Rabu, 24 September 2014

Bahaya Doktrin Humanisme Part 1






Hingga  kini  banyak  orang  yang  memandang  ajaran humanisme  sebagai  sebuah  gagasan  yang  positif  karena mengingatkan  orang  untuk  cinta  kepada  sesama,  memiliki  toleransi,  berperikemanusiaan,  cinta  akan  perdamaian,  dan  persaudaraan.  Akan  tetapi  sesungguhnya  secara  filosofis makna  humanisme  jauh  lebih  signifikan  dari  itu,  karena  humanisme  adalah  cara  berpikir  yang  mengemukakan  konsep  perikemanusiaan  sebagai  fokus  dan  satu-satunya tujuan.  Dengan  kata  lain,  humanisme  mengajak  manusia  berpaling  dari  Tuhan,  dan  hanya  mementingkan  keberadaan  dan  identitasnya  sendiri.  Kamus  umum  mendefinisikan  humanisme  sebagai  "sebuah  sistem  pemikiran  yang  berdasarkan  pada  berbagai  nilai,  karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada  otoritas supernatural mana pun”.

Definisi  paling  jelas  tentang  humanisme  dikemukakan  oleh  salah  seorang  juru  bicara  humanisme  paling  terkemuka  masa  kini,  Corliss  Lamont.  Dalam  bukunya  yang  berjudul  “Philosophy of Humanism”, ia menulis begini;
“  …  Humanisme  meyakini  bahwa  alam  merupakan  jumlah  total  dari  realitas,  bahwa    materi-energi  dan  bukan  pikiran  yang  merupakan  bahan  pembentuk  alam  semesta,  dan  bahwa  entitas  supernatural  sama  sekali  tidak  ada.  Ketidaknyataan  supernatural  ini  pada  tingkat manusia berarti bahwa manusia tidak memiliki jiwa supernatural     dan abadi; dan  pada  tingkat  alam  semesta  sebagai  keseluruhan,  bahwa  kosmos  kita  tidak  memiliki  Tuhan  yang supernatural dan abadi”.

Humanisme  nyaris  identik  dengan  ateisme.  Bahkan  sebagian  orang  menggunakan humanisme  sebagai nama lain bagi ajaran yang tidak mengakui adanya Tuhan tersebut, dan  ini diakui oleh kaum humanis.

Ada dua manifesto penting yang diterbitkan oleh kaum humanis pada abad 20. Yang pertama  dipublikasikan pada 1933 dan ditandatangani oleh sebagian orang penting masa itu. Empat  puluh  tahun  kemudian,  atau  pada  1973,  manifesto  humanis  kedua  dipublikasikan  demi  menegaskan  yang  pertama,  tetapi  berisi  beberapa  tambahan  yang  berhubungan  dengan  berbagai perkembangan yang terjadi pada masa itu. Ribuan pemikir, ilmuwan, penulis, dan  praktisi  media  menandatangani  manifesto  yang  didukung  Asosiasi  Humanis  Amerika  tersebut, sebuah organisasi yang hingga kini masih sangat aktif.



Jika  kita  pelajari  manifesto-manifesto  itu,  kita  akan  menemukan  satu  pondasi  dasar  pada masing-masingnya,  yakni  dogma ateis  yang menyatakan bahwa alam semesta dan manusia  tidak  diciptakan,  tetapi  ada  secara  bebas;  bahwa  manusia  tidak  bertanggung  jawab  kepada  otoritas  lain  apa  pun  selain  dirinya;  dan  bahwa  kepercayaan  kepada  Tuhan  menghambat  perkembangan pribadi dan masyarakat.

Ini lah enam pasal pertama Manifesto Humanis tersebut:

  Pertama:  Humanis  religius  memandang  alam  semesta  ada  dengan  sendirinya  dan  tidak diciptakan.

  Kedua:  Humanisme percaya bahwa manusia adalah bagian dari alam dan bahwa dia  muncul sebagai hasil dari proses yang berkelanjutan.

  Ketiga:  Dengan  memegang  pandangan  hidup  organik,  humanis  menemukan  bahwa dualisme tradisional tentang pikiran dan jasad harus ditolak.

  Keempat:  Humanisme  mengakui  bahwa  budaya  religius  dan  peradaban  manusia,  sebagaimana  digambarkan  dengan  jelas  oleh  antropologi  dan  sejarah,  merupakan  produk  dari  suatu  perkembangan  bertahap  karena  interaksinya  dengan  lingkungan  alam  dan  warisan  sosialnya.  Individu  yang  lahir  di  dalam  suatu  budaya  tertentu  sebagian besar dibentuk oleh budaya tersebut.

  Kelima: Humanisme menyatakan bahwa sifat alam semesta digambarkan oleh sains modern membuat jaminan supernatural atau kosmik apa pun bagi nilai-nilai manusia  tidak dapat diterima…

  Keenam: Kita yakin bahwa waktu telah berlalu bagi  teisme, deisme, modernisme, dan  beberapa macam “pemikiran baru”.



Enam pasal pertama  pada  Manifesto Humanis  secara  gamblang telah menjelaskan doktrin  apakah  humanisme  itu  karena  jelas  sekali  mencerminkan  sebuah  filsafat  umum  yang  berlandaskan  pada  materialisme  dan  ateisme.  Bahkan  dari  pasal  kedua  kita  mendapatkan  jawaban  mengapa  Darwin  menciptakan  Teori  Evolusi  yang  menyatakan  bahwa  manusia  abad modern merupakan hasil evolusi dari kera.

Sulit  dipungkiri  kalau  humanisme  sebenarnya  tak  lebih  dari  gagasan  stereotip  khas  dari kalangan yang mengingkari adanya Tuhan dan memusuhi agama sejati, karena pondasi utama  doktrin  humanisme  adalah  sikap  antiagama  dan  mendewakan  manusia  sebagai  pribadi  yang  lepas  dari  unsur  supernatural.  Bahkan  doktrin  humanisme  dapat  dianggap  sebagai  ekspresi dari sekalangan atau sekelompok orang yang merasa bahwa mereka  takkan dimintai pertanggungjawaban  oleh  siapa  pun  atas  apa  pun  yang  mereka  perbuat.  Ini  merupakan  dasar utama pengingkaran terhadap Tuhan dalam sejarah panjang umat manusia.

 Dalam QS  Al Qiyaamah ayat 36-40, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya sebagai berikut;  
“Apakah  manusia  mengira,  bahwa  ia  akan  dibiarkan  begitu  saja  (tanpa  pertanggungjawaban)?  Bukankah  dia  dahulu  setetes  mani  yang  ditumpahkan  (ke  dalam  rahim),  kemudian  mani  itu  menjadi  segumpal  darah,  lalu  Allah  menciptakannya,  dan  menyempurnakannya,  lalu  Allah  menjadikan  daripadanya  sepasang:  laki-laki  dan  perempuan.  Bukankah  (Allah)  yang  berbuat  demikian      berkuasa  (pula)  menghidupkan orang mati?”
Jika  ditilik  dari  sejarahnya,  bangsa  Yahudi  darimana  organisasi  Freemasonry  berasal,  sebenarnya  mengakui  bahwa  Tuhan  ada.  Namun  karena  watak  sombong,  mereka  mengingkarinya  dan  melakukan  berbagai  cara  untuk  membenarkan  klaim-klaim  tersebut.  Termasuk dengan dalih bahwa klaim itu didukung sains atau ilmu pengetahuan. Pembenaran  ini  pula  lah  yang  kemudian,  antara  lain,  memunculkan  teori  Evolusi  yang  “menghina”  manusia  sebagai  keturunan  monyet.  Sayangnya,  seiring  dengan  berjalannya  waktu,  pembenaran-pembenaran itu terpatahkan satu demi satu. Teori Evolusi kini diabaikan karena  hasil  riset  ilmuwan  membuktikan  bahwa  nenek  moyang  manusia  berasal  dari  Afrika  yang  keturunannya  menyebar  ke  seluruh  penjuru  dunia.

Dalam  Al  Qur’an,  Allah  Subhanahu  wa  Ta'ala  bahkan  tegas  menyebut  bahwa  manusia pertama di Bumi adalah Nabi Adam dan istrinya, Siti Hawa. Ini lah nenek moyang  manusia. Bahkan secara eksplisit Al Qur’an menyebut, dan ini dipertegas oleh para sejarawan  Islam,  bahwa  saat  diusir  dari  Surga,  Allah  Subhanahu  wa  Ta'ala  menurunkan  Adam  dan  Hawa di salah satu kawasan di muka bumi ini.

Premis  pertama  Manifesto  Humanis  yang  menyatakan  bahwa  alam  semesta  ada  dengan  sendirinya  dan  tidak  diciptakan,  yang  dijadikan  dalih  pembenaran  bahwa  Tuhan  tak  ada,  juga  telah  digugurkan  oleh  serangkaian  penemuan  astronomis  yang  membuktikan  bahwa  alam  semesta  bermula  dari  sebuah  ledakan dahsyat yang disebut “Dentuman Besar” sekitar 15-17  miliar  tahun  lalu.  Bahkan  saat  ini  alam  semesta  tengah  berkembang,  ditandai  oleh  munculnya  bintang-bintang  baru  dan  matinya bintang-bintang yang telah berusia tua, dan sebagainya.







Pemikir  ateis,  Anthony  Flew,  mengatakan  begini  atas  temuan  para  astronom  itu.;  “…  karenanya saya mulai mengakui bahwa ateis Stratonisian telah dipermalukan oleh konsensus  kosmologis kontemporer. Karena tampaknya para ahli kosmologi memberikan bukti ilmiah  tentang  apa  yang  oleh  menurut  St.  Thomas  tak  dapat  dibuktikan  secara  filosofis;  yakni  bahwa alam semesta memiliki permulaan….”

Doktrin Humanisme  tak hanya merupakan buah fikiran dari sekelompok orang yang tidak  berpijak  pada  fakta  yang  terbentang  di  jagat  raya,  selain  hanya  fokus  pada  tujuan  yang  hendak  dicapai,  yakni  mengajak  semua  orang  dalam  kesesatan  dan  membentuk  sebuah  komunitas baru yang dapat diatur atau dikuasai; sebuah tatanan dunia baru.

Ajaran  humanisme  yang  lebih  mengedepankan  ‘perikemanusiaan’  namun  mengabaikan  agama  sebagai  benteng  prilaku,  sikap,  gaya  hidup,  dan  cara  berfikir  setiap  orang,  yang  diklaim  dapat  menciptakan  harmonisasi  dalam  kehidupan,  ketenteraman,  dan  kebahagiaan, justru telah menimbulkan dampak mengerikan dalam sejarah kehidupan anak  manusia. Enam tahun setelah Manifesto Humanis  dipublikasikan, Perang Dunia II meletus,  sebuah catatan malapetaka yang dibawa ke dunia oleh ideologi Fasis yang sekuler.

Ideologi humanis lainnya,  Komunisme, mendatangkan kekejaman yang tak terperi. Pertama  terhadap  bangsa  Uni  Soviet,  kemudian  Cina,  Kamboja,  Vietnam,  Korea  Utara,  Kuba,  dan  berbagai negara Afrika dan Amerika Latin.








Keruntuhan argumen humanisme tentang agama  juga telah tampak  pada  lapangan  psikologi.  Mitos  Freudian,  sebuah  batu  pijakan  dari  dogma  ateis  semenjak  awal  abad  kedua  puluh,  telah  digugurkan  oleh  data  empiris.  Patrick  Glynn,  dari  Universitas  George  Washington,  menerangkan  fakta  ini  di  dalam  bukunya  yang  berjudul  God:  The  Evidence,  The  Reconciliation  of  Faith  and  Reason  in  a  Postsecular  World.

Seperempat  abad  terakhir  dari  abad  kedua  puluh  tidaklah  ramah  terhadap  pandangan  psikoanalitik.  Yang  paling  signifikan  adalah  ditemukannya  bahwa  pandangan  Freud  tentang  agama  (belum  lagi  sekumpulan  besar  masalah  lain)  adalah  benar-benar  keliru.  Yang  cukup  ironis,  riset  ilmiah  dalam psikologi selama dua puluh lima tahun terakhir telah menunjukkan bahwa, jauh dari  sebagai penyakit saraf atau sumber dari neuroses sebagaimana dinyatakan Freud dan muridmuridnya, keyakinan agama adalah salah satu kolerasi yang paling konsisten dari kesehatan  mental dan kebahagiaan yang menyeluruh. Kajian demi kajian telah menunjukkan hubungan  kuat antara keyakinan dan praktik agama di satu sisi, dan tingkah laku yang sehat sehubungan  dengan masalah-masalah seperti bunuh diri,  penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang,  perceraian,  depresi,  bahkan  mungkin  mengejutkan,  tingkat  kepuasan  seksual  di  dalam perkawinan, di sisi lain.

Singkatnya,  apa  yang  dianggap  sebagai  pembenaran  ilmiah  di  balik  humanisme  telah terbukti  tidak  sahih  dan  janji-janjinya  gagal.  Namun  demikian,  kaum  humanis  tidak  meninggalkan  filsafat  mereka,  tetapi  malahan  mencoba  untuk  menyebarkannya  ke  seluruh  penjuru  dunia  melalui  metode  propaganda  massa.  Khususnya  pada  periode  pascaperang  terjadilah  propaganda humanis yang intens di lapangan sains, filsafat, musik, kesusasteraan,  seni,  dan  film.  Pesan  menarik  namun  kosong  yang  diciptakan  oleh  para  ideolog  humanis telah  disampaikan  kepada  massa  secara  bertubi-tubi.  Lagu  "Imagine"  karya  John  Lennon,  penyanyi  solo  dari  grup  musik  paling  terkenal  sepanjang  masa,  the  Beatles,  adalah   contohnya.  Dengan  lirik  "Bayangkan  tiada  agama,"  merupakan  salah  satu  propagandis  terdepan dari filsafat humanis di abad ke dua puluh. Berikut terjemahan lirik lagu "Imagine";   


Bayangkan tiada surga
Mudah jika kau coba
Tiada neraka di bawah kita
Di atas kita hanya angkasa
Bayangkan semua manusia
Hidup untuk hari ini saja...
Bayangkan tiada negara
Tak sukar untuk dilakukan
Tak perlu membunuh atau terbunuh
Dan juga tiada agama…
Mungkin kau sebut aku pemimpi
Tetapi aku bukan satu-satunya
Kuharap suatu hari kau bergabung dengan kami
Dan dunia akan menjadi satu


Bersambung dulu ya..... nanti dilanjutkan di part 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar