Kamis, 25 September 2014

Bahaya Doktrin Humanisme Part 3






International Association Rotary Club atau yang biasa disebut hanya Rotary Club saja,  memiliki cabang di lebih dari 170 negara, termasuk Indonesia. Anggotanya disebut Rotarian.  Salah satu sayap gerakan zionis (Freemason) ini merupakan organisasi yang dikelola oleh  para pemimpin bisnis dan profesional yang mewakili semua profesi, baik dokter, notaris,  guru, politikus, dan lain sebagainya. Di Indonesia, sebagian besar anggota perkumpulan ini  merupakan orang-orang keturunan Tionghoa, namun ada juga yang beragama Islam.

Rotary Club begerak di bidang kemanusiaan. Hingga 2005, cabang-cabangnya yang berada  di 170 negara telah berjumlah 32.000 dengan anggota sebanyak 1,2 juta orang.Rotary Club pertama kali hadir di Indonesia pada 1927 di Yogjakarta. Karena merupakan  cabang, semua kegiatan dan peraturan yang berlaku pada Rotary Club Indonesia mengacu  sepenuhnya pada ketentuan yang berlaku di Rotary International yang berkantor pusat di  Amerika. Tak boleh menyimpang sedikit pun.

Aktifitas organisasi berlambang roda bergerigi ini sepenuhnya untuk kepentingan Freemason.  Untuk mempermudah hubungan dengan berbagai sekte, agama, dan golongan, Rotary  berpura-pura membatasi aktivitasnya hanya untuk masalah-masalah sosial dan kultural,  dengan dalih demi kemanusiaan. Cara pencapaian sasarannya melalui pertemuan-pertemuan  berkala, seminar, ceramah yang mengarah pada upaya mendekatkan antaragama dan  menghapus segala perbedaan keagamaan. Ini mirip dengan ceramahnya para pendudung  teologi inklusive, seperti yang digemar-gemborkan kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL).

Tujuan utamanya adalah untuk membaurkan orang-orang Yahudi dengan bangsa lain  dengan mengatasnamakan kasih dan persaudaraan. Melalui jalan ini mereka mampu  mengumpulkan berbagai maklumat yang dapat membantu mereka dalam mencapai tujuan  yang bersifat ekonomis dan politis, juga membantu mereka dalam menyebarkan tradisi  tertentu (Kaballah, humanisme, dan lain-lain) yang akan memastikan timbulnya  kemerosotan (degenerate) sosial. Ini dapat kita lihat melalui persyaratan keanggotaan yang hanya diberikan kepada orang-orang penting dan menonjol di masyarakat.

International Association Lions Club atau yang biasa disebut Lions Club saja, juga  organisasi Freemason yang bergerak di bidang kemanusiaan. Saat ini di Indonesia saja,  organisasi itu memiliki sekitar 20 cabang yang tersebar di 8 provinsi. Ini lah cabang-cabang itu :

1.  Bali Surya Host
2.  Bandung Ceria
3.  Bandung Lestari
4.  Surabaya Mahardhika
5.  Surabaya Srikandi
6.  Surabaya Kharisma
7.  Surabaya Victoria
8.  Surabaya Pelita
9.  Surabaya Nirwana
10.  Surabaya Central
11.  Bojonegoro Host
12.  Kupang Cendana Host
13. Yogyakarta Mataram Pradipta
14. Yogyakarta Puspita Mataram
15.  Jakarta Host
16. Bandung Merdeka
17. Solo Bengawan
18. Surabaya Patria
19. Jakarta Bunga Tanjung
20. Surabaya Padma

Seperti halnya Rotary Club, organisasi ini pun bergerak di bidang kemanusiaan, dan semua  sepak terjang serta kebijakannya mengacu kepada Lions Club pusat. Yang berbahaya, di  balik aktifitasnya di bidang kemanusiaan, organisasi ini juga secara diam-diam mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan masalah-masalah politik dan keagamaan  di negara dimana klub ini berada. Data-data kemudian dikirim ke kantor pusat dan diolah di  sana. Selanjutnya, kantor pusat merancang kegiatan yang harus dilakukan organisasi  selanjutnya, sesuai tujuan yang hendak dicapai.

Dalam aktifitasnya, Lions Club mengumandangkan jargon “Agama untuk Tuhan, Tanah  air untuk semua”, yang mendorong orang berpaling dari Sang Pencipta, dan fokus kepada  diri mereka sendiri (ajaran humanisme). Mereka juga menyerukan ide “ikatan kemanusiaan”  dan menghilangkan diskriminasi antarumat manusia.

Ini lah garis besar aktivitas Lions Club.

1.  Menyerukan  slogan  “Kebebasan,  Persamaan,  dan  Persaudaraan”  (liberte,  egalite,  & fraternite);
2.  Menyebarkan arti kebaikan dan kerjasama antarbangsa;
3.  Membangun  semangat  kerukunan  di  antara  pribadi-pribadi  dengan  cara melonggarakan dan menjauhkan ikatan-ikatan akidah (keyakinan).
4.  Memperhatikan aspek keadilan sosial;
5.  Aktif menyebarkan ilmu pengetahuan dengan berbagai sarana yang memungkinkan;
6.  Menolong orang-orang cacat;
7.  Meringankan beban kejenuhan hidup sehari-hari;
8.  Memberikan pelayanan kepada lingkungan sekitar;
9.  Menyelenggarakan perlombaan-perlombaan yang bersifat hiburan;
10. Mendukung proyek-proyek rehabilitasi sosial;
11. Mendukung proyek-proyek Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB); dan sebagainya.

Untuk  mencapai  sebuah  tujuan,  orang,  lembaga  atau  organisasi  memang  harus  melakukan  berbagai  cara.  Maka,  seperti  juga  cara  pengusaha  beriklan,  siapapun  yang  menyaksikan  tayangan atau membaca iklan itu jangan lah terlalu mudah termakan oleh apa yang digembargemborkan, karena dapat 
merugikan, bahkan menyesatkan.

Dalam  hal  penyebaran  ‘pencekokan’  doktrin  humanisme  yang  dikemas  dengan  misi-misi  kemanusiaan, bila dilihat dari  satu sisi tentu saja ada baiknya karena setidaknya orang yang  sedang  menderita  suatu  penyakit  atau  tertimpa  suatu  musibah,  akan  tertolong.  Namun  dari sisi  lain,  tentu  saja  membahayakan  akidah  dan  keimanan  seseorang.  Apalagi  karena  humanisme  mengarahkan  orang  untuk  melupakan  Tuhan,  menuhankan  manusia,  sehingga  para Mason percaya bahwa moralitas dapat terwujud tanpa agama Pada  situs  internet  milik  Mason,  kemungkinan  “moralitas  tanpa  agama”  dijelaskan  sebagai  berikut:

“Apakah manusia itu? Dari mana ia datang  dan ke mana ia menuju?... Bagaimana seseorang  hidup?  Bagaimana  ia  seharusnya  hidup?  Agama-agama  mencoba  menjawab  aneka  pertanyaan  ini  dengan  bantuan  prinsip-prinsip  moral  yang  mereka  pegang.  Namun  mereka  menghubungkan  prinsip-prinsipnya  dengan  konsep  metafisis  seperti  Tuhan,  surga,  neraka,  ibadah. Dan manusia harus menemukan prinsip-prinsip hidupnya tanpa melibatkan masalahmasalah  metafisis,  yang  harus  mereka  percayai  tanpa  pemahaman.  Freemasonry  telah menyatakan  prinsip-prinsip  ini  selama  berabad-abad  sebagai  kemerdekaan,  kesetaraan,  persaudaraan,  kecintaan  terhadap  kerja  dan  perdamaian,  demokrasi,  dan  seterusnya.  Semua ini membebaskan manusia sepenuhnya dari berbagai kredo agama namun tetap memberikan  sebuah prinsip hidup. Mereka mencari landasan-landasan mereka tidak pada konsep-konsep metafisis tetapi di dalam diri seorang manusia dewasa yang hidup di bumi ini.”

Teori ini jelas menyesatkan. Apalagi karena perjalanan sejarah umat manusia membuktikan  bahwa di dalam masyarakat di mana agama telah dihancurkan, tidak ada moralitas dan hanya  ada perselisihan dan kekacauan.

Pada  1789,  para  Mason  menggerakkan  Revolusi Perancis  dengan  cara  menggaungkan  slogan-slogan  berbau  cita-cita  yang  amat  mulia,  yakni “kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan”. Namun  sejarah  membuktikan,  revolusi  ini  membuat  ratusan  ribu orang yang tak bersalah dipancung dengan pisau  guillotine,  sehingga  negera  itu  berkubang  darah.  Bahkan  orang-orang  yang  didorong  untuk  menjadi  para  pemimpin  revolusi  itu,  ikut  dipancung  satu  per satu.

Pada  abad XIX, para Mason mendorong lahirnya sosialisme  yang bersumber dari  gagasan  tentang  kemungkinan  moralitas  tanpa  agama.  Akibatnya  amat  dahsyat  karena  sosialisme menuntut  sebuah  masyarakat  yang  sama  rata,  adil,  tanpa  eksploitasi  dan  pada  akhirnya  mengajukan penghapusan agama. Pada abad XX, doktrin ini menyeret manusia pada jurang  kesengsaraan  yang  mengerikan  karena  doktrin  ini  memunculkan  rezim  komunis  yang  menguasai Uni Soviet, China, dan beberapa negara di Afrika dan Amerika Tengah. Rezimrezim  ini  membunuh  sedikitnya  120  juta  jiwa  manusia  tak  berdosa,  dan  tak  pernah  ada  keadilan dan kesetaraan di negara-negara itu karena kekayaan dan aset negara yang melimpah hanya  dikuasai  dan  dnikmati  oleh  para  penguasanya.  Dalam  bukunya berjudul  “The  New  Class”,  pemikir  Yugoslavia  Milovan  Djilas  menjelaskan  bahwa  para  pemimpin  komunis,  yang  dikenal  sebagai  “nomenklatur”  membentuk  sebuah  “golongan  dengan  hak-hak  istimewa” yang bertentangan dengan klaim-klaim sosialisme.

Saat  ini,  meski  Masonry  selalu  mendengung-dengungkan  tentang  kemanusiaan,  kita  tidak  menemukan catatan yang terlalu bersih. Di banyak negara, Masonry telah menjadi fokus bagi  hubungan demi perolehan kebendaan secara buruk. Dalam skandal Loge Masonik P2 di Italia  pada  1980,  terungkap  bahwa  para  Mason  menjalin  hubungan  erat  dengan  mafia,  dan  para  direktur  loge  (markas  para  Mason)  terlibat  dalam  aktivitas  seperti  penyelundupan  senjata, perdagangan obat terlarang, atau pencucian uang. Juga terungkap bahwa mereka merancang  penyerangan terhadap saingan-saingan mereka dan orang-orang yang mengkhianati mereka.

Dalam “Skandal Loge Timur Raya” di Prancis pada 1992 dan pada operasi “Tangan Bersih”  di  Inggris  yang  diberitakan  media  Inggris  pada  1995,  diketahui  kalau  aktivitas-aktivitas  di  loge  Masonik  kebanyakan  bertujuan  untuk  melegalkan  keuntungan  yang  didapat  secara ilegal.  Doktrin  kaum  Mason  tentang  “moralitas  humanis”  hanyalah  siasat  untuk  mencapai  suatu tujuan yang digagas sejak bangsa Yahudi terusir dari tanah Palestina; yakni menguasai  dunia dan menciptakan tatanan dunia baru sesuai apa yang dikehendakinya..

Dengan data dan fakta yang begitu banyak terbeberkan, sulit  dipungkiri  bahwa  doktrin  humanisme  yang  dikembangkan  kaum  Humanist  Italia  dan  kemudian  dimanfaatkan  Freemasonry sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan,  sangat  bertolak  belakang  dengan  pola  fikir  manusia  yang mengimani  Tuhan  Pencipta  Alam  Semesta  dan  beramal  saleh untuk menggapai ridha-Nya.

Bagi  para  Mason  dan  Humanist,  segala  sesuatu  harus dilakukan  semata-mata  demi  kemanusiaan.  Nukilan  dari  sebuah  buku  terbitan  komunitas  Turki  di  bawah  ini  akan  kian  memperjelas  bagaimana  pola  fikir  orang-orang  ini.  Begini nukilannya:

“Moralitas  Masonik  didasarkan  atas  cinta  terhadap  kemanusiaan.  Ia  sepenuhnya  menolak kebajikan  karena  harapan  di  masa  depan,  suatu  ganjaran,  suatu  pahala,  dan  surga,  karena ketakutan terhadap orang lain, suatu lembaga agama atau politik, kekuatan supranatural  yang tidak diketahui… Ia hanya mendukung dan memuliakan kebaikan yang berhubungan dengan  cinta  terhadap  keluarga,  negara,  umat  manusia,  dan  kemanusiaan.  Inilah  salah  satu  sasaran  terpenting  dari  evolusi  Masonik.  Mencintai  manusia  dan  berbuat  baik  tanpa  menghar apkan  balasan dan mencapai tingkat ini adalah evolusi besar.”

Klaim-klaim  pada  kutipan  di  atas  sangat  menyesatkan.  Tanpa  disiplin  moral  agama  tidak  akan  ada  rasa  pengorbanan  kepada  masyarakat.  Dan,  di  mana  hal  ini  tampaknya  terwujud,  hubungan lebih bersifat hanya di permukaan belaka. Mereka yang tidak memiliki moralitas  agama,  tidak  takut  ataupun  menghormati  Tuhan,  dan  di  mana  tidak  hadir  rasa  takut  akan  Tuhan, manusia hanya memedulikan tujuan-tujuan mereka sendiri. Tak peduli bagaimanapun  caranya karena tak ada rambu-rambu yang membatasi. Semua halal untuk dilakukan.

Tatkala manusia merasa kepentingan pribadinya terancam, mereka tidak dapat menunjukkan  cinta  sejati,  kesetiaan,  ataupun  kasih  sayang.  Mereka  menunjukkan  cinta  dan  rasa  hormat  hanya terhadap siapa yang membawa keuntungan bagi diri mereka. Hal ini karena, menurut  pemahaman mereka yang keliru, mereka hanya ada di dunia satu kali, dan karenanya, akan  mengambil sebanyak-banyaknya. Lagi pula, menurut keyakinan keliru ini, tidak ada balasan bagi kecurangan maupun kejahatan yang mereka lakukan di dunia, karena tak ada surga atau  neraka setelah kehidupan berakhir.

Literatur Masonik penuh dengan upacara moral yang berupaya menutupi fakta ini. Namun  sebenarnya, moralitas yang tanpa agama ini tidak lebih  dari retorika pura-pura. Fakta sejarah  telah  banyak  mencontohkan  bahwa  tanpa  disiplin  diri  yang  diberikan  agama  atas  jiwa  manusia, dan tanpa hukum Tuhan, moralitas sejati tidak dapat dibangun dengan cara apa pun juga.

Dalam Al Quran surah Al Hasyr ayat 9,  Allah menjelaskan tentang pengorbanan diri orang  yang  beriman,  Dia  memerintahkan“...Dan  siapa  yang  dipelihara  dari  kekikiran  dirinya,  mereka itulah orang-orang yang beruntung. Inilah landasan sejati bagi moralitas.

Sedang  dalam  surat  Al  Furqan  ayat  63-73,  Allah  menjelaskan  ciri-ciri  moralitas  orang  mukmin sejati. Dia berfirman;

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang  yang berjalan di  atas  bumi  dengan  rendah  hati  dan  apabila  orang-orang  jahil  menyapa  mereka,  mereka  mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan  berdiri untuk Tuhan mereka. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab  Jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.

Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.

Dan  orang-orang  yang  apabila  membelanjakan  (harta),  mereka  tidak  berlebih-lebihan,  dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) ditengah-tengah antara yang demikian.

Dan  orang-orang  yang  tidak  menyembah  Tuhan  yang  lain  beserta  Allah  dan  tidak  membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar,  dan  tidak  berzina,  barangsiapa  yang  melakukan  demikian  itu,  niscaya  dia  mendapat  (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan  dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang  yang bertaubat,  beriman  dan  mengerjakan  amal  saleh;  maka  kejahatan  mereka  diganti  Allah  dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan orang  yang bertaubat dan mengerjakan  amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat  kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.

Dan  orang-orang  yang  tidak  memberikan  persaksian  palsu,  dan  apabila  mereka  bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka  lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.

 Dan  orang-orang  yang  apabila  diberi  peringatan  dengan  ayat-ayat  Tuhan  mereka,  mereka  tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta".

Jadi,  sebaik-baiknya  manusia  adalah  mereka  yang  mau,  rela  dan  ikhlas  beribadah  kepada  Allah dengan merendah, dan tidak berpaling dari-Nya, atau seolah buta dan tuli, sehingga tak  dapat melihat dan mendengar karunia dan tanda-tanda keberadaan dan kebesaran-Nya.


Karenanya, sebelum Anda menelan mentah-mentah atau mengikuti sebuah doktrin, pahami  dan kenali lah dahulu doktrin itu. Di dunia ini terlalu banyak kamuflase yang membungkus  kepalsuan  dan  kebusukan,  sehingga  meski  kemasannya  sangat  bagus,  indah  dan  mewah,  isinya  belum  tentu  seperti  itu.  Jika  sekali  saja  Anda  terjerumus,  Anda  mungkin  akan  sulit  untuk  keluar  lagi.  Bahkan  bisa  saja  Anda  telah  menjadi  ateis  sebelum  Anda  sendiri  menyadarinya. (Tamat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar