Kamis, 25 September 2014

Bahaya Humanisme Part 2

sekarang kita masuk ke part 2 tentang bahaya Humanisme......





Pesan  menarik  namun  kosong  yang  diciptakan  oleh  para  ideolog  humanis telah  disampaikan  kepada  massa  secara  bertubi-tubi.  Lagu  "Imagine"  karya  John  Lennon,  penyanyi  solo  dari  grup  musik  paling  terkenal  sepanjang  masa,  the  Beatles,  adalah   contohnya.  Dengan  lirik  "Bayangkan  tiada  agama,"  merupakan  salah  satu  propagandis  terdepan dari filsafat humanis di abad ke dua puluh. Berikut terjemahan lirik lagu "Imagine";
\
Bayangkan tiada surga
Mudah jika kau coba
Tiada neraka di bawah kita
Di atas kita hanya angkasa
Bayangkan semua manusia
Hidup untuk hari ini saja...
Bayangkan tiada negara
Tak sukar untuk dilakukan
Tak perlu membunuh atau terbunuh
Dan juga tiada agama…
Mungkin kau sebut aku pemimpi
Tetapi aku bukan satu-satunya
Kuharap suatu hari kau bergabung dengan kami

Dan dunia akan menjadi satu


Lagu ini terpilih sebagai "lagu abad ini" dalam beberapa jajak pendapat yang diselenggarakan di  tahun  1999.  Ini  merupakan  indikasi  paling  tepat  tentang  perasaan  sentimental  yang  digunakan  untuk  menyampaikan  humanisme  kepada  massa,  karena  kurangnya  landasan  ilmiah  atau  rasional  humanisme.  Humanisme  tidak  dapat  menghasilkan  keberatan  rasional  terhadap agama ataupun kebenaran yang diajarkannya, tetapi berusaha menggunakan metode  sugestif semacam ini.
Demi  satu  tujuan,  jika  plan  A  gagal,  maka  plan  B  harus  dilaksanakan. Maka begitu lah; ketika janji-janji yang diumbar  Manifesto  Humanis  I  pada  1933  terbukti  gagal,  empat  puluh  tahun kemudian (1973) para humanis mengajukan konsep kedua  (Manifesto Humanis II).

Pada  awal  teks  ini  ada  upaya  untuk  menjelaskan  mengapa  janji-janji  pertama  tidak  membuahkan  hasil.  Walaupun  ada  fakta  bahwa  penjelasan  ini  sangat  lemah,  ini  menunjukkan  keterikatan abadi 
humanisme terhadap filsafat ateis mereka.


Karakteristik paling jelas dari manifesto tersebut adalah mempertahankan garis antiagama pada  Manifesto  Humanis  I.  Seperti  halnya  manifesto  1933,  kaum  humanis  tetap  percaya  bahwa  teisme  tradisional  adalah  keimanan  yang  tak  terbukti  dan  sudah  ketinggalan  zaman, khususnya  keimanan  akan  Tuhan  yang  mendengarkan  doa,  yang  dianggap  hidup  dan memerhatikan  manusia,  mendengar  dan  memahami,  serta  sanggup  mengabulkan  doa-doa  mereka.

“….  Kami  percaya  bahwa  agama-agama  otoriter  atau  dogmatik  yang  tradisional,yang  menempatkan wahyu, Tuhan, ritus, atau kredo di atas kebutuhan dan    pengalaman manusia  merugikan spesies manusia…. Sebagai orang yang tidak bertuhan, kami mengawali dengan  manusia bukannya Tuhan, alam bukannya ketuhanan ….” ini lah salah satu pernyataan dalam  Manisfesto Humanis II.

Pernyataan ini jelas mengandung pemikiran yang dangkal. Alih-alih menjadi sebuah doktrin  yang  dapat  dipercaya,  humanisme  ternyata  tidak  lebih  dari  upaya  sekumpulan  orang  yang  sejak  awal  adalah  ateis  dan  antiagama,  serta  menganggap  konsep  pemikiran  mereka  benar  dan  masuk  akal.  Bertolak  belakang  dengan  janji-janji  filsafat  humanis,  ateisme  hanya  membawa perang, konflik, kekejaman, dan penderitaan bagi dunia.

Namun, upaya kaum humanis untuk menggambarkan keimanan kepada Tuhan dan agama agama  monoteistik  sebagai  kredo  yang  tidak  berdasar  dan  ketinggalan  zaman,  sebenarnya bukan hal baru. Sebab, doktrin ini hanya memperbarui sebuah klaim berusia ribuan tahun dari  mereka  yang mengingkari Tuhan. Di dalam Al Quran, Allah menjelaskan argumen seumur  dunia yang dikemukakan oleh orang-orang kafir.

“Tuhan  kamu  adalah  Tuhan  Yang  Maha  Esa.  Maka  orang-orang  yang  tidak  beriman    kepada  akhirat,  hati  mereka  mengingkari  (keesaan  Allah),  sedangkan  mereka  sendiri  adalah  orang-orang  yang  sombong.  Tidak  diragukan  lagi  bahwa  sesungguhnya  Allah  mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan.     Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Dan apabila     dikatakan kepada mereka:  "Apakah  yang  telah  diturunkan  Tuhanmu?"  Mereka      menjawab:  "Dongeng-dongengan  orang-orang dahulu. (QS. An-Nahl, 16: 22-24).

Ayat  ini  mengungkapkan  bahwa  penyebab  sebenarnya  dari  penolakan  orang-orang  kafir  terhadap agama adalah kesombongan yang tersembunyi di dalam hati mereka. Filsafat yang  disebut  humanisme  hanyalah  tampakan  lahiriah  belaka  dari  tindakan  manusia  dalam  mengingkari keberadaan Tuhan. Dengan kata lain, humanisme bukanlah cara berpikir  yang  baru, sebagaimana mereka yang mendukung klaimnya. Ia sudah ada sejak zaman nabi-nabi  dahulu. Bahkan sebelumnya.

Jika  kita  mencermati  perkembangan  humanisme  di  dalam  sejarah  Eropa,  kita  akan  menemukan banyak bukti nyata tentang hal ini. Sebelumnya disebutkan bahwa penyebar doktrin humanisme  adalah sebuah kelompok yang menolak  keberadaan  Tuhan  alias  ateisme,  yang  sengaja  menyebarkan  doktrin  ini  untuk  mewujudkan  sebuah  Tatanan  Dunia  Baru  yang  dapat  dikendalikan  dan  dikuasai,  yakni  bangsa  Yahudi  dengan  organisasi  Freemansonry-nya.  Penelitian  yang  dilakukan  membuktikan, bahwa  ajaran humanisme bersumber dari Kabbalah, sebuah  doktrin yang  berasal dari Mesir Kuno dan dianut oleh sebagian bangsa Yahudi, termasuk para Mason.


Doktrin humanisme ditengarai mulai merambah Eropa sekitar  abad 15 - 16 melalui para Ksatria Templar yang menjadi cikal  bakal berdirinya Freemasonry Adanya hubungan antara humanisme dengan Kabbalah ditegaskan berbagai sumber. Salah satunya adalah buku berjudul  The Keys of This Blood karangan Malachi Martin, seorang  profesor sejarah pada Lembaga Injil Kepausan Vatikan. Ia  mengungkapkan bahwa pengaruh Kabbalah dapat dengan jelas  teramati di antara para kaum humanis.

Pada abad 15, saat Italia sedang dalam pengaruh kuat ajaran  Kristen Katolik, muncul sebuah jaringan persekutuan yang bercita-cita melepaskan diri dari  kondisi yang dianggap mapan tersebut. Kemunculan jaringan ini beserta aksi-aksinya kita  kenal dengan zaman Renaisans (Renaissance), sebuah era dimana kebudayaan RomawiYunani yang menempatkan manusia sebagai subjek utama, dibangkitkan kembali. Kelompok  ini memberontak terhadap penafsiran tradisional tentang Injil sebagaimana dipertahankan  oleh otoritas gerejawi dan sipil, serta menentang pilar-pilar filosofis dan teologis yang  dikeluarkan oleh gereja bagi kehidupan sipil dan politis. Dengan sikap yang bertentangan,  bahkan cenderung memusuhi gereja, kelompok ini memunyai konsepsi sendiri tentang pesan  orisinil dari Injil dan wahyu Tuhan, yang disandarkan pada ajaran Kabbalah yang jelas  bertentangan dengan Injil.

Namun, kaum humanis Italia ini cukup cerdik untuk menyembunyikan dasar pemikiran dan  filosofi mereka dengan menyingkirkan beberapa bagian dari gagasan Kabbalah, dan  merekonstruksi konsep gnosis dengan kondisi terkini pada saat itu. Namun demikian, tetap  saja gnosis yang mereka cari adalah suatu pengetahuan rahasia tentang bagaimana menguasai  kekuatan alam yang buta untuk tujuan sosiopolitis. Pendeknya, masyarakat humanis yang  terbentuk pada masa itu ingin menggantikan budaya Katolik Eropa dengan sebuah budaya  baru yang berakar pada Kabbalah. Mereka bermaksud menciptakan perubahan sosiopolitis untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan, yakni menciptakan tatanan dunia baru dimana  mereka lah penguasanya.

Dalam bukunya, Martin menulis begini sebagai bukti bahwa doktrin humanis bersumber dari Kaballah:
“Para calon anggota persekutuan humanis awal ini adalah pengikut Kuasa Agung Arsitek   Kosmos yang Agung yang mereka representasikan dalam bentuk Tetragrammaton Sakral,  YHWH…. (kaum humanis) meminjam lambang-lambang lain Piramid dan Mata Yang  Melihat Segalanya terutama dari sumber-sumber Mesir”.


Indikasi bahwa Mason berada di balik doktrin humanis adalah,  kaum humanis menggunakan konsep “Arsitek Agung Alam  Semesta” , dan konsep ini juga digunakan oleh kaum Mason  hingga saat ini. Soal adanya hubungan antara para Mason dengan  kaum Humanis, dalam bukunya Martin menulis begini:
“Sementara itu, di daerah utara lainnya, berlangsung sebuah  persatuan yang jauh lebih penting dengan para humanis. Sebuah  persatuan yang tak diduga siapa pun ….”

Yang dimaksud Martin sebuah persatuan yang tak diduga tersebut adalah Freemasonry yang  hingga kini pun masih dianggap sebagai sebuah persekutuan atau organisasi persaudaraan kaum Yahudi yang sangat rahasia. Kaum Humanis Italia yang nota bene Yahudi dan anggota  Freemasonry yang juga Yahudi, kemudian menyatu untuk mencapai tujuan yang sama;  mendirikan negara sendiri yang kini dikenal dengan nama Israel, dan menguasai dunia dengan membentuk tatanan dunia baru.


Gabungan  kaum  Humanis  dan  Fremasonry  menjadi  sebuah  kelompok  yang  demikian  efektif, karena di saat salah satu ‘bermain’ di  bidang filsafat, yang lain bermain di bidangbidang  yang  lain,  terutama  ekonomi  dan  politik.  Maka,  gabungan  ini  menjadi  sangat  berbahaya  karena  memiliki  tujuan  yang  sama  dan  satu,  yakni  menguasai  dunia  dengan  memperdaya penduduknya melalui bidang filsafat, ekonomi, politik, budaya, dan lain-lain.

Untuk mendapatkan definisi  yang lebih jelas dari  doktrin humanis  yang merusak ini, kita  dapat  meloncat  ke  abad  20  dan  mengamati  literatur  Masonik.  Salah  satu  pengikut  Mason Turki  yang  paling  senior,  Selami  Isindag,  mengarang  buku  berjudul  Masonluktan  Esinlenmeler  (Inspirasi  dari  Freemasonry).  Tujuan  penerbitan  buku  ini  adalah  untuk mendidik pengikut Mason muda terkait kepercayaan Mason terhadap “Arsitek Agung Alam  Semesta”  yang  menjadi  dasar  filsafat  humanis  dan  berakar  dari  Kaballah.

Ia  mengungkapkan: “Masonry bukannya tanpa Tuhan. Namun konsep Tuhan mereka berbeda dari yang ada pada  agama.  Tuhan  Masonry  adalah  sebuah  prinsip  agung.  Ia  berada  pada  puncak  evolusi.  Dengan mengkritisi keberadaan di dalam diri kita, mengenal diri kita, dan secara sengaja  menempuh  jalan  sains,  kecerdasan,  dan  kebajikan,  kita  dapat  mengurangi  sudut  antara  ia  dan diri kita. Kemudian, tuhan ini memiliki ciri-ciri baik dan buruk dari manusia. Ia tidak mewujud sebagai pribadi. Ia tidak dipandang sebagai tuntunan alam atau umat manusia. Ia  adalah  arsitek  dari  karya  agung  alam  semesta,  kesatuan  dan  keselarasannya.  Ia  adalah totalitas dari semua makhluk di alam semesta, sebuah kekuatan total yang mencakup segala  sesuatu,  dan  energi.   Walau  begitu,  tidak  dapat  dianggap  bahwa  ia  adalah  suatu permulaan… ini sebuah misteri besar”.

Dari  buku  ini  jelas  sulit  untuk  dipungkiri  bahkan  para  Mason  dan  juga  Humanis, mendewakan alam, bukan Tuhan, sebagai “Arsitek Agung Alam Semesta”. Dengan kata lain,  mereka  menuhankan  alam  dan  seisinya,  termasuk  manusia,  dan  alam  lah  yang  disembah.
Lebih lanjut, dalam bukunya Isindag mengatakan begini; “Selain  alam,  tidak  mungkin  ada  kekuatan  yang  bertanggung  jawab  atas  pikiran  atau tindakan kita…. Prinsip-prinsip dan doktrin-doktrin Masonry adalah fakta-fakta ilmiah yang  berdasarkan kepada sains dan kecerdasan. Tuhan adalah evolusi. Unsurnya adalah kekuatan  alam. Jadi realitas absolut adalah evolusi itu sendiri dan energi yang mencakupnya.”

Majalah Mimar Sinan, sebuah organisasi penerbitan khusus bagi kaum Freemason Turki juga  memberikan pernyataan tentang filsafat Masonik yang sama. Pada salah satu artikel majalah  itu terdapat tulisan begini :
“Arsitek  Agung  Alam  Semesta  adalah  kecenderungan  menuju  keabadian.  Ia  adalah  jalan  masuk ke keabadian. Bagi kami, ia adalah suatu pendekatan.  Ia menuntut pencarian tanpa  henti terhadap kesempurnaan mutlak di keabadian. Ia membuat jarak antara saat sekarang  dan Freemason yang berpikir, atau, kesadaran.”  Inilah kepercayaan yang dimaksudkan para Mason ketika berujar, "kami memercayai Tuhan,  kami  sama  sekali  tidak  menerima  ateis  di  sekitar  kami." 


Bukannya  Tuhan  yang  disembah  para  Mason,  namun  konsep-konsep  naturalis  dan  humanis  semacam  alam,  evolusi,  dan  kemanusiaan yang dituhankan oleh filosofi mereka.

Bergabungnya  kaum  Humanis  dengan  para  Mason  membuat  filsafat  sesat  ini  terorganisir dengan sangat baik untuk diri mereka sendiri dan dunia yang ingin dikuasai. Maka tak heran  jika kemudian muncul  Teori Evolusi  yang dicetuskan Charles Darwin, gerakan humanisme  yang antara lain dimotori oleh organisasi American Humanist Association, dan sebagainya.  Dan  jangan  heran  pula  jika  kini  hak  asasi  manusia  (HAM)  seolah  bagai  ‘firman’  Tuhan  yang harus dijunjung tinggi, sehingga peristiwa sekecil apapun selalu dikait-kaitkan dengan  HAM atau pelanggaran HAM.

Hak asasi  yang dimiliki setiap individu di dunia ini memang harus dihargai dan dihormati,  namun jika seseorang ditindak tegas karena melakukan sesuatu yang dianggap dapat merusak  agama tertentu atau memicu kekisruhan, hal itu bukan lah pelanggaran HAM. Contoh paling  jelas  adalah  pertikaian  antara  umat  Islam  Indonesia  dengan  jamaah  Ahmadiyah.  Ditinjau  dari  sisi  mana  pun,  ajaran  Ahmadiyah  menyimpang  dari  Islam.  Apalagi  karena  jamaah  Ahmadiyah  cenderung  menutup  diri  dari  umat  Islam  yang  lain.  Seharusnya,  jamaah  ini  didorong  untuk  kembali  kepada  ajaran  yang  benar.  Bukan  justru  dilindungi.  Meski, penyerangan  terhadap  jamaah  itu  tak  bisa  dibenarkan  karena  dapat  dikategorikan  sebagai  tindak kriminalitas yang diatur dalam KUHPidana.




Sebagai penganut ‘ajaran yang berbeda’, kaum Humanis dan  Freemason sesungguhnya tak dapat sejalan dengan masyarakat  penganut agama yang memercayai adanya Tuhan, meski mereka  terkesan toleran dan menghargai perbedaan. Apalagi karena  mereka memiliki tujuan yang teramat besar.
Berbagai terbitan internal Mason secara rinci menjelaskan filosofi humanis organisasi ini dan permusuhan mereka  terhadap monoteisme. Tak terhitung banyaknya penjelasan,  penafsiran, kutipan, dan alegori yang diajukan tentang topik ini di dalam terbitan Masonik.

Sebagaimana diungkap pada postingan sebelumnya, humanisme telah memalingkan  wajahnya dari Pencipta umat manusia dan menerima manusia sebagai “bentuk tertinggi dari  keberadaan di alam semesta”. Nyatanya, ini bermakna penyembahan terhadap manusia. Keyakinan tidak rasionil ini, yang diawali dengan kaum humanis pengikut Kabbalah di  abad XIV dan XV, berlanjut hingga hari ini dengan Masonry modern.

Salah satu humanis paling terkenal dari abad XIV adalah Pico Della Mirandola. Karyanya  yang berjudul Conclusiones philosophicae, cablisticae, et theologicae dihujat oleh Paus  Innocent VIII pada 1489 sebagai mengandung pemikiran-pemikiran bidah. Mirandola  menulis bahwa tidak ada yang lebih tinggi di dunia selain kegemilangan manusia. Gereja memandang ini sebagai gagasan bidah dan tidak pelak lagi adalah penyembahan terhadap  manusia. Memang, ini merupakan gagasan bidah karena tidak ada sesuatu pun yang patut dimuliakan selain Allah. Manusia hanyalah ciptaan-Nya. 

Dewasa ini, kaum Mason memroklamirkan pemikiran bidah Mirandola tentang penyembahan  manusia secara jauh lebih terbuka. Misalnya, pada sebuah buku kecil Masonik dikatakan: "Masyarakat-masyarakat primitif dahulu lemah, dan karena kelemahan ini, mereka  menuhankan kekuatan dan fenomena di sekitar mereka. Namun Masonry menuhankan  manusia saja".

Di dalam The Lost Key of Freemasonry, Manly P. Hall menjelaskan bahwa doktrin humanis  Masonik ini berakar dari Mesir Kuno: "Manusia adalah tuhan dalam proses penciptaan, dan sebagaimana di dalam mitos-mitos mistik Mesir, di atas jentera pembuat tembikar, dia  dibentuk. Ketika cahayanya bersinar untuk mengangkat dan melindungi segala sesuatu, dia  menerima mahkota rangkap tiga ketuhanan, dan bergabung dengan rombongan Pemimpin  Mason, yang dengan jubah Biru dan Emas mereka, berupaya untuk menghalau kegelapan  malam dengan cahaya rangkap tiga dari Loge Masonik". Artinya, menurut kepercayaan Masonry, manusia adalah tuhan, namun hanya pemimpin  agung yang mencapai kesempurnaan ketuhanan. Agar menjadi seorang pemimpin agung  adalah dengan menolak sepenuhnya keimanan pada Tuhan dan fakta bahwa manusia adalah  abdi-Nya. Fakta ini secara ringkas disebutkan oleh penulis lain, J.D. Buck, dalam bukunya Mystic Masonry:
"Satu-satunya diri Tuhan yang diterima Freemasonry adalah kemanusiaan sempurna….  Karenanya kemanusiaan adalah satu-satunya tuhan".

Jelaslah bahwa humanis adalah suatu bentuk agama, dan tulisan-tulisan Masonik menegaskan  hal ini. Pada sebuah artikel di majalah Turk Mason (Mason Turki), disebutkan, “Kita selalu  menyatakan bahwa cita-cita tinggi Masonry terletak pada doktrin 'Humanisme'.”

Terbitan Turki lainnya menerangkan bahwa humanisme adalah sebuah agama: "Sama sekali  bukan upacara kering dari dogma-dogma keagamaan, melainkan sebuah agama yang murni.  Dan humanisme kita, ke mana arti hidup mengakar, akan memenuhi kerinduan yang tidak  disadari kaum muda".
Bagaimana kaum Mason dan humanis menjalankan agamanya yang menyimpang ini? Untuk  memahaminya, kita harus mengamati sedikit lebih dekat pada pesan-pesan yang mereka  sebarkan kepada masyarakat. Demi menyebarkan doktrin humanisme, Freemasonry menggunakan beragam cara.

Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan cara-cara yang mengatasnamakan kemanusiaan,  seperti misalnya mendirikan organisasi-organisasi yang bergerak di bidang amal, lingkungan, kemanusiaan, dan sebagainya,  sehingga orang yang tak tahu ‘makhluk’ apa sebenarnya  organisasi itu, dapat terseret dalam kesesatan.

Dari begitu banyak organisasi yang dibentuk Freemason, dua di  antaranya, dan yang paling dikenal adalah International  Association of Rotary Club dan International Association of  Lions Club. LSM World Vision yang berkantor di Jalan Wahid  Hasyim, Jakarta Pusat, juga dicurigai organisasi para Mason, karena logo LSM ini berupa  gambar sebuah mata.



Bersambung....nantikan kelanjutannya di part 3


Tidak ada komentar:

Posting Komentar