Pesan menarik namun
kosong yang diciptakan
oleh para ideolog
humanis telah disampaikan kepada
massa secara bertubi-tubi.
Lagu "Imagine" karya
John Lennon, penyanyi
solo dari grup
musik paling terkenal
sepanjang masa, the
Beatles, adalah contohnya.
Dengan lirik "Bayangkan tiada
agama," merupakan salah
satu propagandis terdepan dari filsafat humanis di abad ke dua
puluh. Berikut terjemahan lirik lagu "Imagine";
\
Bayangkan tiada surga
Mudah jika kau coba
Tiada neraka di bawah
kita
Di atas kita hanya
angkasa
Bayangkan semua
manusia
Hidup untuk hari ini
saja...
Bayangkan tiada negara
Tak sukar untuk
dilakukan
Tak perlu membunuh
atau terbunuh
Dan juga tiada agama…
Mungkin kau sebut aku
pemimpi
Tetapi aku bukan
satu-satunya
Kuharap suatu hari kau
bergabung dengan kami
Dan dunia akan menjadi
satu
Lagu ini terpilih sebagai "lagu abad ini" dalam
beberapa jajak pendapat yang diselenggarakan di
tahun 1999. Ini
merupakan indikasi paling
tepat tentang perasaan
sentimental yang digunakan
untuk menyampaikan humanisme
kepada massa, karena
kurangnya landasan ilmiah
atau rasional humanisme.
Humanisme tidak dapat
menghasilkan keberatan rasional
terhadap agama ataupun kebenaran yang diajarkannya, tetapi berusaha
menggunakan metode sugestif semacam ini.
Demi satu tujuan,
jika plan A
gagal, maka plan
B harus dilaksanakan. Maka begitu lah; ketika
janji-janji yang diumbar Manifesto
Humanis I pada
1933 terbukti gagal,
empat puluh tahun kemudian (1973) para humanis mengajukan
konsep kedua (Manifesto Humanis II).
Pada awal teks
ini ada upaya
untuk menjelaskan mengapa
janji-janji pertama
tidak membuahkan hasil.
Walaupun ada fakta
bahwa penjelasan ini
sangat lemah, ini
menunjukkan keterikatan abadi
humanisme terhadap filsafat ateis mereka.
Karakteristik paling jelas dari manifesto tersebut adalah mempertahankan garis antiagama pada Manifesto
Humanis I. Seperti
halnya manifesto 1933,
kaum humanis tetap
percaya bahwa teisme
tradisional adalah keimanan
yang tak terbukti
dan sudah ketinggalan
zaman, khususnya keimanan akan
Tuhan yang mendengarkan
doa, yang dianggap
hidup dan memerhatikan manusia,
mendengar dan memahami,
serta sanggup mengabulkan
doa-doa mereka.
“…. Kami
percaya bahwa agama-agama
otoriter atau dogmatik
yang tradisional,yang menempatkan wahyu, Tuhan, ritus, atau kredo
di atas kebutuhan dan pengalaman
manusia merugikan spesies manusia….
Sebagai orang yang tidak bertuhan, kami mengawali dengan manusia bukannya Tuhan, alam bukannya
ketuhanan ….” ini lah salah satu pernyataan dalam Manisfesto Humanis II.
Pernyataan ini jelas mengandung pemikiran yang dangkal.
Alih-alih menjadi sebuah doktrin
yang dapat dipercaya,
humanisme ternyata tidak
lebih dari upaya
sekumpulan orang yang
sejak awal adalah
ateis dan antiagama,
serta menganggap konsep
pemikiran mereka benar
dan masuk akal.
Bertolak belakang dengan
janji-janji filsafat humanis, ateisme
hanya membawa perang, konflik,
kekejaman, dan penderitaan bagi dunia.
Namun, upaya kaum humanis untuk menggambarkan keimanan
kepada Tuhan dan agama agama
monoteistik sebagai kredo
yang tidak berdasar
dan ketinggalan zaman,
sebenarnya bukan hal baru. Sebab, doktrin ini hanya memperbarui sebuah
klaim berusia ribuan tahun dari
mereka yang mengingkari Tuhan. Di
dalam Al Quran, Allah menjelaskan argumen seumur dunia yang dikemukakan oleh orang-orang
kafir.
“Tuhan kamu
adalah Tuhan Yang
Maha Esa. Maka
orang-orang yang tidak
beriman kepada akhirat,
hati mereka mengingkari
(keesaan Allah), sedangkan
mereka sendiri adalah
orang-orang yang sombong.
Tidak diragukan lagi
bahwa sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang sombong. Dan apabila
dikatakan kepada mereka:
"Apakah yang telah
diturunkan Tuhanmu?" Mereka
menjawab:
"Dongeng-dongengan
orang-orang dahulu. (QS. An-Nahl, 16: 22-24).
Ayat ini
mengungkapkan bahwa penyebab
sebenarnya dari penolakan
orang-orang kafir terhadap agama adalah kesombongan yang
tersembunyi di dalam hati mereka. Filsafat yang disebut
humanisme hanyalah tampakan
lahiriah belaka dari
tindakan manusia dalam
mengingkari keberadaan Tuhan. Dengan kata lain, humanisme bukanlah cara
berpikir yang baru, sebagaimana mereka yang mendukung
klaimnya. Ia sudah ada sejak zaman nabi-nabi
dahulu. Bahkan sebelumnya.
Jika kita mencermati
perkembangan humanisme di
dalam sejarah Eropa, kita
akan menemukan banyak bukti nyata
tentang hal ini. Sebelumnya disebutkan bahwa penyebar doktrin humanisme
adalah sebuah kelompok yang menolak
keberadaan Tuhan alias ateisme, yang
sengaja menyebarkan doktrin
ini untuk mewujudkan
sebuah Tatanan Dunia
Baru yang dapat
dikendalikan dan dikuasai,
yakni bangsa Yahudi
dengan organisasi Freemansonry-nya. Penelitian
yang dilakukan membuktikan, bahwa ajaran
humanisme bersumber dari Kabbalah, sebuah
doktrin yang berasal dari Mesir
Kuno dan dianut oleh sebagian bangsa Yahudi, termasuk para Mason.
Doktrin humanisme ditengarai mulai merambah Eropa
sekitar abad 15 - 16 melalui para Ksatria Templar yang menjadi
cikal bakal berdirinya Freemasonry Adanya hubungan antara humanisme dengan
Kabbalah ditegaskan berbagai sumber. Salah satunya adalah buku berjudul
The Keys of This Blood karangan Malachi
Martin, seorang profesor sejarah
pada Lembaga Injil Kepausan Vatikan. Ia
mengungkapkan bahwa pengaruh Kabbalah dapat dengan jelas teramati di antara para kaum humanis.
Pada abad 15, saat Italia sedang dalam pengaruh kuat
ajaran Kristen Katolik, muncul sebuah
jaringan persekutuan yang bercita-cita melepaskan diri dari kondisi yang dianggap mapan tersebut.
Kemunculan jaringan ini beserta aksi-aksinya kita kenal dengan zaman Renaisans (Renaissance),
sebuah era dimana kebudayaan RomawiYunani yang menempatkan manusia sebagai
subjek utama, dibangkitkan kembali.
Kelompok ini memberontak terhadap
penafsiran tradisional tentang Injil sebagaimana dipertahankan oleh otoritas gerejawi dan sipil, serta
menentang pilar-pilar filosofis dan
teologis yang dikeluarkan oleh gereja
bagi kehidupan sipil dan politis. Dengan sikap yang bertentangan, bahkan cenderung memusuhi gereja, kelompok
ini memunyai konsepsi sendiri tentang pesan
orisinil dari Injil dan wahyu Tuhan, yang disandarkan pada ajaran Kabbalah yang jelas bertentangan dengan Injil.
Namun, kaum humanis Italia ini cukup cerdik untuk
menyembunyikan dasar pemikiran dan filosofi
mereka dengan menyingkirkan beberapa bagian dari gagasan Kabbalah, dan merekonstruksi
konsep gnosis dengan kondisi terkini pada saat itu. Namun demikian, tetap saja gnosis yang mereka cari adalah suatu
pengetahuan rahasia tentang bagaimana menguasai
kekuatan alam yang buta untuk tujuan sosiopolitis. Pendeknya, masyarakat
humanis yang terbentuk pada masa itu
ingin menggantikan budaya Katolik Eropa dengan sebuah budaya baru yang berakar pada Kabbalah. Mereka
bermaksud menciptakan perubahan sosiopolitis untuk mewujudkan apa yang mereka
inginkan, yakni menciptakan tatanan dunia baru dimana mereka lah penguasanya.
Dalam bukunya, Martin menulis begini sebagai bukti bahwa doktrin
humanis bersumber dari Kaballah:
“Para calon anggota
persekutuan humanis awal ini adalah pengikut Kuasa Agung Arsitek Kosmos yang Agung yang mereka
representasikan dalam bentuk Tetragrammaton Sakral, YHWH…. (kaum humanis) meminjam lambang-lambang
lain Piramid dan Mata Yang Melihat
Segalanya terutama dari sumber-sumber Mesir”.
Indikasi bahwa Mason berada di balik doktrin humanis
adalah, kaum humanis menggunakan konsep “Arsitek Agung Alam Semesta” , dan konsep ini juga digunakan
oleh kaum Mason hingga saat ini. Soal
adanya hubungan antara para Mason dengan
kaum Humanis, dalam bukunya Martin menulis begini:
“Sementara itu, di
daerah utara lainnya, berlangsung sebuah
persatuan yang jauh lebih penting dengan para humanis. Sebuah persatuan yang tak diduga siapa pun ….”
Yang dimaksud Martin sebuah persatuan yang tak diduga tersebut
adalah Freemasonry yang hingga kini pun masih dianggap sebagai sebuah
persekutuan atau organisasi persaudaraan kaum Yahudi yang sangat rahasia. Kaum
Humanis Italia yang nota bene Yahudi dan anggota Freemasonry yang juga Yahudi, kemudian
menyatu untuk mencapai tujuan yang sama;
mendirikan negara sendiri yang kini dikenal dengan nama Israel, dan
menguasai dunia dengan membentuk tatanan dunia baru.
Gabungan kaum
Humanis dan Fremasonry menjadi
sebuah kelompok yang
demikian efektif, karena di saat
salah satu ‘bermain’ di bidang filsafat, yang lain bermain di
bidangbidang yang lain,
terutama ekonomi dan
politik. Maka, gabungan
ini menjadi sangat
berbahaya karena memiliki
tujuan yang sama
dan satu, yakni
menguasai dunia dengan
memperdaya penduduknya melalui bidang filsafat, ekonomi, politik,
budaya, dan lain-lain.
Untuk mendapatkan definisi
yang lebih jelas dari doktrin humanis yang merusak ini, kita dapat
meloncat ke abad
20 dan mengamati
literatur Masonik. Salah
satu pengikut Mason Turki
yang paling senior,
Selami Isindag, mengarang
buku berjudul Masonluktan
Esinlenmeler (Inspirasi dari
Freemasonry). Tujuan penerbitan
buku ini adalah
untuk mendidik pengikut Mason muda terkait kepercayaan Mason terhadap “Arsitek Agung Alam Semesta”
yang menjadi dasar
filsafat humanis dan
berakar dari Kaballah.
Ia mengungkapkan: “Masonry bukannya tanpa Tuhan. Namun konsep Tuhan mereka berbeda dari
yang ada pada agama. Tuhan
Masonry adalah sebuah
prinsip agung. Ia berada pada
puncak evolusi. Dengan mengkritisi keberadaan di dalam diri
kita, mengenal diri kita, dan secara sengaja
menempuh jalan sains,
kecerdasan, dan kebajikan,
kita dapat mengurangi
sudut antara ia dan
diri kita. Kemudian, tuhan ini memiliki ciri-ciri baik dan buruk dari manusia.
Ia tidak mewujud sebagai pribadi. Ia tidak dipandang sebagai tuntunan alam atau
umat manusia. Ia adalah arsitek
dari karya agung
alam semesta, kesatuan
dan keselarasannya. Ia
adalah totalitas dari semua makhluk di alam semesta, sebuah kekuatan
total yang mencakup segala sesuatu, dan
energi. Walau begitu,
tidak dapat dianggap
bahwa ia adalah
suatu permulaan… ini sebuah misteri besar”.
Dari buku ini
jelas sulit untuk
dipungkiri bahkan para
Mason dan juga
Humanis, mendewakan alam, bukan Tuhan, sebagai “Arsitek Agung Alam
Semesta”. Dengan kata lain, mereka menuhankan
alam dan seisinya,
termasuk manusia, dan
alam lah yang
disembah.
Lebih lanjut, dalam bukunya Isindag mengatakan begini; “Selain
alam, tidak mungkin
ada kekuatan yang
bertanggung jawab atas
pikiran atau tindakan kita…. Prinsip-prinsip
dan doktrin-doktrin Masonry adalah fakta-fakta ilmiah yang berdasarkan kepada sains dan kecerdasan.
Tuhan adalah evolusi. Unsurnya adalah kekuatan
alam. Jadi realitas absolut adalah evolusi itu sendiri dan energi yang
mencakupnya.”
Majalah Mimar Sinan, sebuah organisasi penerbitan khusus
bagi kaum Freemason Turki juga
memberikan pernyataan tentang filsafat Masonik yang sama. Pada salah
satu artikel majalah itu terdapat
tulisan begini :
“Arsitek Agung
Alam Semesta adalah
kecenderungan menuju keabadian.
Ia adalah jalan
masuk ke keabadian. Bagi kami, ia adalah suatu pendekatan. Ia menuntut pencarian tanpa henti terhadap kesempurnaan mutlak di
keabadian. Ia membuat jarak antara saat sekarang dan Freemason yang berpikir, atau, kesadaran.” Inilah kepercayaan yang dimaksudkan para
Mason ketika berujar, "kami memercayai Tuhan, kami
sama sekali tidak
menerima ateis di
sekitar kami."
Bukannya Tuhan yang
disembah para Mason,
namun konsep-konsep naturalis dan humanis semacam
alam, evolusi, dan kemanusiaan yang dituhankan oleh filosofi
mereka.
Bergabungnya
kaum Humanis dengan
para Mason membuat
filsafat sesat ini
terorganisir dengan sangat baik untuk diri mereka sendiri dan dunia yang
ingin dikuasai. Maka tak heran jika
kemudian muncul Teori Evolusi yang
dicetuskan Charles Darwin, gerakan
humanisme yang antara lain dimotori oleh
organisasi American Humanist Association,
dan sebagainya. Dan jangan
heran pula jika
kini hak asasi manusia
(HAM) seolah bagai
‘firman’ Tuhan yang harus dijunjung tinggi, sehingga
peristiwa sekecil apapun selalu dikait-kaitkan dengan HAM atau pelanggaran HAM.
Hak asasi yang
dimiliki setiap individu di dunia ini memang harus dihargai dan dihormati, namun jika seseorang ditindak tegas karena
melakukan sesuatu yang dianggap dapat merusak
agama tertentu atau memicu kekisruhan, hal itu bukan lah pelanggaran
HAM. Contoh paling jelas adalah
pertikaian antara umat
Islam Indonesia dengan
jamaah Ahmadiyah. Ditinjau
dari sisi mana
pun, ajaran Ahmadiyah
menyimpang dari Islam.
Apalagi karena jamaah Ahmadiyah
cenderung menutup diri
dari umat Islam
yang lain. Seharusnya,
jamaah ini didorong
untuk kembali kepada
ajaran yang benar.
Bukan justru dilindungi.
Meski, penyerangan terhadap jamaah
itu tak bisa
dibenarkan karena dapat
dikategorikan sebagai tindak kriminalitas yang diatur dalam
KUHPidana.
Sebagai penganut ‘ajaran
yang berbeda’, kaum Humanis dan Freemason sesungguhnya tak dapat sejalan
dengan masyarakat penganut agama yang
memercayai adanya Tuhan, meski mereka
terkesan toleran dan menghargai perbedaan. Apalagi karena mereka memiliki tujuan yang teramat besar.
Berbagai terbitan internal Mason secara rinci menjelaskan filosofi humanis organisasi ini dan
permusuhan mereka terhadap monoteisme. Tak terhitung banyaknya
penjelasan, penafsiran, kutipan, dan
alegori yang diajukan tentang topik ini di dalam terbitan Masonik.
Sebagaimana diungkap pada postingan sebelumnya, humanisme telah memalingkan wajahnya dari Pencipta umat manusia dan
menerima manusia sebagai “bentuk tertinggi dari
keberadaan di alam semesta”. Nyatanya, ini bermakna penyembahan
terhadap manusia. Keyakinan tidak rasionil ini, yang diawali dengan kaum
humanis pengikut Kabbalah di abad XIV dan XV, berlanjut hingga hari ini
dengan Masonry modern.
Salah satu humanis paling terkenal dari abad XIV adalah Pico Della Mirandola. Karyanya yang berjudul Conclusiones philosophicae, cablisticae, et theologicae dihujat
oleh Paus Innocent VIII pada 1489
sebagai mengandung pemikiran-pemikiran
bidah. Mirandola menulis bahwa tidak
ada yang lebih tinggi di dunia selain kegemilangan manusia. Gereja memandang
ini sebagai gagasan bidah dan tidak pelak lagi adalah penyembahan terhadap manusia. Memang, ini merupakan gagasan bidah
karena tidak ada sesuatu pun yang patut dimuliakan selain Allah. Manusia
hanyalah ciptaan-Nya.
Dewasa ini, kaum Mason memroklamirkan pemikiran bidah
Mirandola tentang penyembahan manusia
secara jauh lebih terbuka. Misalnya, pada sebuah buku kecil Masonik dikatakan: "Masyarakat-masyarakat primitif dahulu
lemah, dan karena kelemahan ini, mereka
menuhankan kekuatan dan fenomena di sekitar mereka. Namun Masonry
menuhankan manusia saja".
Di dalam The Lost Key
of Freemasonry, Manly P. Hall menjelaskan bahwa doktrin humanis Masonik
ini berakar dari Mesir Kuno:
"Manusia adalah tuhan dalam proses penciptaan, dan sebagaimana di dalam
mitos-mitos mistik Mesir, di atas jentera pembuat tembikar, dia dibentuk. Ketika cahayanya bersinar untuk
mengangkat dan melindungi segala sesuatu, dia menerima mahkota rangkap tiga ketuhanan, dan
bergabung dengan rombongan Pemimpin Mason,
yang dengan jubah Biru dan Emas mereka, berupaya untuk menghalau kegelapan malam dengan cahaya rangkap tiga dari Loge
Masonik". Artinya, menurut kepercayaan Masonry, manusia adalah tuhan,
namun hanya pemimpin agung yang mencapai
kesempurnaan ketuhanan. Agar menjadi seorang pemimpin agung adalah dengan menolak sepenuhnya keimanan pada
Tuhan dan fakta bahwa manusia adalah abdi-Nya.
Fakta ini secara ringkas disebutkan oleh penulis lain, J.D. Buck, dalam bukunya
Mystic Masonry:
"Satu-satunya
diri Tuhan yang diterima Freemasonry adalah kemanusiaan sempurna…. Karenanya kemanusiaan adalah satu-satunya
tuhan".
Jelaslah bahwa humanis
adalah suatu bentuk agama, dan tulisan-tulisan Masonik menegaskan hal ini. Pada sebuah artikel di majalah Turk Mason (Mason Turki),
disebutkan, “Kita selalu menyatakan bahwa cita-cita tinggi Masonry
terletak pada doktrin 'Humanisme'.”
Terbitan Turki lainnya menerangkan bahwa humanisme adalah sebuah agama: "Sama sekali bukan upacara kering dari dogma-dogma
keagamaan, melainkan sebuah agama yang murni. Dan humanisme kita, ke mana arti hidup mengakar,
akan memenuhi kerinduan yang tidak disadari
kaum muda".
Bagaimana kaum Mason dan humanis menjalankan agamanya yang
menyimpang ini? Untuk memahaminya, kita
harus mengamati sedikit lebih dekat pada pesan-pesan yang mereka sebarkan kepada masyarakat. Demi menyebarkan doktrin humanisme, Freemasonry menggunakan
beragam cara.
Bukan dengan kekerasan, melainkan dengan cara-cara yang
mengatasnamakan kemanusiaan, seperti
misalnya mendirikan organisasi-organisasi yang bergerak di bidang amal,
lingkungan, kemanusiaan, dan sebagainya,
sehingga orang yang tak tahu ‘makhluk’ apa sebenarnya organisasi itu, dapat terseret dalam kesesatan.
Dari begitu banyak organisasi yang dibentuk Freemason, dua di antaranya,
dan yang paling dikenal adalah
International Association of Rotary Club
dan International Association of Lions
Club. LSM World Vision yang berkantor di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, juga dicurigai
organisasi para Mason, karena logo LSM ini berupa gambar sebuah mata.
Bersambung....nantikan kelanjutannya di part 3
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar