasuk adanya fakta  dan data sejumlah  ilmuwan  RusiaSoviet  terlibat  dalam  proyek  ini.





Tim  ilmuwan  yang  menciptakan  virus  AIDS  ini  dipimpin  oleh  Dr.  Robert  Gallo,  yang  kemudian mengklaim telah  menemukan virus tersebut.  Dr.  Gallo dan  timnya   telah   menciptakan   virus   AI DS   dengan mengkombinasikan  virus  leukemia  sapi  dan  virus  visna yang  biasa  menyerang  kambing  di  Jerman,  kemudian  disuntikkan  ke  dalam  kultur  jaringan  lunak  manusia.

“Tim  AIDS  menemukan  bahwa  virus  leukemia  sapi  sangat  mematikan  pada  hewan  tersebut,  tetapi  tidak  pada  manusia.  Begitupun  virus  visna  mematikan  bagi  kambing,  tetapi  tidak  bagi  manusia. Bagaimanapun, ketika  digabungkan,  mereka  memproduksi  sebuah  retrovirus  yang  mampu  merubah  komposisi  genetik  sel  yang  dimasuki.  Bahkan,  uji  coba  lapangan  awal  terhadap  narapidana  menghasilkan  sakit  yang  parah  dan  berujung  kematian.  Fakta  itu  menginsipirasi Dr.  Gallo dan  tim  untuk  menciptakan  virus  yang  lebih  hebat  dan  mengerikan,  termasuk  mereka  tega  menginjeksi  saudara  laki-laki  dan  perempuannya  sebagai  kelinci  percobaan  vaksin  yang  tercemar ,  untuk  melihat  siapa  yang  meninggal  duluan.

Sejumlah  uji  coba  dilakukan  untuk  mempelajari  HLA (human leukocyte  antigen) dan melihat bagaimana obyek  tes  bereaksi.  Menakutkan,  seluruh  keluarga  sakit  seketika  ! Dr.  Strecker  menyatakan,  “Cara  kerja  retrovirus  AIDS  dengan  menghancurkan  sistem  immun,  yang fundamental  diserang  adalah  sel  darah  putih  (T -cells).  AZT ,  obat  yang  mirip  junk  food    dan  membuat  virus  AIDS  semakin  lapar ,  beberapa  kali  membunuh  pasien.”




Informasi  lain  yang  cukup  valid  dinyatakan  oleh  Dr.  Alan  Cantwell  dalam  artikelnya  “The  Man-Made  Origin of AIDS,” yang dimuat dalam Rense.com 11 April  2004 :  “Visna  virus dipindahkan ke dalam babi, lembu  dan  sel  manusia  menyebabkan  infeksi  produktif  sebelum  munculnya  HIV  dimana-mana.”

Alant  Cantwell,  dokter  yang  telah  menulis  dua  buku  menghebohkan tentang  AIDS, yaitu  :  “AIDS  and  The  Doctors of  Death, an  Inquiry  Into  The  Origins of  The  AIDS  Epidemic” dan “Queer Blood, The Secret  AIDS Genocide  Plot,”  menyatakan  “Saya  yakin,  berdasarkan  16  tahun  investigasi  bahwa  HIV  adalah  senjata  strategis  yang  didesain  untuk  membunuh  milyaran  manusia  dalam  kekejaman  yang  perlahan  dan  tak  terungkap.  Modus  penyebarannya  dilakuan  dengan  dua  proyek  vaksinasi  berbeda ). Program vaksinasi cacar di Afrika oleh WHO akhir 1960, b). Program vaksinasi hepatitis-B di Amerika Serikat  pada  pertengahan  dan  akhir  1970.

“Lebih    dari itu,”  lanjut  Cantwell, “jelaslah  bahwa  kontaminasi  vaksin  bukanlah  kecelakaan.  Itu  dilakukan  dengan tujuan ‘menyusutkan gembala,’  cara berpikir yang  mirip  NAZI  yang  secara  rahasia  berperan  dibalik  kebijakan  pengaturan  populasi  sejak  1870.  Kebijakan  politik  yang  sama  meliputi WHO dan  rata-rata  riset  medis Barat abad  20. Dan sikap politik rasis ini masih tetap mencengkram :  etnis non kulit putih, termasuk kaum gay kulit putih sudah  merugikan  proses  evolusi  ras  manusia.


Bisnis Virus Dan Persediaan Darah

Jauh sejak awal mula AIDS, ilmuwan pemerintah  mengklaim virus    HIV  benihnya  dari  virus  primata,  baik  simpanse  maupun  monyet  di  hutan  Afrika.  Dari  primata  itulah  dipercaya  virus  HIV  mengkontaminasi  populasi  kulit  hitam  Afrika.

Bertahun-tahun  kemudian,  dipelajari  adanya hubungan  antara  eksperimen  vaksin  hepatitis  B  di  pusat  penyimpanan  darah  New Y ork  (New Y ork  Blood Center) dengan  labroratorium  eksperimen  primata  di  Afrika.  Tahun  1974,  Albert  Prince,  kepala  virus  lab  NY  Blood  Center mendirikan  lab  riset  virus  simpanse  (VILAB)  di  Afrika  sekaligus duduk sebagai direkturnya. Simpanse-simpanse  ditangkap dari berbagai daerah di  Afrika Barat dan dibawa  ke  VILAB.   Setelah  mengalami eksperimentasi,  simpansesimpanse  tersebut  dilepaskan  kembali  ke  habitatnya.

Monyet - mony t   yang  telah  tercemari   ini ,   besar memungkinan  salah  satunya  menggigit  manusia  dan menularkan virus  HIV .  Disinilah lahirnya  “Monkey  bites ntheory .”

Salah satu cabagnya, VILAB II di Liberian Institute for Biomedical  Research  di  Rebertsfield,  Liberia,  telah  mengembangkan  vaksin  hepatitis  B  dalam  simpanse.  Beberapa  tahun  kemudian,  vaksin  itu  disuntikkan  ke  relawan-relawan   gay  di  Blood  Center.

Sangat  berhubungan  dengan  pengembangan vaksin  hepatitis  B,  yaitu  koloni  primata  diluar  kota  New  Y ork yang disebut LEMSIP (Laboratory for Experimental  Medicine  and  Surgery).  Hingga  dibubarkan  pada  tahun  1997,  LEMSIP    mensuplai ilmuwan-ilmuwan  di  wilayah  New York dengan primata dan organ tubuhnya untuk riset  transplantasi  dan  virus.

Didirikan tahun 1965, LEMSIP berafiliasi dengan  New  Y ork  University  Medical  Center,  dimana  kasus pertama  AIDS  ditemukan  tahun  1979.  menurut  Leonar  Horowitz  penulis  buku  “Emerging  Viruses  :  AIDS  and  Ebola,” peneliti di NYU Medical Center juga terlibat jauh  proyek pengembangan vaksin hepatitis B yang digunakan  komunitas gay ,    lembaga  itu  pun menerima bantuan dana  dan  kontrak  dengan  riset  senjata  biologis  sejak  tahun  1969.


Genocide Plot

Mengejutkan, ada selebriti kulit hitam seperti Bill  Cosby,  Grace  Jones  dan  Will  Smith  yang  menyatakan  bahwa  AIDS  adalah  penyakit  buatan  manusia.  Meski  kemudian  media  segera  berganti  topik  wawancaranya.

Seorang  pembuat  film  Rolling  Stone,  Spike  Lee  (kulit  hitam)  memprediksi  bahwa  akan  ada  banyak  manusia yang  menginginkan penjelasan  soal AIDS suatu  hari nanti. Bagaimana bisa suatu penyakit misterius dan tak  tersembuhkan  muncul dan  membidik sasaran  spesifik  :  gay  dan  minoritas  ? Lee berpikir penyakit misterius itu adalah agenda  genocide  tersembunyi.  Dia  meyakinkan  bahwa  AIDS  adalah  penyakit  ciptaan  pemerintah.

Apakah  Lee  seorang  paranoid  ?  Dia  berteriak  :  “Anda  mungkin berpikir  saya  gila  tentang  hal  ini.  T etapi  saya  yakin  tidak  !”

Berdasarkan  statistik  terakhir  yang  diposting  di  internet,  sekitar  20  juta  jiwa  di  seluruh  dunia  telah  meninggal karena AIDS;    40  juta  lainnya  terinfeksi  HIV ,  rata-rata  dari  wilayah  sub  Sahara  Afrika;  dan    600.000  warga  Amerika  telah  wafat.

Mayoritas  angka  korban  HIV -AIDS  diderita kalangan  kulit hitam,  memunc ulkan pandangan pembersihan  etnis  negro  di  dunia.  Sebuah  editorial  New  Y ork  Times  berjudul “The  ‘AIDS  Plot’   Against Blacks” 12  Mei  1992,    menekankan  bahwa  “ganjil  bagi  mayoritas  orang, banyak warga kulit hitam Amerika percaya bahwa  AIDS  dan  seluruh  perangkat  kesehatan  digunakan melawan  mereka  sebagai  bagian  dari  persekongkolan  untuk  membersihkan  ras  kulit  hitam.”

Dalam komuniats gay , sebuah laporan tahun 1986  menunjukkan 20%  pria  yang  menjalani eksperimen  vaksin  hepatitis  B   terinfeksi  HIV  pada  akhir  tahun  1981  dan  1984.  Lebih  dari  40%  dari  pria  positif  HIV  itu  kemudian  tewas. Studi  berikutnya  menunjukkan sekitar  8.906  pria  homoseks  yang  mendonorkan darahnya  dalam  eksperimen  hepatitis  di  Manhattan,  menunjukkan  statistik  bahwa  tingkat  kematian  pria  homoseks  usia  25-44  mulai meningkat  pada  era  1980-an    dengan    AIDS  sebagai  penyebabnya. Menakjubkan, tingkat kematian pada tahun  1988,  24  kali  lebih  tinggi  dari  angka  kematian  saat permulaan  epidemi  AIDS.

Takdir  120  pria  gay  yang  mengikuti  tes  vaksin  hepatitis  B  di  Manhattan  berada  ditangan  para  dokter .  Jelaslah,  58  pemuda  gay  telah  tewas,  93%  karena  AIDS.
Kontaminasi HIV  melalui ujicoba vaksin hepatitis  B  di  Manhattan  era  1970-an,  adalah  sebuah  upaya  sadar  untuk  melikuidasi  komunitas  gay  lalu  menyalahkan  perilaku  homoseks  sebagai  sebab  penyebaran  penyakit  AIDS  pada  populasi  penduduk.

Gugatan  lainnya  berkenaan  dengan AIDS  terjadi  pada 14 Maret 2008, dimana warga  Amerika dibuat geram  oleh  video  klip  membakar  dari  berbagai  ceramah Reverrend  Jeremiah  Wright.

Pemirsa  TV  melihat  sang  pendeta  berkata “Pemerintah  AS  menciptakan  AIDS  demi  program pembersihan  etnis  kaum  kulit  hitam.”  Wright  pun  berteriak  “God  damn  Amerikca!” Sebagai  penasehat  spiritual  Barack  Obama, retorika  Wright  berpotensi  membahayakan  kampanye  pencalonan  Obama  dalam  pilpres  2008  lalu.  Wright,  melayani sebagai  pastor  di  Trinity  United Church  Chicago,  dimana  Obama  sebagai  salah  satu  jemaahnya.  Kali  itu,  dengan  cepat  Obama  menjaga  jarak  dari  Wright,  meski  menolak  mengadukannya.

Media-media    Amerika,  seperti  biasa,  menuduh  Wright  sebagai  seorang  pengkhayal  yang  berlebihan.  Ini  mengabaikan  fakta  adanya hasil   polling yang menunjukkan  ras  Afro-Amerika  percaya  AIDS  adalah  buatan  manusia dan  upaya  membersihkan etnis  non  kulit  putih  dan  kalangan  tak  normal  (gay/lesbi).

Meski, acara-acara ceramahnya diblokade media media Amerika,  banyak  ilmuwan  dan  peneliti  kulit  putih  yang mendukung   serta setuju dengan pandangan Wright.  Termasuk  diantaranya  Alan  Cantwell,  Jerry  Mazza (onlinejurnal.com),  Dr.  Strecker  dan  banyak  lagi,  yang  telah  banyak  meneliti  dan  menulis  tentang  AIDS  selama  lebih  dari  dua  dekade.

Dalam  sebuah  berita  di  Reuters  18  Desember  2004,  partai  berkuasa  di  Afrika  Selatan  menuduh  para  pejabat tinggi  di AS memperlakukan orang Afrika seperti  “tikus-tikus”  di  tengah  berbagai  pertanyaan  tentang  eksperimen  vaksin  AIDS  yang  dilakukan  AS  di  Afrika.

Kongres  Nasional  Masyarakat  Afrika  (ANC)  menyebutkan  dalam  web  resminya  bahwa  pejabat kesehatan  AS  telah  “berkonspirasi”  dengan  perusahaan  obat  Jerman  Boehr inger  Ingelhei m  untuk menyembunyikan  efek  merugikan  dari  nevirapine  ketika  diujicobakan  pada  populasi  Afrika  sebagai  vaksin  AIDS  untuk  mencegah  penularan  dari  ibu  pada  anak.

Efek  keras  nevirapine  yang  diujicoba  pada perempuan  hamil  Uganda  mengakibatkan  cacat  dan  konsumsi   dosis  tunggal   nevi rapine  menyebabkan kekebalan  terhadap  obat  yang  sama  dimasa  akan  datang.

HIV -AIDS telah  membunuh hingga 2.2 juta  orang  di Afrika tahun 2003 atau 2/3 dari 38 juta orang penderita  AIDS  di  dunia  hidup  di  sub  Sahara  Afrika,  demikian  menurut PBB.  Afrika   Selatan adalah negara dengan kasus  HIV -AIDS  tertinggi  di  dunia.

Jelaslah ,  AI DS  tidak  lain  adalah  upaya mengurangi populasi dunia. Pada   awalnya sasaran AIDS  sangat  spesifik,  yaitu  kaum  gay  dan  negro.  T etapi  kini,  seiring  merebaknya  free  sex,  narkoba  dan  perilaku  menyimpang  lainnya,  AIDS  menyebar  tanpa  batas  etnis,  geografi,  agama  dan  bahasa.  Siapapun  bisa  terkena,  termasuk  bayi  yang  tak  berdosa.

Secara  tidak  sadar,  para  pemuja  kebebasan  perilaku  -    termasuk  seks  dan    pecandu  telah  menjadi  pemulus jalan  terwujudnya  New World Order/One World  Goverment  yang  dikendalikan  sekte  Freemason  dan  Illuminati.

Sejauh  ini  tidak  ada  obat  yang  efekti f menyembuhkan  AIDS,  tetapi  kita  masih  punya  benteng  kokoh, yaitu : Agama. Berhentilah jadi  pecandu narkoba,  tidak  melakukan  seks  bebas,    praktek  homoseksual  dan  lesbian.  Itu  satu-satunya  menghentikan AIDS  dan  secret  agenda  dibelakangnya.


Sumber: Majalah Online Suara Bawah Tanah


Tidak ada komentar:

Posting Komentar